Halo, Semeru!

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian kedua

Tepat pukul 15.15 kereta kami berangkat. Bergerak menjauhi Stasiun Pasar Senen. Meninggalkan Mas Basuki yang pastinya kesal dan kecewa. Meskipun sering mengomel karena metode transportasi di negeri ini sering terlambat dan tidak tepat waktu, namun kali ini ada rasa sesal, mengapa ketika butuh waktu, kereta ini berangkat dengan sangat tepat waktu.

“Mas Basuki nggak bisa naik!” seru saya.

Teman-teman yang sudah berada lebih dahulu di dalam kereta menatap dengan iba, tapi tidak berdaya, tidak tahu apa yang bisa diperbuat.

Saya kembali gelisah, tapi kali ini bukan panik, tapi lebih banyak dipenuhi oleh rasa bersalah.

Saya dan Kaca mulai saling melontar ide, bagaimana cara menebus kesalahan kami. Meminta Haru mengantar Mas Basuki ke Stasiun Gambir, mungkin ada tiket yang batal. Atau Stasiun Bekasi, atau mungkin Stasiun Cirebon. Tapi sebenarnya kita tahu kalau ide itu tidak mungkin, karena kami berangkat di waktu yang cukup ramai. Tiket kereta sudah lama habis. Terakhir, kami mencoba mengecek tiket pesawat terbang, dan ADA! Masih ada tiket perjalanan dari Halim Perdana Kusuma ke Malang. Mas Basuki bisa berangkat!

Saya pun menelpon Mas Basuki, “Mas Bas, naik pesawat saja ya! Ini masih ada tiket ke Malang, berangkat besok subuh. Sampainya tidak terlalu jauh jaraknya sama kereta kita”.

“Nggak usah, Na! Saya pulang saja,” tolak Mas Basuki. Mungkin masih kesal dan kecewa.

“Jangan dong, Mas. Aku sama Kaca nggak enak banget. Kita pesenin sekarang ya tiketnya!” saya merayu, tidak ingin mendaki Semeru dengan perasaan bersalah.

“Nggak usah, Na!” Mas Basuki kembali menolak.

Upaya rayu merayu seperti ini terus berlangsung kurang lebih satu jam, di mana saya sempat merayu lewat Haru, Kaca ikut merayu Mas Basuki, sampai mungkin karena muak dengan kami yang terus memaksa, Mas Basuki sempat memutus sambungan telepon tanpa permisi saat kami masih sibuk merayu dan memaksa.

Setelah kurang lebih satu jam, mungkin karena tahu kami tidak akan menyerah sebelum keinginan kami terwujud, akhirnya Mas Basuki pasrah, dan bersedia pergi ke Malang dengan menggunakan pesawat terbang besok subuh. Kami lega. Kami bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah.

Di perjalanan berangkat, setelah lepas dari drama ketinggalan kereta, rombongan kami cenderung diam. Saya teringat wajah-wajah canggung Fariz, Delta, dan Jangier di kursi belakang yang masih belum saling mengenal. Sementara saya, Fitri, dan Kaca sibuk membagi-bagi logistik ke dalam kresek-kresek putih, seperti jatah sembako.

5e773c92-a17d-4cd4-9784-6bae6ef4b795

Tidak banyak yang saya ingat dari perjalanan kereta keberangkatan kami. Hanya potongan-potongan tak beraturan. Saya ingat berdiskusi panjang dengan Kaca tentang proposal “Kartini Modern” yang akan kami kirimkan dengan harapan dapat mendapat bantuan dana untuk membiayai organisasi non-for-profit yang sedang kami rintis. Saya juga teringat Fariz yang sibuk membuat flowchart di atas entah secarik kertas atau selembar tisu. Saya teringat tas Delta yang fenomenal karena begitu kecil, kami menyebutnya Black Hole. Kurang lebih itu. Ingatan saya memang kurang bagus, apalagi terhadap hal-hal yang rinci.

Setibanya di Stasiun Malang, saya teringat mendapatkan pesan singkat dari Mas Basuki, “Saya sudah sampai. Sedang bergerak menuju meeting point, di seberang stasiun”.

Saya lega bukan main.

