Melihat Api Bekerja oleh M Aan Mansyur

Dalam pengantarnya untuk buku ini, Sapardi Djoko Damono memberikan penjelasan mengenai hubungan antara sastra, aksara, dan bunyi. Sastra adalah aksara, urusannya dengan mata. Berbeda dengan bunyi yang kita dengar melalui telinga. Tapi puisi dapat membuat kita ‘melihat’ bunyi.

“Aksara ternyata tidak pernah bisa mengubur bunyi: kita cenderung melisankan kembali apa yang sudah kita ubah menjadi ujud visual,” kira-kira begitu menurut Pak Sapardi.

Di buku kumpulan puisi ini, saya merasa dipaksa untuk mendengar dongeng isi kepala Aan Mansyur. Ketika hanya membacanya dengan mata, saya seperti tidak bisa merasakan apa-apa, tapi ketika saya melafalkan aksara membentuk kata, meskipun dengan suara yang lirih, makna itu secara ajaib kemudian baru hangat terasa.

Puisi adalah bunyi, yang mengkristal menjadi aksara dan kata.

Dari semua hal yang dibahas di kumpulan puisi ini, baik yang literal maupun yang berupa simbol, saya paling tertarik dengan penggambaran Bulan, Matahari, dan Langit.

Nama saya yang berarti ‘bulan’ membuat saya merasa memiliki kedekatan personal dengan gambaran bulan di puisi-puisi di buku ini.

Bintang. Ah Bintang, saya selalu kagum dengan bintang. Bahkan saya rasa saya benar-benar mencintai sosok bintang. Bintang selalu mengingatkan saya pada jarak dan waktu. Bintang terlihat indah karena dia berada jauh dari jangkauan kita. Namun ketika ia terlalu dekat, ia akan membakar dan memusnahkan. Pendar cahaya bintang terasa manis dan romantis karena dia setia, terus menyala, merambat mengarungi waktu, bahkan mungkin ketika binarnya tertangkap mata, sang bintang telah mati. Dan bintang, ketika ia mati, dia mengisap. Membuat semestanya merintih karena dipaksa memaknai pahitnya kata ‘tiada’.

Sekarang langit. Sepertinya saya sedang jatuh hati kepada langit. Langit yang tanpa batas dan menyimpan banyak tanya. Langit yang tidak bisa dikekang atau digapai, tapi selalu ada. Langit yang bisa indah berwarna-warni, gelap dan pekat, bahkan menangis meraung-raung. Langit yang dalam puisi ‘Masa Kecil Langit’ ditulis dengan gamblang, “Ia hanya menginginkanmu menunggu. Ia akan pergi tanpa kauminta”.

Kumpulan puisi di buku ini tidak bisa tidak mengundang tafsir. Membuat pembaca menerka-nerka apa yang ada di kepala penulis, sekaligus mengusik apa-apa saja yang mengerak di kepala dan mendebarkan dada pembaca.

Kerumunan Terakhir oleh Okky Madasari

Seperti biasa, karya-karya Okky Madasari selalu berhasil menggelitik kesadaran sosial kita tentang isu-isu yang terjadi di masyarakat. Kali ini tentang kegelisahan terhadap teknologi, identitas, eksistensi dan keberartian seseorang yang hidup di dua dunia, nyata dan maya.

Banyak hal yang akrab dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, namun banyak pula hal asing yang cukup menarik dan mengundang rasa ingin tahu. Orang-orang dengan nama besar di dunia maya, yang hidup di balik topeng yang menutupi identitas aslinya, apa sebenarnya motif di balik keputusan mereka? Pengecutkah? Tukang kibulkah? Atau mungkin malah punya intensi tulus untuk berjuang melalui kata-kata dan menuntut keadilan, seperti Batman atau Superman yang juga menutupi identitas mereka? Walaupun bukan topik yang menyayat-nyayat hati nurani ataupun membuat saya pribadi menjadi geram, namun saya yakin kegelisahan Mbak Okky juga banyak dirasakan oleh orang-orang yang aktif berkerumun di dunia maya negeri ini. Saya sendiri sepertinya terlalu apatis di dunia maya, kurang gaul, terlalu sibuk dengan update-update tentang diri saya dan orang-orang terdekat saya, serta hanya peduli pada hal-hal yang menarik bagi diri saya sendiri.

Terlepas dari tema utama yang ingin disampaikan oleh novel ini, hal yang justru benar-benar menarik perhatian saya dari Kerumunan Terakhir adalah hubungan antara Jayanegara dan ayahnya. Hubungan antara seorang anak lelaki yang membenci ayahnya karena mengkhianati ibu dan keluarganya, namun tidak berdaya karena terbelenggu oleh nama besar sang ayah. Saya merasakan kegelisahan yang kompleks di sini. Saya merasa Mbak Okky berhasil bermain-main dengan ego dan maskulinitas seorang pria muda di sini. Mengingatkan saya pada ulasan mengenai “frustasi sosial” dan “impotensi pemikiran” yang diulas di artikel Rolling Stone Indonesia ini: https://t.co/y8XXRZvkJL

Puncak yang Sekali Saja

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian ketiga (tamat)

Malam ini, untuk mengumpulkan potongan-potongan cerita perjalanan Semeru, perjalanan yang kata Fariz memulai segalanya, saya harus meruntun arsip media sosial media saya hingga 12 bulan lalu. Ingatan saya memang kurang bisa diandalkan.

Baru saja saya mendapatkan koreksi dari Delta, yang dari dulu memang selalu awas terhadap hal-hal yang rinci. Katanya, “Ada catatan yang perlu diluruskan. Untuk bagian pertama, nama Talenta waktu itu belum ada. Talenta baru terbentuk setelah pulang, setelah Fariz menunjukkan sebuah band dangdut yang bernama Talenta 2000. Untuk bagian kedua, si Delta tidak meninggalkan sedikitpun barang di Ranu Kumbolo, karena barang bawaannya sudah sangat efektif dan efisien”. Terima kasih atas koreksinya.

Meskipun seringkali luput akan rincian kejadian, tapi pengalaman menuju Puncak Mahameru, tidak akan dapat saya lupakan. Ini adalah salah satu cobaan terberat dalam hidup saya.

Mendaki gunung berapi aktif yang masih sering memuntahkan gas beracun yang dapat membunuh manusia dengan mudah, kami harus sangat berhati-hati dalam memperkirakan waktu pendakian ke puncak. Puncak Semeru begitu ‘berbahaya’, sehingga kencang terdengar himbauan untuk tidak menjajal puncaknya.

Kami sebenarnya enggan nekat, tapi sebelum bergerak ke Kalimati, kami mendapatkan wejangan dari penjaga di Ranu Kumbolo. Katanya, “Jika sampai tengah malam tidak ada aktivitas alam yang mencurigakan, Puncak Mahameru aman untuk didaki”. Berbekal anjuran itu, kami pun semakin yakin untuk terus mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa ini.

Pukul 11 malam kami sudah mulai dibangunkan. Dinginnya Kalimati yang benar-benar menusuk tulang membuat saya yang semalaman tidur dengan gelisah bersemangat untuk bangun. Lebih baik bergerak dan beraktivitas daripada terkelungkup kedinginan di dalam tenda.

Kami berkumpul dalam rombongan besar kami, meskipun tidak semua orang memutuskan untuk berangkat. Setelah diberi penjelasan singkat dari ketua rombongan dan berdoa bersama, kami siap untuk merayap melawan gelap, memberontak terhadap dinginnya udara malam.

Ini adalah summit attack kedua saya. Yang pertama di Gunung Rinjani. Meskipun berhasil sampai ke Puncak Anjani, saat itu saya benar-benar babak belur. Baru sepertiga perjalanan saya sudah memuntahkan seluruh isi perut saya. Asam lambung saya naik karena kelelahan yang luar biasa.

Berkaca dari pengalaman tersebut, sejujurnya saya sangat takut hari itu. Saya tahu perjalanan akan berat dan Puncak Mahameru terkenal sangat garang, namun entah bagaimana, tidak sedikitpun saya merasa ragu. Saya benar-benar takut, namun sama sekali tidak ragu, seolah tidak ada pilihan lain selain maju dan menjajal Puncak Mahameru.

Menemukan ritme yang pas dan memanaskan tubuh yang sempat kaku karena kedinginan membuat langkah awal pendakian kami terasa berat. Jika terlalu lelah, gigi graham saya selalu sakit dan ngilu, nafas saya memburu, dan keringat dingin saya membanjir. Namun karena jalur sangat ramai dan padat, mental saya terkuatkan. Semua mengalami hal yang sama.

Selain menyiksa fisik, summit attack Semeru juga merupakan pertempuran mental. Pendakian terjal sejauh 976 meter seringkali membuat para pendaki menyerah di tengah jalan. Di perjalanan kami ini pun kami menjumpai banyak pendaki yang mundur, bahkan yang menyebalkannya berusaha menjatuhkan mental pendaki lain untuk ikut menyerah bersama mereka. Malam itu saya memang sangat lelah, namun entah bagaiman tidak ada sedikitpun niatan untuk mundur dan kembali ke tenda.

Setelah lewat batas vegetasi, mental saya menciut. Terlihat kelap-kelip lampu para pendaki yang sudah mengular hingga nyaris ke puncak. Semakin terlihat tingginya puncak gundul Semeru dari bawah. Sempat terbersit di kepala, “Bagaimana cara bisa sampai ke puncak sana? Tinggi sekali!”