Kami, dengan tas-tas besar kami siap bertemu rombongan besar kami, dan memulai perjalanan pendakian kami.

b1752a95-2c0a-4643-85ab-63079ee3e4e5

Rombongan besar kami dipimpin oleh pemuda-pemuda dari komunitas Si Hijau dari Bogor. Ketuanya bernama Mas Teguh, berbadan ramping, seperti layaknya pendaki-pendaki pada umumnya. Ia dibantu beberapa rekannya. Selain rombongan kami, ada beberapa rombongan lain, ada sekelompok ibu-ibu dari Surabaya, sepasang ayah dan anak, dan rombongan muda-mudi lainnya. Total ada 30 orang dalam rombongan besar kami.

Setelah berkumpul dan diberi pengarahan di seberang stasiun, kami mulai perjalanan dengan angkot yang telah disewa. Tas-tas besar kami diikat di atas angkot, dan kami duduk berdesakan dengan riang di dalamnya. Kami semua tersenyum senang, begitu antusias ingin segera memulai pendakian kami.

1a8629c3-feee-4b02-b154-b0ab05b03ce6

Kami tiba di Pasar Tumpang. Kami harus berganti mobil, karena jalanan akan mulai terjal dan berliku. Angkot tidak akan sanggup menjalani rute tersebut. Kami memanfaatkan pemberhentian ini untuk belanja air minum dan keperluan logistik yang belum lengkap. Kami juga memanfaatkan peristirahatan pertama ini untuk buang air ‘secara layak’ untuk terakhir kalinya sebelum pendakian dimulai.

Persinggahan yang harusnya singkat, ternyata harus kami jalani lebih lama. Siang itu hujan deras mengguyur. Kami tidak bisa segera bergerak. Kami harus menunggu di bawah terpal selama kurang lebih 4 jam, sampai hujan benar-benar reda. Ketua rombongan kami akhirnya harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan, “Sepertinya kita harus melakukan pendakian malam”.

Pendakian malam, saya belum pernah melakukannya. Sebagai pendaki pemula, sebelumnya saya selalu mendaki di siang hari, dengan hanya membawa daypack, dan selalu dituntun oleh porter. Kabar ini sedikit membuat saya berdebar. Saya harus melakukan pendakian tanpa porter, dengan membawa carrier saya sendiri, dan di malam hari. Apakah saya bisa? Saya melihat Kaca, Fitri, Dhini, dan teman-teman saya yang lain. Saya juga melihat anggota rombongan yang lain. Kalau mereka bisa, saya juga pasti bisa. Saya pun menanamkan sugesti di kepala saya, bahwa saya akan baik-baik saja.

Sembari menunggu hujan reda, kami mengisi waktu dengan berbincang-bincang. Saya ingat saya dan Fitri mengungkit-ungkit kemampuan Fariz untuk melihat setan dan makhluk halus yang kami ketahui ketika kuliah dulu. Fariz kemudian mengatakan bahwa Delta juga memiliki potensi yang sama, namun belum terasah. Kami juga saling berbagi cerita tentang suka-duka pengalaman mendaki kami yang sebelumnya. Bagaimana Dhini pernah terjebak badai pasir di Gunung Dempo, bagaimana Mas Basuki pernah kehabisan air di Gunung Rinjani, dan lain sebagainya. Meskipun tidak berjalan sesuai jadwal dan kemudian mengharuskan kami mulai mendaki di malam hari, namun menunggu hujan reda ini berbuah cukup manis. Rombongan kecil kami menjadi lebih akrab, bahkan sebelum pendakian dimulai.

Setelah hujan reda, kami harus mulai bergerak menaiki mobil jeep, bersiap memulai perjalanan berliku kami menuju Ranu Pane, titik awal pendakian kami. Kami naik mobil jeep berwarna kuning. Delta dan Mas Basuki duduk di depan, di samping supir yang sangar tapi baik hati. Saya, Fitri, Kaca, Dhini, Kris dan Fariz, berimpitan di kursi belakang, berpegangan sedemikian rupa, berusaha menahan mual karena jalan yang berkelok-kelok. Jangier dan Adit harus duduk di atap, menantang angin dan menerobos ranting-ranting yang melintang.

4134b0e2-9a5d-4dca-bbdd-27ae213f0fb4

ab93dcc7-b36d-4aac-8836-687174857783

Dari perjalanan di mobil jeep kuning ini kami akhirnya tahu kalau Adit adalah seorang psikolog dan mungkin pengalaman menghabiskan waktu berdua di atap mobil dengan Jangier akan sangat bermanfaat mengingat yang kami tahu, teman kami yang bernama Jangier ini sangat identik dengan kondisi emosional bernama ‘galau’.