Awal pendakian Puncak Gundul Semeru teramat sangat berat. Para pendaki diharuskan untuk merayap menggapai kerikil-kerikil dengan konsekuensi tenarnya, ‘dua-satu’, dua langkah naik, satu langkah turun. Terus seperti itu. Kepanikan mulai menjalari tubuh saya. “Begini terus sampai atas? Mau sampai puncak jam berapa? Apakah saya mampu?”

Meskipun takut dan sempat meragukan kemampuan diri, namun saya terus merayap, masih seolah-olah tidak ada pilihan lain untuk mundur dan kembali.

Tidak berapa lama, siksaan kerikil ini tiba-tiba berakhir. Tiba-tiba ada jalur mengular yang membuat para pendaki bisa berdiri tegak kembali. Sepertinya jalur ini memang sengaja dibuat untuk memudahkan para pendaki. Terpujilah bagi manusia-manusia mulia yang membuat jalur ini. Tidak hanya memudahkan, tapi jalur ini benar-benar memberikan kekuatan mental kepada para pendaki yang mungkin nyaris menyerah dan putus asa.

Tahun lalu, kami memilih mendaki Semeru di waktu yang benar-benar favorit. Seperti musim haji, sepertinya semua pendaki berbondong-bondong menjajal gunung tertinggi di Pulau Jawa ini secara bersamaan. Alhasil, terjadi kemacetan yang sangat panjang menuju puncak. Antrian manusia, di tanjakan terjal penuh kerikil, pasir, dan batu-batu.

Berdiri menunggu, di tengah malam yang dingin, beberapa kali saya sempat tertidur tanpa sengaja. Lelah dan ngantuk, kombinasi yang sangat pas. Kesal karena harus menunggu lama, lucunya, para pendaki yang di bawah bukannya marah-marah, malah memberi semangat pada pendaki yang melambat karena kelelahan di atas. “Ayo semangat, lebih cepat lagi! Pasti bisa!”

3d0bc1bb-b104-408c-ab18-16fd94fec300.jpg

Begitu kerucut puncak semakin ramping, dan jalur buatan berliku harus habis, para pendaki harus kembali merayap. Berbeda dengan summit attack Rinjani di mana langkah saya terasa begitu berat, dan saya harus bertumpu di tangan porter, pendakian menuju Puncak Semeru ini terasa jauh lebih menguatkan. Badan saya tetap lelah, sedikit-sedikit saya berhenti untuk beristirahat, namun langkah saya mantap. Tetap merayap maju, meskipun stamina sudah kedodoran dan nafas sudah putus-putus.

29c706a8-d074-48b9-99a6-0d57e5666d3b

1f115310-04bb-46f3-b3b4-bd941f38fbe7

Kesimpulan saya, summit attack itu lebih banyak faktor mental dibanding fisik. Saya rasa semua orang di titik ini sudah kehabisan tenaga, sudah kepayahan secara fisik, yang membedakan adalah apa yang ada di kepala. Jika perang antara keyakinan melawan keraguan berhasil dimenangkan oleh keyakinan, maka langkah-langkah yang berat ini akan tetap mantap. Tidak menjadi lebih ringan, tapi bisa terdorong untuk terus bergerak.

Fitri dan Kaca bergerak dengan pasti di depan saya, memberikan suntikan semangat dan motivasi. Saya tinggal memijak bekas pijakan mereka, dan saya akan baik-baik saja. Mas Basuki, Jangier, dan Delta terkadang berpapasan di sekitar saya, namun datang dan hilang. Adit dan Dhini mendapat kendala berat, membuat langkah mereka harus terhenti dan kembali ke tenda. Kris, entahlah, saya tidak berhasil melihatnya, sepertinya sudah jauh di depan sana. Terakhir, Fariz, sepertinya tempo kita tidak jauh berbeda, sepertiga rayapan terakhir saya berjalan bersamanya.

21cbd99b-d3b7-4098-88fe-aff480447079

Sepanjang jalan saya mendengar Fariz komat-kamit, seperti berdzikir. Saya mencoba mendengarkan dengan lebih seksama. Ternyata Fariz mengucapkan mantra, “This too shall pass!” sebuah kalimat sederhana, yang kemudian sering kami pergunakan untuk saling menguatkan di pendakian-pendakian kami selanjutnya.

Delapan jam mendaki, merayap, merangkak, dan akrobat gaya bebas, akhirnya kami sampai di Puncak Mahameru. LELAH LUAR BIASA. Senang dan antusias masih belum muncul, masih kalah telak dengan kelelahan yang luar biasa. Saya hanya bisa tergeletak di Puncak, mengumpulkan energi yang menguap nyaris tanpa sisa.

9c64c269-0b0e-471e-9941-8ca44e3912cd.jpg

Baru setelah dua puluh menit, saya bisa bangkit, dan mulai tersadarkan akan keindahan luar biasa yang membayar lunas semua perjalanan penuh peluh dan rasa sakit. Berdiri di kelilingi awan, seperti menyentuh langit biru. Ini sensasi yang dicari. Perasaan takjub dan terpukau seperti inilah yang membuat gunung selalu membuat rindu.

Kami menghabiskan waktu dengan berkeliling, mengagumi atap pulau Jawa ini, dan mengabadikannya dengan foto-foto yang akan menjadi kenangan berharga.

f5c6ec5b-b8fb-4df9-a12c-dc2aece99811

Meskipun rasanya luar biasa ketika kaki dan tubuh ini menyentuh puncak, tapi rasanya kami tidak sanggup untuk mengulanginya. Kami sepakat bahwa, Mahameru adalah puncak yang sekali saja seumur hidup. Tidak perlu diulang. Ini puncak yang keterlaluan.

*

Semeru adalah pengalaman yang luar biasa. Pendakian ini adalah momentum berharga yang menjadi awal dari segalanya.

Satu hal yang begitu saya suka dari mendaki adalah proses keterhubungan antara para pendakinya. Orang-orang yang tadinya belum saling mengenal bisa mendadak jadi akrab, seperti kakak adik yang bertemu kembali setelah lama terpisahkan. Seperti sahabat yang sudah lama saling merindukan.

Sepanjang perjalanan naik dan turun, saya belajar dan menyerap banyak hal. Saya mendapatkan teman dan sahabat baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Saya mengenal lebih dalam karakter teman dan sahabat saya yang mungkin saya pikir sudah saya pahami sebelumnya. Saya mendapat segudang cerita yang begitu berharga, yang pastinya akan terus saya ulang hingga ke anak cucu saya. Dan yang terpenting, saya belajar untuk semakin mengenal dan yakin pada diri saya.

Sampai detik ini, Talenta yang lahir dari perjalanan Semeru di tahun lalu masih tetap ada. Meskipun tidak lengkap selalu bersama, tetapi dalam setahun ini kami sudah melakukan ekspedisi-ekspedisi lanjutan yang tidak kalah seru dan penuh cerita. Tidak hanya gunung, kami juga mencoba mengeksplorasi pantai, taman, air terjun, bahkan konser musik di berbagai kota.

84d3483a-f46f-41d1-a600-876004dc60f8

Genap setahun Semeru kita, jangan biarkan rindu ini menggantung terlalu lama. Ayo, Kerinci kita!

[Tamat]

Halo, Semeru!

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian kedua

Tepat pukul 15.15 kereta kami berangkat. Bergerak menjauhi Stasiun Pasar Senen. Meninggalkan Mas Basuki yang pastinya kesal dan kecewa. Meskipun sering mengomel karena metode transportasi di negeri ini sering terlambat dan tidak tepat waktu, namun kali ini ada rasa sesal, mengapa ketika butuh waktu, kereta ini berangkat dengan sangat tepat waktu.

“Mas Basuki nggak bisa naik!” seru saya.

Teman-teman yang sudah berada lebih dahulu di dalam kereta menatap dengan iba, tapi tidak berdaya, tidak tahu apa yang bisa diperbuat.

Saya kembali gelisah, tapi kali ini bukan panik, tapi lebih banyak dipenuhi oleh rasa bersalah.

Saya dan Kaca mulai saling melontar ide, bagaimana cara menebus kesalahan kami. Meminta Haru mengantar Mas Basuki ke Stasiun Gambir, mungkin ada tiket yang batal. Atau Stasiun Bekasi, atau mungkin Stasiun Cirebon. Tapi sebenarnya kita tahu kalau ide itu tidak mungkin, karena kami berangkat di waktu yang cukup ramai. Tiket kereta sudah lama habis. Terakhir, kami mencoba mengecek tiket pesawat terbang, dan ADA! Masih ada tiket perjalanan dari Halim Perdana Kusuma ke Malang. Mas Basuki bisa berangkat!

Saya pun menelpon Mas Basuki, “Mas Bas, naik pesawat saja ya! Ini masih ada tiket ke Malang, berangkat besok subuh. Sampainya tidak terlalu jauh jaraknya sama kereta kita”.

“Nggak usah, Na! Saya pulang saja,” tolak Mas Basuki. Mungkin masih kesal dan kecewa.

“Jangan dong, Mas. Aku sama Kaca nggak enak banget. Kita pesenin sekarang ya tiketnya!” saya merayu, tidak ingin mendaki Semeru dengan perasaan bersalah.

“Nggak usah, Na!” Mas Basuki kembali menolak.

Upaya rayu merayu seperti ini terus berlangsung kurang lebih satu jam, di mana saya sempat merayu lewat Haru, Kaca ikut merayu Mas Basuki, sampai mungkin karena muak dengan kami yang terus memaksa, Mas Basuki sempat memutus sambungan telepon tanpa permisi saat kami masih sibuk merayu dan memaksa.