Hari sudah mulai gelap ketika kami tiba di Ranu Pane. Jalan tanah setapak yang akan kami lalui juga becek, sisa hujan deras yang baru saja mengguyur. Agaknya pendakian kami akan dimulai dengan kondisi yang cukup menantang.

edad7ab4-5f57-40a0-9b49-cf900bf9a68c

Kami mulai bersiap-siap. Merapikan isi tas kami, mengeluarkan headlamp dan peralatan pendakian penting lainnya, bersiap memulai perjalanan. Setelah berdoa bersama, kami pun mulai berjalan menyusuri jalan setapak, dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo.

Antusiasme dan kesukacitaan saya berkahir ketika carrier biru saya mulai saya cangklongkan di bahu dan punggung. BERAT. Begitu bahu dan punggung saya bersentuhan dengan tas, terasa sesuatu yang tidak wajar menjalar di urat saraf saya, seperti kesemutan. Bahu saya meronta gemetaran. Keringat dingin saya mulai keluar, asam lambung saya naik, saya pun menjadi pucat pasi.

Sempat terpikir untuk berperilaku manja, meminta beban dibagi atau bahkan dibawakan. Tapi ke siapa? Saya tahu semua teman saya membawa beban yang sama kalau tidak lebih berat dari saya. Tidak ada porter yang bisa dimintai pertolongan. Saya harus kuat. Tidak ada pilihan lain. Dengan modal tekad dan nekat, saya pun merayu diri saya sendiri, meyakinkan kalau saya pasti bisa.

Hal semacam inilah yang paling saya sukai dari mendaki gunung. Pendakian dengan segala keajaibannya seringkali harus memaksa diri saya untuk melebarkan batas kemampuan diri. Dari yang tadinya tidak bisa, menjadi harus bisa. Dan ketika batas itu sudah melar dan melebar, tidak ada opsi untuk kembali menyusut. Tidak ada kata pernah bisa. Jadinya saya akan menjadi sangat berbahagia, karena akhirnya bisa mengalahkan diri saya dan batasan-batasan yang saya buat sendiri.

*

Ada untungnya perjalanan kami dilakukan di malam hari. Gelap membuat kami tidak sempat mengeluh, takut membuat kami gigih, ingin cepat sampai. Pendakian jalur menanjak, meskipun menguras stamina, tidak terlalu membebani saya. Begitu Ranu Kumbolo tampak, dan kami harus berjalan di turunan, tas besar dan berat saya kembali menyiksa. Menekan-nekan tulang, membakar bahu saya. Perih dan sangat menyakitkan.

Begitu sampai di area perkemahan, saya membuang jatuh tas besar saya di tanah. Menggeletakan diri saya di rerumputan, dan menangis karena kesakitan. Ini kali pertama saya menangis dalam pendakian.

Kaca, Dhini, dan Fitri tampak begitu khawatir, menawarkan berbagai solusi supaya besok saya tidak perlu membawa beban yang terlalu berat. Teman-teman yang lain sepertinya enggan mengusik saya yang sedang kesal dan kesakitan.

Tergeletak di atas rumput, menangis sambil memandang langit, rasa kesal dan sakit saya dengan begitu mudah menguap. Langit malam penuh bintang, dengan semburat kabut putih milky way, menjadi obat yang sangat mujarab. Keindahan seperti inilah yang membuat saya bersedia berlelah-lelah, bersakit-sakit, membuang kenyamanan kota, dan menyeret diri saya ke sini. Tidak ada yang memaksa. Ini panggilan dan saya harus bertanggung jawab penuh terhadapnya.

e19ef18f-7df6-47cf-beaa-f83423a0af76

Keesokan paginya, kami baru dapat menyaksikan kecantikan legendaris danau kesayangan para pendaki di Indonesia ini. Ranu Kumbolo, danau luas diapit bukit-bukit, dengan hamparan padang rumput yang luas, sangat nyaman dan hangat untuk mendirikan perkemahan. Pantulan bayangan di danau dan warna-warni tenda para pendaki membuat kami tersenyum dan mengangguk, paham mengapa danau ini begitu harum ternama.

40a1e252-5bba-4a79-9def-508fb2ef2448

Pagi ini jadwalnya kami harus mengemas tenda dan tas-tas besar kami. Meskipun sudah berdamai dengan kekesalan dan rasa sakit, tidak berarti saya menyerah kalah. Saya tetap mencari cara agar saya tidak perlu merasakan sakit-sakit ini lagi. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang dengan ketua rombongan, akhirnya kami sepakat untuk menitipkan sebagian makanan dan barang-barang yang tidak terpakai di perjalanan ke Kalimati dan Puncak Mahameru ke penjaga Ranu Kumbolo. Toh, nanti kita akan kembali lagi ke sini. Dan ternyata setelah dikumpulkan perbekalan logistik kami itu begitu mewah. Kami bisa membuka toko kelontong di sini. Tuna kaleng, sarden, beras 5 kilo lebih, pantas saja tas kami begitu berat seolah membawa bata atau baja.

Meninggalkan barang-barang yang tidak perlu, akhirnya saya bisa melenggang hanya dengan membawa daypack saja. Alhamdulillah. Mood saya kembali membaik. Strategi serupa juga dilakukan oleh teman-teman saya. Fariz dan Delta meninggalkan sebagian besar barang bawaan mereka, Mas Basuki dan Jangier meninggalkan satu carrier mereka dan bergantian membawa carrier yang tersisa. Hanya Kris sepertinya yang tetap tangguh membawa beban berat di dua tasnya.

c3db2db2-16fa-4371-aa98-bbdd28d8aa67

Melakukan pendakian di siang hari, meskipun terik matahari membakar kulit dan menguapkan air, sehingga membuat kami cepat haus, tetap jauh lebih menarik ketimbang pendakian malam yang gelap. Dari Ranu Kumbolo, kami harus mendaki Tanjakan Cinta, yang konon jika seseorang berhasil mendakinya tanpa menengok ke belakang, maka orang tersebut akan mendapatkan cinta yang diidam-idamkannya.

Setelah Tanjakan Cinta, kami disambut oleh padang lavender di Oro-Oro Ombo. Sayangnya bunga-bunga ungu cantik ini belum mekar dengan sempurna saat kami ke sana, tapi tetap saja menarik bagi kami, anak-anak kota yang jarang melihat padang rumput kekuningan ini.

dcce3683-fce7-4e12-98f3-177d01cd45be

53bdd83f-c28f-4884-b742-e22f18b31ddd

Kami beristirahat sebentar di Oro-Oro Ombo. Rombongan kecil kami sudah terpisah dari rombongan besar. Memang sulit menjaga agar rombongan 30 orang bisa terus berjalan beriringan. Tempo berjalan orang-orang tidak bisa disergamkan. Itulah sebabnya, saya selalu lebih nyaman mendaki dalam kelompok kecil. Empat orang adalah angka yang bagi saya paling ideal.

Di rombongan kecil kami, Kris selalu berjalan paling depan. Dengan ucapan khasnya, “Saya duluan ya. Mau masak air!” Kris yang memang lebih nyaman sendirian, selalu memilih untuk bergerak lebih dahulu. Nanti ketika sudah sampai tempat peristirahatan atau perkemahan, dia akan dengan sigap menyiapkan minuman hangat buat kami yang datang belakangan. Kris yang tidak makan nasi bahkan rela membawa beras yang berat di tasnya, dan memasakannya untuk kami. Sikap Kris yang acuh dan dingin, tapi sebenarnya selfless dan manis inilah yang membuat saya selalu ingin mendaki bersamanya. Tapi sepertinya visi mendaki kami cukup berbeda. Kris hanya tertarik pada gunung-gunung tinggi saja.

Berbeda dengan Ranu Kumbolo yang hangat dikelilingi bukit dan danau, Kalimati sangat dingin. Jam empat sore angin dingin sudah rebut menerpa tenda-tenda kami, membuat kami enggan bercengkrama dan mengobrol di luar tenda. Lagi pula sangat penting bagi kami untuk menyiapkan diri menyambut summit attack. Konon katanya puncak Mahameru adalah salah satu puncak yang terdahsyat di Indonesia.

Kami tidur cepat, mempersiapkan diri untuk pengalaman yang bisa dibilang, ‘CUKUP SEKALI SAJA SEUMUR HIDUP!’

[Bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s