Setelah kurang lebih satu jam, mungkin karena tahu kami tidak akan menyerah sebelum keinginan kami terwujud, akhirnya Mas Basuki pasrah, dan bersedia pergi ke Malang dengan menggunakan pesawat terbang besok subuh. Kami lega. Kami bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah.

Di perjalanan berangkat, setelah lepas dari drama ketinggalan kereta, rombongan kami cenderung diam. Saya teringat wajah-wajah canggung Fariz, Delta, dan Jangier di kursi belakang yang masih belum saling mengenal. Sementara saya, Fitri, dan Kaca sibuk membagi-bagi logistik ke dalam kresek-kresek putih, seperti jatah sembako.

5e773c92-a17d-4cd4-9784-6bae6ef4b795

Tidak banyak yang saya ingat dari perjalanan kereta keberangkatan kami. Hanya potongan-potongan tak beraturan. Saya ingat berdiskusi panjang dengan Kaca tentang proposal “Kartini Modern” yang akan kami kirimkan dengan harapan dapat mendapat bantuan dana untuk membiayai organisasi non-for-profit yang sedang kami rintis. Saya juga teringat Fariz yang sibuk membuat flowchart di atas entah secarik kertas atau selembar tisu. Saya teringat tas Delta yang fenomenal karena begitu kecil, kami menyebutnya Black Hole. Kurang lebih itu. Ingatan saya memang kurang bagus, apalagi terhadap hal-hal yang rinci.

Setibanya di Stasiun Malang, saya teringat mendapatkan pesan singkat dari Mas Basuki, “Saya sudah sampai. Sedang bergerak menuju meeting point, di seberang stasiun”.

Saya lega bukan main.

Kami, dengan tas-tas besar kami siap bertemu rombongan besar kami, dan memulai perjalanan pendakian kami.

b1752a95-2c0a-4643-85ab-63079ee3e4e5

Rombongan besar kami dipimpin oleh pemuda-pemuda dari komunitas Si Hijau dari Bogor. Ketuanya bernama Mas Teguh, berbadan ramping, seperti layaknya pendaki-pendaki pada umumnya. Ia dibantu beberapa rekannya. Selain rombongan kami, ada beberapa rombongan lain, ada sekelompok ibu-ibu dari Surabaya, sepasang ayah dan anak, dan rombongan muda-mudi lainnya. Total ada 30 orang dalam rombongan besar kami.

Setelah berkumpul dan diberi pengarahan di seberang stasiun, kami mulai perjalanan dengan angkot yang telah disewa. Tas-tas besar kami diikat di atas angkot, dan kami duduk berdesakan dengan riang di dalamnya. Kami semua tersenyum senang, begitu antusias ingin segera memulai pendakian kami.

1a8629c3-feee-4b02-b154-b0ab05b03ce6

Kami tiba di Pasar Tumpang. Kami harus berganti mobil, karena jalanan akan mulai terjal dan berliku. Angkot tidak akan sanggup menjalani rute tersebut. Kami memanfaatkan pemberhentian ini untuk belanja air minum dan keperluan logistik yang belum lengkap. Kami juga memanfaatkan peristirahatan pertama ini untuk buang air ‘secara layak’ untuk terakhir kalinya sebelum pendakian dimulai.

Persinggahan yang harusnya singkat, ternyata harus kami jalani lebih lama. Siang itu hujan deras mengguyur. Kami tidak bisa segera bergerak. Kami harus menunggu di bawah terpal selama kurang lebih 4 jam, sampai hujan benar-benar reda. Ketua rombongan kami akhirnya harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan, “Sepertinya kita harus melakukan pendakian malam”.

Pendakian malam, saya belum pernah melakukannya. Sebagai pendaki pemula, sebelumnya saya selalu mendaki di siang hari, dengan hanya membawa daypack, dan selalu dituntun oleh porter. Kabar ini sedikit membuat saya berdebar. Saya harus melakukan pendakian tanpa porter, dengan membawa carrier saya sendiri, dan di malam hari. Apakah saya bisa? Saya melihat Kaca, Fitri, Dhini, dan teman-teman saya yang lain. Saya juga melihat anggota rombongan yang lain. Kalau mereka bisa, saya juga pasti bisa. Saya pun menanamkan sugesti di kepala saya, bahwa saya akan baik-baik saja.

Sembari menunggu hujan reda, kami mengisi waktu dengan berbincang-bincang. Saya ingat saya dan Fitri mengungkit-ungkit kemampuan Fariz untuk melihat setan dan makhluk halus yang kami ketahui ketika kuliah dulu. Fariz kemudian mengatakan bahwa Delta juga memiliki potensi yang sama, namun belum terasah. Kami juga saling berbagi cerita tentang suka-duka pengalaman mendaki kami yang sebelumnya. Bagaimana Dhini pernah terjebak badai pasir di Gunung Dempo, bagaimana Mas Basuki pernah kehabisan air di Gunung Rinjani, dan lain sebagainya. Meskipun tidak berjalan sesuai jadwal dan kemudian mengharuskan kami mulai mendaki di malam hari, namun menunggu hujan reda ini berbuah cukup manis. Rombongan kecil kami menjadi lebih akrab, bahkan sebelum pendakian dimulai.

Setelah hujan reda, kami harus mulai bergerak menaiki mobil jeep, bersiap memulai perjalanan berliku kami menuju Ranu Pane, titik awal pendakian kami. Kami naik mobil jeep berwarna kuning. Delta dan Mas Basuki duduk di depan, di samping supir yang sangar tapi baik hati. Saya, Fitri, Kaca, Dhini, Kris dan Fariz, berimpitan di kursi belakang, berpegangan sedemikian rupa, berusaha menahan mual karena jalan yang berkelok-kelok. Jangier dan Adit harus duduk di atap, menantang angin dan menerobos ranting-ranting yang melintang.

4134b0e2-9a5d-4dca-bbdd-27ae213f0fb4

ab93dcc7-b36d-4aac-8836-687174857783

Dari perjalanan di mobil jeep kuning ini kami akhirnya tahu kalau Adit adalah seorang psikolog dan mungkin pengalaman menghabiskan waktu berdua di atap mobil dengan Jangier akan sangat bermanfaat mengingat yang kami tahu, teman kami yang bernama Jangier ini sangat identik dengan kondisi emosional bernama ‘galau’.

Hari sudah mulai gelap ketika kami tiba di Ranu Pane. Jalan tanah setapak yang akan kami lalui juga becek, sisa hujan deras yang baru saja mengguyur. Agaknya pendakian kami akan dimulai dengan kondisi yang cukup menantang.

edad7ab4-5f57-40a0-9b49-cf900bf9a68c

Kami mulai bersiap-siap. Merapikan isi tas kami, mengeluarkan headlamp dan peralatan pendakian penting lainnya, bersiap memulai perjalanan. Setelah berdoa bersama, kami pun mulai berjalan menyusuri jalan setapak, dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo.

Antusiasme dan kesukacitaan saya berkahir ketika carrier biru saya mulai saya cangklongkan di bahu dan punggung. BERAT. Begitu bahu dan punggung saya bersentuhan dengan tas, terasa sesuatu yang tidak wajar menjalar di urat saraf saya, seperti kesemutan. Bahu saya meronta gemetaran. Keringat dingin saya mulai keluar, asam lambung saya naik, saya pun menjadi pucat pasi.

Sempat terpikir untuk berperilaku manja, meminta beban dibagi atau bahkan dibawakan. Tapi ke siapa? Saya tahu semua teman saya membawa beban yang sama kalau tidak lebih berat dari saya. Tidak ada porter yang bisa dimintai pertolongan. Saya harus kuat. Tidak ada pilihan lain. Dengan modal tekad dan nekat, saya pun merayu diri saya sendiri, meyakinkan kalau saya pasti bisa.

Hal semacam inilah yang paling saya sukai dari mendaki gunung. Pendakian dengan segala keajaibannya seringkali harus memaksa diri saya untuk melebarkan batas kemampuan diri. Dari yang tadinya tidak bisa, menjadi harus bisa. Dan ketika batas itu sudah melar dan melebar, tidak ada opsi untuk kembali menyusut. Tidak ada kata pernah bisa. Jadinya saya akan menjadi sangat berbahagia, karena akhirnya bisa mengalahkan diri saya dan batasan-batasan yang saya buat sendiri.

*

Ada untungnya perjalanan kami dilakukan di malam hari. Gelap membuat kami tidak sempat mengeluh, takut membuat kami gigih, ingin cepat sampai. Pendakian jalur menanjak, meskipun menguras stamina, tidak terlalu membebani saya. Begitu Ranu Kumbolo tampak, dan kami harus berjalan di turunan, tas besar dan berat saya kembali menyiksa. Menekan-nekan tulang, membakar bahu saya. Perih dan sangat menyakitkan.

Begitu sampai di area perkemahan, saya membuang jatuh tas besar saya di tanah. Menggeletakan diri saya di rerumputan, dan menangis karena kesakitan. Ini kali pertama saya menangis dalam pendakian.

Kaca, Dhini, dan Fitri tampak begitu khawatir, menawarkan berbagai solusi supaya besok saya tidak perlu membawa beban yang terlalu berat. Teman-teman yang lain sepertinya enggan mengusik saya yang sedang kesal dan kesakitan.

Tergeletak di atas rumput, menangis sambil memandang langit, rasa kesal dan sakit saya dengan begitu mudah menguap. Langit malam penuh bintang, dengan semburat kabut putih milky way, menjadi obat yang sangat mujarab. Keindahan seperti inilah yang membuat saya bersedia berlelah-lelah, bersakit-sakit, membuang kenyamanan kota, dan menyeret diri saya ke sini. Tidak ada yang memaksa. Ini panggilan dan saya harus bertanggung jawab penuh terhadapnya.

e19ef18f-7df6-47cf-beaa-f83423a0af76

Keesokan paginya, kami baru dapat menyaksikan kecantikan legendaris danau kesayangan para pendaki di Indonesia ini. Ranu Kumbolo, danau luas diapit bukit-bukit, dengan hamparan padang rumput yang luas, sangat nyaman dan hangat untuk mendirikan perkemahan. Pantulan bayangan di danau dan warna-warni tenda para pendaki membuat kami tersenyum dan mengangguk, paham mengapa danau ini begitu harum ternama.

40a1e252-5bba-4a79-9def-508fb2ef2448

Pagi ini jadwalnya kami harus mengemas tenda dan tas-tas besar kami. Meskipun sudah berdamai dengan kekesalan dan rasa sakit, tidak berarti saya menyerah kalah. Saya tetap mencari cara agar saya tidak perlu merasakan sakit-sakit ini lagi. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang dengan ketua rombongan, akhirnya kami sepakat untuk menitipkan sebagian makanan dan barang-barang yang tidak terpakai di perjalanan ke Kalimati dan Puncak Mahameru ke penjaga Ranu Kumbolo. Toh, nanti kita akan kembali lagi ke sini. Dan ternyata setelah dikumpulkan perbekalan logistik kami itu begitu mewah. Kami bisa membuka toko kelontong di sini. Tuna kaleng, sarden, beras 5 kilo lebih, pantas saja tas kami begitu berat seolah membawa bata atau baja.

Meninggalkan barang-barang yang tidak perlu, akhirnya saya bisa melenggang hanya dengan membawa daypack saja. Alhamdulillah. Mood saya kembali membaik. Strategi serupa juga dilakukan oleh teman-teman saya. Fariz dan Delta meninggalkan sebagian besar barang bawaan mereka, Mas Basuki dan Jangier meninggalkan satu carrier mereka dan bergantian membawa carrier yang tersisa. Hanya Kris sepertinya yang tetap tangguh membawa beban berat di dua tasnya.

c3db2db2-16fa-4371-aa98-bbdd28d8aa67

Melakukan pendakian di siang hari, meskipun terik matahari membakar kulit dan menguapkan air, sehingga membuat kami cepat haus, tetap jauh lebih menarik ketimbang pendakian malam yang gelap. Dari Ranu Kumbolo, kami harus mendaki Tanjakan Cinta, yang konon jika seseorang berhasil mendakinya tanpa menengok ke belakang, maka orang tersebut akan mendapatkan cinta yang diidam-idamkannya.

Setelah Tanjakan Cinta, kami disambut oleh padang lavender di Oro-Oro Ombo. Sayangnya bunga-bunga ungu cantik ini belum mekar dengan sempurna saat kami ke sana, tapi tetap saja menarik bagi kami, anak-anak kota yang jarang melihat padang rumput kekuningan ini.

dcce3683-fce7-4e12-98f3-177d01cd45be

53bdd83f-c28f-4884-b742-e22f18b31ddd

Kami beristirahat sebentar di Oro-Oro Ombo. Rombongan kecil kami sudah terpisah dari rombongan besar. Memang sulit menjaga agar rombongan 30 orang bisa terus berjalan beriringan. Tempo berjalan orang-orang tidak bisa disergamkan. Itulah sebabnya, saya selalu lebih nyaman mendaki dalam kelompok kecil. Empat orang adalah angka yang bagi saya paling ideal.

Di rombongan kecil kami, Kris selalu berjalan paling depan. Dengan ucapan khasnya, “Saya duluan ya. Mau masak air!” Kris yang memang lebih nyaman sendirian, selalu memilih untuk bergerak lebih dahulu. Nanti ketika sudah sampai tempat peristirahatan atau perkemahan, dia akan dengan sigap menyiapkan minuman hangat buat kami yang datang belakangan. Kris yang tidak makan nasi bahkan rela membawa beras yang berat di tasnya, dan memasakannya untuk kami. Sikap Kris yang acuh dan dingin, tapi sebenarnya selfless dan manis inilah yang membuat saya selalu ingin mendaki bersamanya. Tapi sepertinya visi mendaki kami cukup berbeda. Kris hanya tertarik pada gunung-gunung tinggi saja.

Berbeda dengan Ranu Kumbolo yang hangat dikelilingi bukit dan danau, Kalimati sangat dingin. Jam empat sore angin dingin sudah rebut menerpa tenda-tenda kami, membuat kami enggan bercengkrama dan mengobrol di luar tenda. Lagi pula sangat penting bagi kami untuk menyiapkan diri menyambut summit attack. Konon katanya puncak Mahameru adalah salah satu puncak yang terdahsyat di Indonesia.

Kami tidur cepat, mempersiapkan diri untuk pengalaman yang bisa dibilang, ‘CUKUP SEKALI SAJA SEUMUR HIDUP!’

[Bersambung]

Sebuah Sore di Stasiun Pasar Senen

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian pertama

Pagi ini, seorang teman, Fariz namanya, mengirimkan sebuah pesan, “Sudah setahun, Si Semeru. Trip yang memulai segalanya”.

Saya yang baru bangun tidur, belum sadar benar, hanya menjawab seadanya. Namun, tidak bisa tidak, pikiran saya kemudian berjalan-jalan mengunjungi rincian kejadian yang terjadi di bulan Mei setahun yang lalu. Saya teringat wajah-wajah yang dulu masih asing, kini menjadi akrab, dan sahabat-sahabat yang dulu dekat, kini semakin berjarak.

Perjalanan ke Puncak sakral tertinggi di Tanah Jawa, mulai kami rencanakan Maret tahun lalu. Saat itu, saya, Fitri, dan Kris, yang setelah menjajal Puncak Anjani, menjadi terobsesi untuk mencicipi gunung-gunung api tinggi lain di Indonesia, memutuskan untuk mendaki Semeru. Kami mulai mengumpulkan massa. Saya mengajak, Kaca, sahabat saya yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan daki mendaki. Kaca kemudian mengajak Haru dan menyarankan kita untuk mengikuti open trip, biar tidak usah repot. Kris kemudian mengajak Dhini, teman kantornya, dan Dhini kemudian mengajak Adit, juga teman kantornya. Masih ada kuota yang dimiliki oleh penyelenggara open trip, saya pun mengajak Delta, sahabat kecil saya. Dan terakhir, saya mengajak Jangier, teman kuliah saya yang kemudian mengajak Fariz, juga teman kuliah kami.

Lengkap. Saya, Fitri, Kris, Kaca, Haru, Dhini, Adit, Delta, Jangier, dan Fariz, sepuluh orang yang akan berangkat bersama, dengan status yang beragam, sahabat, teman, dan temannya teman. Bagi saya, membentuk tim pendakian dalam jumlah besar itu butuh seni, strategi dan intuisi. Mungkin sama rumitnya seperti membentuk pasukan dalam perang. Meskipun terbuka dan selalu berusaha menerima siapa saja yang ingin bergabung dalam setiap perjalanan saya, namun untuk urusan mendaki, diam-diam saya selalu waspada dan hati-hati dalam menyusun tim pendakian saya. Saya tidak ingin terjadi masalah-masalah yang tidak perlu, hanya karena ada karakter yang tidak cocok. Saya ingin semuanya bisa menikmati perjalanan dengan hati senang dan saling membantu serta melindungi hingga kembali ke rumah masing-masing.

Susunan tim ini, yang kemudian kita beri nama Talenta 2000, menurut saya sudah cukup pas. Tidak benar-benar seragam, sedikit memiliki potensi terjadi konflik, tapi secara intuisi, saya rasa akan membuat perjalanan lebih berwarna.

Kami semua benar-benar antusias dengan perjalanan ini. Dari jauh-jauh hari kami mulai membeli tiket kereta, membeli dan menyewa peralatan pendakian, membagi tugas belanja keperluan logistik, bahkan sebagian dari kami mulai melakukan pendakian ‘pemanasan’ di Gunung Manglayang. Kami benar-benar berusaha untuk siap, walaupun kami tahu, di depan akan ada kejutan dan hal-hal yang tidak terduga.

6e5d2497-2e77-4fd1-aee7-c40d3ef58ae4

66d09376-a601-43f2-a9c0-5d4d0d25a15d

Kejutan pertama dimulai ketika Haru tiba-tiba tidak bisa berangkat. Mendadak ia diminta bosnya untuk pergi ke suatu tempat di hari perjalanan kami. Tiket kereta sudah terlanjur dibeli, pembayaran open trip sudah terlanjur dilunasi. Karena sayang, akhirnya kami berusaha mencari pengganti Haru.

Saya teringat Mas Basuki, teman sekantor saya dulu, seorang fotografer yang dulu pernah saya dengar mengeluh, “Saya bosan memotret makanan dan pesta-pesta melulu. Saya lebih suka memotret yang hijau-hijau”. Saya juga teringat ceritanya kehabisan air di Gunung Rinjani. Sepertinya Mas Basuki akan genap melengkapi pasukan Talenta 2000. Langsung saja saya tanya. Dan tanpa ba bi bu, dia menyatakan bersedia.

Tim kami kembali lengkap. Sepuluh orang. Saya, Fitri, Kris, Kaca, Dhini, Adit, Delta, Jangier, Fariz, dan Mas Basuki.

Di Hari-H keberangkatan, 12 Mei 2015, kehebohan terjadi. Saya dan Kaca hampir tidak berangkat karena terlambat. Ceritanya begini, Kaca yang tinggal di Tebet, diantar Haru akan menjemput saya di Setiabudi dan bersama-sama akan pergi ke Stasiun Pasar Senen. Kereta kami berangkat pukul 15.15.

Saya sudah bersiap dari pukul 12 siang, duduk menunggu di pelataran Setiabudi One, jejeran pertokoan yang selalu saya sebut sebagai ruang tamu saya. Kaca bilang akan segera berangkat. Namun karena dia harus meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, banyak yang harus ia cek. Jadinya ia sedikit terlambat keluar dari rumah. Rupanya macet. Di mana-mana macet. Kaca dan Haru terjebak tidak bergerak di ruas-ruas jalan ibu kota. Saya mulai gelisah.

Pukul 2 siang, Kaca mengirim pesan, “Kamu berangkat duluan saja, masih macet. Daripada kita berdua tidak berangkat, lebih baik kamu berangkat duluan”.

Dengan berat hati, saya pun memanggil taksi. Berangkat lebih dulu, berdoa semoga semua lancar dan semua bisa berangkat sesuai rencana. Teman-teman yang lain sudah siap sedia di Stasiun Pasar Senen, membombardir kami dengan telepon dan pesan, “Kalian di mana?”

Di Taksi, Jalan Kuningan yang tadinya sepi, tiba-tiba padat ketika bergerak ke arah Menteng. Pukul 14.30 saya mengirim teks kepada Kaca, “Menteng macet. Saya terjebak di sini”. Kaca membalas dengan, “Saya lewat Diponegoro dan lancar. Coba ubah arah”.

9fa24b23-fe99-4346-81c4-eaa9cbfe522e

Saya melihat kiri kanan. Berhenti, satu arah, tidak ada ruang untuk bergerak, apalagi memutar arah. Saya panik. Tanpa banyak berpikir, saya memutuskan untuk keluar dari taksi dan berusaha mencari ojek. Dengan menggendong carrier 50 liter saya, saya berjalan menyusuri perumahan elit Menteng, mencari ojek yang ternyata langka di sana. Tidak ada satu pun. Saya panik, tidak tahu harus berjalan sampai mana, tidak tahu kapan harus memutuskan untuk menyerah.

Tiba-tiba di depan saya ada seorang pemuda bermotor, berhenti seperti menunggu saya.

Begitu saya berjalan mendekat, dia menegur saya, “Mbak, ini tadi jamnya jatuh,” serunya sambil menyodorkan jam tangan saya, yang bahkan tidak saya sadari tadi sempat terjatuh.

“Terima kasih!” seru saya, sebenarnya sudah tidak terlalu peduli dengan keberadaan jam tangan saya. Namun tiba-tiba, entah dari mana, tanpa saya sadari, tanpa berpikir panjang, saya dengan tidak tahu malu, tanpa gengsi, tanpa rasa takut ataupun waspada, meminta pertolongan pemuda tidak dikenal tersebut, “Mas, boleh minta tolong antarkan saya ke Stasiun Pasar Senen?”

Mungkin ketika itu, saya yang sudah sangat putus asa, menganggap bahwa pemuda itu adalah bantuan yang dikirimkan oleh Tuhan, sehingga alam bawah sadar saya menyuruh saya untuk berjudi, melihat peruntungan saya, apakah saya tetap akan bisa berangkat jika mencoba memanfaatkan pertolongan Tuhan ini.

Pemuda tersebut terlihat terkejut dengan permintaan saya. Namun mungkin karena wajah saya yang terlihat sangat panik dan melas, akhirnya ia meluluskan permintaan saya. Saat itu, kalau tidak salah sudah menunjukkan pukul 14.45.

“Mbak suka naik gunung juga?” tanya pemuda itu basa-basi.

“Iya Mas, ini saya mau ke Semeru. Kereta jam tiga seperempat, Mas”.

Pemuda itu melihat jam tangannya. “Wah!” katanya terkejut, karena keberangkatan saya sudah sangat mepet. Ia pun memacu motornya.

Saya yang biasanya selalu senang diajak berbicara, mungkin karena terlalu panik, menjadi sangat pendiam. Saya sibuk membalas pesan teman-teman saya yang sudah panik menunggu di stasiun.

Lima menit sebelum keberangkatan kereta kami, saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Saya hendak berterima kasih kepada pemuda yang mengantar saya dengan memberikan uang dan mencatat nomor teleponnya, namun ia berseru ikut panik, “Sudah Mbak, tidak usah! Cepat lari saja, nanti keburu berangkat keretanya!”

Saya pun berlari, dengan perasaan bersalah karena tidak sempat memberikan ucapan terima kasih yang pantas dan perasaan menyesal karena sampai detik ini saya tidak tahu siapa pemuda pertolongan Tuhan tersebut. Saya hanya berharap kebaikan pemuda ini akan diberi balasan yang berlipat-lipat ganda.

Stasiun Pasar Senen hari itu sudah sangat ramai. Saya yang tidak atletis ini benar-benar harus berlari sekuat tenaga, dengan memikul tas yang beratnya lumayan, menembus kerumunan orang yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing.

Mas Basuki menunggui saya di depan kerumunan orang, mengarahkan saya ke pintu masuk. Saya ingat petugas sempat berteriak, “Ini, ini temannya! Kasih jalan, kasih jalan!”

Saya merasa seperti Nabi Musa tanpa tongkat. Kerumunan orang yang berdesakan di depan pintu masuk, karena mandat dari petugas tiba-tiba terbelah dan saya bisa berlari masuk tanpa halangan. Kaca sudah berada di dalam, teman-teman yang lain celingak-celinguk dari gerbong kereta.

Saya merasa kerusuhan hari ini sudah selesai sampai tiba-tiba Mas Basuki berseru, “KTP saya mana?”

KTP! KTP di sini maksudnya KTP Haru, orang yang digantikan Mas Basuki. Saya mencari Kaca, “Ca, KTP Haru!”

Kaca panik, dengan lemas dia berseru, “Lupa!”

Saya ikut lemas. Saya kehilangan kata. Saya melihat wajah Mas Basuki yang tidak bisa masuk, begitu kecewa dan kesal. Saya mengutuki diri saya sendiri.

“Ayo-ayo masuk!” petugas menggiring saya dan Kaca masuk ke gerbong, meninggalkan Mas Basuki dengan kekecewaannya di stasiun.

[Bersambung]

Olenka by Budi Darma (1983)

 

Sejak pertama kali membaca cerita pendek Budi Darma, saya merasa ada sedikit jarak antara saya sebagai pembaca dan beliau sebagai penulis yang tidak berhasil saya seberangi. Mungkin pemahaman saya saja yang tidak sampai. Atau mungkin juga hanya masalah selera. Tetapi secara utuh dan objektif saya paham benar dan mengakui kalau karya-karya Budi Darma adalah karya matang dengan teknik penceritaan yang luar biasa, yang pantas dibahas tuntas di kelas-kelas sastra di universitas, maupun di diskusi sastra di mana saja.

Menjadi tamu kehormatan di ASEAN Literary Festival tahun ini, Budi Darma kembali menjadi sorotan. Saya merasa memiliki kewajiban untuk memberi kesempatan kembali pada karya-karya Budi Darma untuk merebut hati saya. Seorang teman memberi saran, saya harus mencoba membaca novelnya. Di situ kekuatan Budi Darma yang sebenarnya. Saya menurut dan mencoba mulai mencari Olenka ini, yang ternyata cukup langka dan sulit didapat. Bermodal meminjam dari seorang teman yang baik hati, saya pun mulai membangun jembatan antara pemahaman saya dan maksud penceritaan Budi Darma, untuk menimbun jarak yang terbentang. Tapi sepertinya masih sulit. I am sure it is not you, it is me!

Meskipun saya dan karya-karya Budi Darma belum berhasil tersinkornisasi dengan sempurna, namun terdapat beberapa hal di novel Olenka ini yang benar-benar menarik perhatian saya. Pertama, adalah konsep Kesatuan Afinitas. Di novel ini dijelaskan bahwa sang tokoh utama, Fanton Drummond memiliki Kesatuan Afinitas dengan Olenka. Tanpa dapat dijelaskan dengan logis, kedua tokoh ini sering tertarik pada hal-hal yang sama, dipertemukan secara tidak sengaja di tempat yang tak terduga, atau mengalami kejadian-kejadian yang entah bagaimana bisa saling berhubungan. Mungkin bagi sebagian orang, konsep ini terlalu mengada-ada, atau lebih mudah disederhanakan sebagai ‘kebetulan’ semata. Tetapi, entah bagaimana, saya percaya konsep ini bisa terjadi. Dua orang dengan Kesatuan Afinitas bisa secara ajaib terhubung meskipun berjauhan, dengan ‘kebetulan-kebetulan’ yang paling tidak masuk akal sekalipun.

Hal selanjutnya yang menarik perhatian saya di novel ini adalah banyaknya digresi, atau bagian yang tidak langsung bertalian dengan tema dan alur karya sastra di karya ini. Budi Darma banyak mengutip karya sastra lain, berita di koran, maupun fakta-fakta yang menarik, tapi tampak menyimpang dari cerita yang sedang dibangun. Tapi jika sedikit dianalisis dan diberi penafsiran, mungkin pembelokan ini sengaja dilakukan untuk mendukung cerita. Namun bedanya, jika biasanya di novel lain kita dituntun atau dibiarkan berjalan sedikit memutar, di novel ini kita seperti dianjurkan untuk melakukan lompatan. Kita harus memberikan usaha lebih untuk menghubungkan jejak-jejak samar yang ditinggalkan oleh penulis.

Terakhir, dengan latar belakang tempat yang jauh dari nusantara, dan dengan tokoh-tokoh yang bukan merupakan warga negara Indonesia, secara ajaib, Olenka tetap kental terasa sebagai bagian dari Sastra Indonesia karena penggunaan Bahasa Indonesianya yang luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa sastra adalah bahasa, terlepas dari cerita, maksud, dan makna yang ingin disampaikannya.

Buku ke-19 tahun ini dan buku ke-15 di 2016 Reading Challenge: A Classic from 20th Century

Tidak Ada New York Hari Ini by Aan Mansyur (2016)

Mungkin penulisnya begitu pandai membaca naskah, menyulap sebuah cerita linear menjadi kata-kata yang punya jiwa. Membuat rindu dan kegelisahan si tokoh Rangga benar-benar sampai kepada kita yang membaca. Mungkin.

Atau mungkin juga si penulis tahu rasanya menjadi Rangga. Berkutat dalam sesak dan ketidakberdayaan oleh rindu dan gelisah hati yang susah dicari definisinya. Mungkin.

Mungkin kita semua pernah menjadi Rangga. Hidup dalam kenangan dengan segala ‘what if’ di kepala. Membuat kumpulan puisi ini menjadi istimewa. Aan Mansyur seperti berhasil mempertemukan rasa dengan kata. Memahami isi hati dan menuangkannya dalam bait-bait yang manis. Menyapa sosok Rangga dalam diri kita.

Ada Apa dengan Cinta 2 (2016)

Keberanian untuk memaafkan dan menerima, menurut saya pesan yang ingin disampaikan oleh film ini sangat jelas. Dengan menggunakan rangkaian adegan yang manis dan memancing nostalgia serta bantuan tempat-tempat ikonik dan gambar-gambar yang memanjakan mata, Riri Riza seolah ingin menjewer Rangga yang pendendam dan Cinta yang tukang ngambek, memaksa mereka untuk berdamai. Rangga yang cenderung pengecut dan lebih suka bersembunyi di balik kata-kata manis dan kesendiriannya, akhirnya berani menghadapi “hantu-hantu” dalam hidupnya. Cinta yang cenderung moralis, saklek harus mengikuti norma benar-salah, akhirnya mau menerima ketidaksempurnaan untuk kembali merasakan keutuhan diri.

Rangga dewasa bagi saya jauh lebih menarik. Dia tetap penuh kejutan seperti dulu, tapi Rangga yang sekarang punya nyali. Berani salah, berani mengambil resiko, berani jujur, dan yang paling hebat, berani meminta.

Mengutip kata-kata Widya, salah seorang sahabat saya, “Riri Riza brengsek!” Saya setuju. Bukan karena plot yang lemah, nuansa komersil berlebihan, atau manisnya nostalgia yang membuat mesem-mesem. “Riri Riza brengsek!” karena berhasil menciptakan Rangga 2.0, Rangga yang utuh karena ketidaksempurnaannya. Rangga yang tidak bisa ditolak oleh perempuan mana pun.

Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu… JAHAT!

Lebaran Tahun Ini

“Kok sendirian? Agus mana?” tanya Ibu.

“Nanti nyusul, Bu. Masih ada kerjaan,” jawabku meraih tangan Ibu, salim.

“Lebaran gini kok ya masih kerja?”

“Namanya juga tentara, Bu. Ndak ada liburnya”.

Berkumpul di Kayu Manis pada hari pertama lebaran adalah suatu kewajiban yang tidak bisa kami tinggalkan. Aku, Indri, dan Utari, seenggan apapun, kami tidak pernah bisa alpa dari keharusan kami yang satu ini. Bertemu dengan Bapak dan Ibu, menunggu keputusan siapa yang berhak menerima piala bergilir dengan titel ‘Anak yang Paling Mengecewakan’.

“Adik-adikmu itu lho, memang ndak pernah bisa dewasa,” bisik Ibu padaku. Memandang kecewa pada Utari yang sedang menunduk diteriaki Bapak di teras belakang rumah. “Perempuan itu ya di mana-mana harus bisa sabar. Harus nrimo. Kalau mbrontak terus, ndak bisa diatur, ya kayak gini ini kejadiannya. Laki-laki itu ya memang begitu kelakuannya. Kita yang harus bisa ngerti”.

Aku tidak bereaksi.

“Ibu sama Bapak itu sudah ndak punya muka lagi. Punya anak perempuan tiga, yang dua kok ya cerai,” Ibu berkata sambil mengelus-elus dadanya. Sesak karena kecewa. “Untung kamu sama Agus baik-baik, ya Rat. Dijaga suaminya. Jangan kebanyakan nuntut kayak adik-adikmu. Jadi istri itu harus manut. Nurut sama suamimu. Kuncinya itu”.

Aku mengangguk, memamerkan senyum palsu terlatihku.

“Dulu itu memang Ibu cuma sreg-nya sama Agus. Tentara, kerjanya jelas, kalau ngomong tegas, ndak plintat plintut, ganteng lagi,” kenang Ibu.

Terbersit di kepalaku bayangan Mas Agus muda, datang ke rumah dengan seragam prajuritnya. Menghabiskan waktu plesirnya untuk menyeleksi kembang-kembang di Kayu Manis, berkedok mengunjungi Bude Karso, kerabat jauhnya.

“Untung dulu kamu nurut, dengerin Ibu pas dilamar Agus,” kata Ibu. “Ndak kayak si Indri yang ngotot minta kuliah dulu segala. Lah, sekolah tinggi-tinggi jadi Sarjana Hukum juga ujung-ujungnya suaminya selingkuh sama pembantu. Bikin malu aja”.

“Sekarang kamu tho yang enak. Punya suami Kolonel, bergaulnya sama ibu-ibu Jendral, ibu-ibu pejabat,” sambung Ibu.

Aku tersenyum. Tidak menjawab. Tidak mengiyakan ataupun membantah.

Indri, adikku, si tengah, sudah dari enam tahun yang lalu bercerai dari suaminya. Konon ia terlalu sibuk bekerja, sering ke luar kota, sehingga suaminya sering main gila dengan pembantu rumah tangganya. Saat ia pulang ke rumah lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, terbongkarlah skandal perselingkuhan itu, dan Indri pun tanpa banyak pertimbangan langsung minta cerai. Sekarang ia hidup menjanda bersama dengan Indira, putri kesayangannya.

Aku ingat Bapak dan Ibu begitu terkejut ketika Indri pertama kali memberi tahu rencana perceraiannya. Sepertinya kata ‘perceraian’ tidak pernah sekalipun terbersit dan mampir di benak mereka.

“Pancene lanang gemblung!” dulu amarah Bapak masih lebih tertuju ke suami Indri.

“Kamu yakin, Ndri? Nanti kamu tinggal di mana? Siapa yang bakal menafkahi anakmu?” tanya ibu nelangsa, mungkin sedikit menahan tangis.

“Aku bisa, Bu, tinggal sendiri sama Indira. Aku sanggup membesarkan Indira sendirian!” jawab Indri tegas.

Indri bisa tegas karena dia memang mampu. Karirnya sebagai legal council di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar di ibu kota, cukup memberinya keyakinan dan rasa aman untuk bisa bertahan hidup tanpa sokongan laki-laki manapun. Beruntungnya dia.

“Eh, itu suamimu datang. Sana kamu sambut!” perintah ibu, yang tentunya langsung kuiyakan.

“Mas,” aku memberi salam, sambil mencium tangan suamiku.

Mas Agus memberikan tangannya untuk kucium, tapi tidak memberikan tanggapan sedikitpun. Memandangku saja pun dia sepertinya enggan.

“Ibu, bagaimana kabarnya?” tanya Mas Agus, meninggalkanku menjinjing tasnya, bergerak ke arah ibu, memberikan sungkem, wajah manis, dan perawakan gagahnya. “Maaf lahir batin, nggih, Bu. Sepurane sing katah.”

Ibu tersenyum menyambut menantu kesayangannya. Direngkuhnya tubuh suamiku, diberinya tepukan penuh kasih sayang, “Ibu sehat. Kamu juga harus jaga kesehatan, jangan kerja terus!”

Melihat Agus datang, Bapak yang dari tadi sibuk memberikan wejangan, lengkap dengan sindiran, keluhan, dan bentakan kepada Utari yang lebaran tahun ini sepertinya sudah hampir pasti berhasil mencuri gelar bergilir ‘Anak yang Paling mengecewakan’, menghentikan aktivitasnya untuk menyambut suamiku.

“Baru datang, kamu Gus?” tanya Bapak sambil memberikan tangannya untuk disambut dan dicium, sebuah gestur penghormatan dari anak ke orang tuanya. “Nyari apa, tho, kamu Gus? Memangnya uang bisa dibawa mati?”  tanya Bapak, dengan celaan penuh kasihnya. Semua orang, termasuk Mas Agus, terutama Mas Agus, tahu betapa Bapak dan Ibu sangat menyayanginya.

“Tar, makanya dulu jangan ngeyel. Jangan pilih-pilih, jual mahal, eh dapetnya malah kayak suamimu,” Mas Agus menggoda Utari.

“Mas Agus ini ngomong apa sih?” balas Utari risih.

Dari dulu aku tahu, meski seluruh dunia telah berhasil diperdayanya, kalau sebenarnya kembang Kayu Putih yang ingin Mas Agus petik, bukanlah aku, melainkan Utari. Aku tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Kututup mataku rapat-rapat, meskipun ngilu di hati ini tidak bisa dibohongi.

Utari masih terlalu kecil ketika Mas Agus sering datang ke rumah dulu. Ia masih SMP. Bapak yang sudah terlalu gembira karena mengira Mas Agus tertarik padaku, anak perempuannya yang sudah siap dipanen, langsung sering menjodoh-jodohkan aku dan Mas Agus. “Sudah jangan lama-lama, langsung nikah saja!”

Entah karena tidak enak, tidak berani membantah bapak, tidak bisa menolak, atau alasan lain yang tidak kumengerti, Mas Agus pun kemudian benar-benar datang bersama keluarganya untuk meminangku. Tapi aku tahu pasti, hati dan cintanya tidak pernah untukku. Sebelum dan selama pernikahan kami berlangsung, hingga saat ini.

Meskipun rasa cemburuku pada Utari tidak pernah mati, tapi aku bersyukur bukan dia yang dulu dipinang Mas Agus. Bukan adik bungsuku yang harus merasakan apa yang aku rasakan. Cukup aku saja.

“Dodit itu kasar, suka membentak-bentak aku,” jawab Utari ketika Bapak kembali bertanya kenapa ia ingin menceraikan suaminya.

Dibentak katamu, Tar? Beruntungnya kamu. Kulirik memar di pergelangan bagian dalam tanganku. Kuping dan hatiku sudah baal, mungkin sebentar lagi tubuhku juga kebal. Mati rasa karena sudah terbiasa dengan semua siksa sakit ini.

“Nafkah dari Dodit untuk aku dan Dinda selalu tidak cukup. Uangnya selalu habis untuk hobby fotografinya yang tidak jelas itu,” jawab Utari.

Nafkah dari suamimu tidak cukup katamu, Tar? Beruntungnya kamu. Kuingat bagaimana pagi ini pembantuku memberiku uang ongkos untuk bisa pergi ke sini. Aku memang masih menggenggam titel istri, tapi itu hanya sebuah titel kosong, aku tidak punya sedikitpun kuasa di rumahku sendiri. Sudah 5 tahun ini,  aku hidup dari uang jatah. Suamiku lebih mempercayakan pengaturan pengeluaran rumah tangga kami kepada Mbok Nah, pembantu kami.

“Dodit tidak bisa apa-apa, semua urusan harus aku yang mengerjakan sendiri,” jawab Utari lagi.

Suamimu tidak bisa apa-apa katamu, Tar? Beruntungnya kamu. Kukutuk nasibku karena bersuamikan laki-laki yang serba bisa. Bisa memukul, bisa menjambak, bisa menampar, bisa mendorong, bisa menendang, bisa melempar barang-barang, bisa mengancam, bisa mengurung, bisa menjadikan hidupku seperti neraka. Hanya satu yang ia tidak bisa, menerima dan menghargaiku sebagai istrinya.

“Beri nasehat ke adik-adikmu ini Rat, bagaimana caranya jadi istri yang baik?” Pertanyaan bapak membuatku yang sedari tadi diam tersorot.

Mau jawaban jujur? Diam saja. Pasrah. Jangan buat suamimu semakin marah. Tahan rasa sakitmu, nanti juga sembuh sendiri. Matikan indra-indramu, bunuh yang namanya perasaan dan emosi. Istri tidak butuh itu. Yang penting diam. Pasrah. Nurut. Kalau suamimu lelah menyiksamu, penderitaanmu juga akan selesai. Tapi jangan lupa siap-siap untuk siksaan esok hari.

Uang jatah dari pembantumu, harus kamu hemat, supaya tetap bisa beli make up dan baju yang layak. Supaya di depan ibu-ibu Jendral, di depan tetangga, dan jika harus bertemu keluarga seperti sekarang ini, kamu tetap bisa terlihat cantik, sehat, dan berwibawa. Istri yang baik harus bisa menutupi aib dan menjaga nama baik suami.

Jika tidak tahan atau ingin kabur, ingat, kamu itu tidak bisa apa-apa. Cuma lulusan SMA, tidak sempat kuliah karena sudah keburu dilamar dan menikah, bisa kerja apa kalau minta cerai? Bisa menafkahi diri sendiri? Nggak malu jadi parasit keluarga? Mau jadi apa? Mimpi tidak punya, ijazah tidak ada, pengalaman kerja nihil. Istri yang baik itu istri yang setia dan bisa bertahan terhadap kesialannya.

“Yang penting saling pengertian aja,” jawabku singkat, ingin segera memindahkan lampu sorot yang menyilaukan dari arahku, mengarahkannya kepada siapa saja selain aku.

Hei, harusnya lebaran tahun ini aku dapat kartu bebas sorotan. Harusnya aku dapat imunitas dari semua penghakiman ini. Aku sudah jadi istri yang baik, menerima semua perlakuan biadab suamiku, si menantu kesayangan ini. Aku juga sudah jadi anak yang baik, satu-satunya anak perempuan yang menurut ketika disuruh menikah, setuju ketika diminta berhenti sekolah, dan bertahan dalam pernikahan sehingga tidak ada yang bisa menghakimi Bapak dan Ibu, “Itu kok anaknya cerai semua”.

“Nah ya gitu, kalian harus bisa kayak Mbakyu-mu,” ujar Bapak.

Aku tersenyum, merasa menang. Lebaran tahun ini, aku berhasil lolos dari label anak yang paling mengecewakan. Meskipun harus membayarnya dengan sangat mahal.

“Nah, sekarang Rat, Gus, kapan kalian mau punya anak? Masa kalah sama adik-adikmu? Sudah menikah lama kok ya nggak punya-punya anak?” tanya Bapak.

“Iya, Ibu dari dulu pengen nimang cucu dari kamu. Kok ya, nggak dikasih-kasih, tho?” sambung Ibu. “Cuma kamu anak Ibu yang belum ngasih Ibu cucu”.

Aku tercekat. Tak bisa menjawab.

Jadi, lebaran tahun ini, siapa pemenang gelar ‘Anak yang Paling Mengecewakan’?

Ana dan Anjani

Dinginnya dini hari seolah ingin menguji mental para pendaki yang ingin menjajal Puncak Anjani. Deru dan gemuruh angin datang dan pergi membawa ribut, mencoba mengecilkan nyali para pengelana pencari matahari.

“Udalah, kamu tidur aja di tenda!” seru si pria dengan kasar. “Kamu pasti ngerepotin nanti!”

“Tapi aku ingin ikut!” perempuan muda ini membantah. “Aku ingin melihat matahari terbit pertama di tahun ini dari Puncak Anjani.”

“Ck, ada-ada saja ya kamu,” si pria memutar bola matanya, terlihat kesal. “Dari kemarin saja kamu sudah ngos-ngosan, bikin rombongan kita telat sampai pos, nggak kebagian tempat kemah yang enak. Nanti semua batal dapat matahari terbit gara-gara kamu, gimana?”

Sebenarnya Aliq enggan ikut campur. Aliq bukan tipe orang yang suka mencari gara-gara. Terlebih kepada orang-orang yang nantinya akan membayarnya. Tetapi perempuan ini begitu mengingatkannya kepada Ana, kekasih yang begitu dirindukannya. Kekasihnya yang pemberontak, yang tidak bisa dilarang atau dikecilkan jika sudah bulat tekadnya. Kekasih yang harus ia tinggalkan tanpa pesan perpisahan di Negeri Singa.

“Mas, biar Mbaknya saya bantu untuk naik Puncak Anjani. Mas-mas yang lain bisa naik lebih dulu, sehingga tidak terlewat matahari terbitnya,” Aliq menawarkan diri dengan sopan.

Si pria menoleh ke arah Aliq. Sedikit memicingkan mata, menguji rasa percayanya. “Enggak nambah kan?” tanyanya. Khawatir dirugikan, karena perjanjian awal porter hanya mengantar sampai perkemahan di Plawangan Sembalun.

Aliq tersenyum, hafal betul gelagat tidak mau rugi ini, “Enggak usah nambah, Mas!”

“Ya sudah, sana gih, kamu siap-siap!” ujar si pria, dengan nada memerintah.

*

Sudah sebulan ini Aliq kembali ke Lombok, pulau kelahirannya, setelah tujuh tahun merantau di Singapura. Pulau cantik ini masih tetap sama. Pantai-pantai dan jajaran nyiurnya yang melambai, selalu berhasil merayu dan menggoreskan rindu. Nikmatnya ayam taliwang dan plecing kangkung buatan Inaq tetap menghantui ke mana pun kaki Aliq menjejak.

Meskipun semua tampak sama, namun tetap banyak yang berubah sejak Aliq meninggalkan Lombok. Seperti sekarang, ladang pertanian di Sembalun, desanya, sudah banyak yang terbengkalai. Pemuda-pemuda enggan bertani. Mereka memandang pekerjaan yang telah menghidupi nenek moyang suku sasak selama beratus-ratus tahun ini begitu hina, sia-sia dan gagal mewujudkan mimpi kesejahteraan, sehingga mereka meninggalkannya.

Pemuda Desa Sembalun sekarang lebih memilih menjadi porter. Sejak Gunung Rinjani menjadi primadona wisatawan, baik dalam dan luar negeri, profesi pengangkut barang dan penunjuk jalan ini menjadi favorit. Bayangkan, hanya dengan bekerja empat hari, mereka bisa mendapatkan uang enam ratus ribu rupiah, tunai. Ya, meskipun kerja mereka tidak bisa dibilang ringan. Memikul perlengkapan “kemah mewah” para pendaki yang enggan meninggalkan kenyamanan mereka di rumah. Bandingkan jika mereka harus bertani. Butuh waktu yang lama, belum lagi faktor cuaca yang memberi ketidak pastian yang tinggi atas resiko gagal panen.

Melihat lahan warisan almarhum amaq yang sudah lama tidak disentuh oleh kerabatnya, Aliq pun mencoba peruntungannya untuk menjadi porter. Selama sebulan ini sih cukup lancar. Pegal dan ngilu yang membakar bahu dan punggung, akibat pokok bambu yang menggantung di tubuhnya, dulu terasa begitu menyiksa ketika pertama kali ia membawa tamu. Namun sekarang, setelah beberapa kali bolak-balik naik turun Sembalun – Senaru, atau Sembalun – Sembalun, tubuhnya sudah baal. Rasa sakit tidak lagi menyerangnya.

“Boleh istirahat sebentar, Pak?” tanya tamu perempuan Aliq. Tampak kelelahan.

Meskipun cantik dan anggun, namun seringkali Puncak Anjani bertingkah kurang bersahabat, terutama bagi para pendaki pemula. Tubuhnya yang ramping dan dipenuhi kerikil-kerikil dapat menyurutkan semangat dan mengecilkan nyali siapapun yang mencoba mendakinya. Dua langkah naik, satu langkah turun, orang-orang tanpa keinginan yang kuat dapat dengan mudah menyerah dan kembali turun sebelum mencicipi keindahan negeri di atas awan di atas Puncak Anjani.

“Mbak ini hebat semangatnya!” Aliq membesarkan hati tamunya. Sepuluh menit yang lalu, tamu perempuannya ini baru saja memuntahkan isi perutnya. Angin dingin dini hari yang menderu sepertinya menghantamnya dengan begitu keras. Kelelahan yang membuncah memperkeruh suasana, membuat sang tamu meraih batas daya tubuhnya.

“Ayo Pak, jalan lagi!” ujarnya dengan nafas masih memburu.

“Mau minum dulu, Mbak?” tanya Aliq.

“Nggak, Pak,” jawabnya. “Saya ingin segera sampai di puncak. Ingin melihat matahari terbit di Puncak Anjani”.

Aliq kembali mengingat sosok Ana. Gadis manis yang begitu dirindukannya. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Ana. Sebuah sore di Lucky Plaza.

Hari Minggu adalah hari libur pabriknya. Semua pekerja rantau akan berbondong-bondong mendatangi pusat keramaian, deretan pertokoan, surga para pelancong berkantung tebal.

Meskipun tidak paham mengenai apiknya barang-barang bermerek, para pekerja impor ini tetap bergerak seperti laron, mengerubungi gedung-gedung tinggi tempat perputaran uang, meskipun tanpa membawa uang yang seberapa karena sebagian besar harus dikirim pulang ke kampung halaman.

Aliq yang pemalu enggan mengikuti kawan-kawannya yang mulai menebar senyum mengumbar janji, merayu perempuan-perempuan yang juga telah membanting tulang selama seminggu penuh, melayani tuan-tuan majikan mereka.

Aliq duduk mengamati, sambil menenggak es teh bercampur susu yang dibelinya di ujung jalan.

“Ajak aku ke pantai! Bawa aku ke gunung!” seru seorang perempuan dari samping Aliq.

Aliq menoleh ke sumber suara. Sedikit heran, karena di jajaran tempat duduk di lantai dasar Lucky Plaza itu hanya ada dirinya dan gadis itu.

“Kau bicara denganku, kah?” Aliq bertanya.

“Siapa sajalah yang mendengar!” jawabnya.

“Pantai apa? Gunung apa? Kau mengigau?” tanya Aliq bingung.

“Aku ingin melihat matahari terbenam di pantai dan matahari terbit di puncak gunung!”

Aliq terdiam. Mengingat kampungnya dengan rindu. “Jika kubawa kau ke Lombok, kau tentunya akan girang. Ratusan pantai mengelilingi pulauku. Semuanya indah. Matahari terbenam di bukit Malimbu, sambil menatap Pulau Dewata di seberang, tentunya akan memanjakanmu. Dan matahari terbit, jika kubawa kau mendaki puncak Anjani, kau akan mengucek mata dengan takjub tidak percaya,” batin Aliq.

“Siapa namamu?” tanya Aliq.

“Ana,” jawabnya.

“Kau aneh, Ana!” ujar Aliq, sudah jatuh cinta.

*

Semburat matahari sudah mulai menampakkan diri. Gelapnya malam sudah mulai kehilangan pekatnya.

“Masih jauh, Pak puncaknya?” tanya tamu perempuan Aliq.

“Sudah kelihatan, itu,” Aliq menunujuk, mencoba membesarkan hati tamunya.

Nafas gadis manis ini tersengal-sengal. Puncak Anjani sepertinya benar-benar melemahkannya. Ia sudah diambang kata menyerah.

“Semangat Mbak ini luar biasa, meskipun sudah ngos-ngosan, tapi sama sekali tidak mengeluh!” Aliq kembali menyuntikkan semangat. “Mbak benar-benar mirip Ana, kekasih saya di Singapura”.

Tamu perempuan Aliq tersengal diburu nafasnya. Ia yang sedari tadi menumpukan tubuhnya tidak lagi pada kedua kakinya, tapi pada genggaman tangan Aliq, dengan lemas berusaha menggapai batu dan terduduk lemas di atasnya.

Aliq ikut duduk. Dikeluarkannya dompet dari saku celananya, tempat foto Ana ia simpan baik-baik. “Ini Ana, kekasih saya di Singapura.”

Dengan kelelahan di matanya, gadis manis ini tetap menjaga kesantuanannya, berusaha menunjukkan antusiasnya, “cantik, Pak!” jawabnya tertatih.

“Ia petualang yang terkungkung,” ujar Aliq penuh rindu. “Ia ingin melihat matahari terbenam di pantai dan sama seperti mbak, melihat matahari terbit di puncak gunung!”

Gadis di samping Aliq memaksakan diri untuk tersenyum menanggapi. Meskipun kelelahan sudah menggoyah kesadarannya.

“Dia begitu bahagia ketika suatu sore saya bawa dia ke pantai. Pantai biasa, di Singapura tidak ada pantai dengan air biru berkilauan seperti di sini. Tapi begitu saja dia sudah sangat bahagia,” Aliq mengenang senyum Ana. “Untuk melihat matahari terbit di puncak gunung, saya masih hutang!”

“Dari kecil dia tinggal di kota. Dikurung gedung-gedung tinggi,” tambah Aliq. “Ana lahir di rumah majikannya. Ibunya diperkosa, tapi Ana tidak diakui anak. Cuma diakui pembantu. Mana majikannya galak dan suka mukul lagi. Pernah nyaris dibunuh saya, ketahuan menginap di kamar Ana”.

“Sekarang, setiap melihat pantai, cuma senyumnya yang saya ingat,” pikiran Aliq menerawang, menatap puncak Anjani. “Dan tiap memandang matahari terbit dari puncak Anjani, saya ingat janji saya untuk melihat matahari terbit bersamanya yang belum terpenuhi”.

“Kenapa pulang ke Lombok kalau Bapak cinta sama Ana? Kenapa Ana tidak diajak?” tamu perempuan Aliq tampaknya telah berhasil mengatur nafas.

“Yah, Mbak. Saya di PHK dari pabrik. Kerja serabutan di pelabuhan, kiriman ke rumah tidak cukup. Anak sulung saya kabur dari rumah. Dia marah karena saya tidak sanggup membelikan dia motor. Katanya malu ditertawakan teman-temannya. Ya, daripada dia kenapa-kenapa, lebih baik saya pulang. Bagaimanapun juga keluarga itu nomor satu,” jawab Aliq. “Cinta itu barang mewah, sudah bisa mencicip rasanya saja sudah luar biasa”.

“Boleh saya lihat fotonya Ana lagi, Pak?” pinta tamu perempuan Aliq.

“Ini, Mbak,” Aliq menyodorkan foto gadis yang begitu dikasihinya. “Tapi hati-hati ya Mbak, ini foto Ana satu-satunya. Foto dia yang lain sudah habis dibakar istri saya”.

Gadis di hadapannya melirik tidak setuju, tapi memutuskan untuk tidak berkata apa-apa.

“Ayo Mbak, masih kuat kan? Ayo kita jalan lagi, Pelan-pelan nggak papa, puncak Anjani dan matahari pagi masih setia menunggu!” ajak Aliq, menawarkan tangannya.

Dengan sisa-sisa tenaga, setelah berhasil kembali mengumpulkan tekadnya yang sempat porak poranda, tamu perempuan itu menyambut uluran tangan Aliq. “Masih kuat, Pak!”

“Kalau sudah tidak kuat, nanti saya gendong!” ujar Aliq, membayangkan menuntun Ana, gadis petualangnya, untuk menggapai Puncak Anjani, memenuhi janjinya, yang mungkin tidak akan pernah terwujud.