Sebuah Sore di Stasiun Pasar Senen

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian pertama

Pagi ini, seorang teman, Fariz namanya, mengirimkan sebuah pesan, “Sudah setahun, Si Semeru. Trip yang memulai segalanya”.

Saya yang baru bangun tidur, belum sadar benar, hanya menjawab seadanya. Namun, tidak bisa tidak, pikiran saya kemudian berjalan-jalan mengunjungi rincian kejadian yang terjadi di bulan Mei setahun yang lalu. Saya teringat wajah-wajah yang dulu masih asing, kini menjadi akrab, dan sahabat-sahabat yang dulu dekat, kini semakin berjarak.

Perjalanan ke Puncak sakral tertinggi di Tanah Jawa, mulai kami rencanakan Maret tahun lalu. Saat itu, saya, Fitri, dan Kris, yang setelah menjajal Puncak Anjani, menjadi terobsesi untuk mencicipi gunung-gunung api tinggi lain di Indonesia, memutuskan untuk mendaki Semeru. Kami mulai mengumpulkan massa. Saya mengajak, Kaca, sahabat saya yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan daki mendaki. Kaca kemudian mengajak Haru dan menyarankan kita untuk mengikuti open trip, biar tidak usah repot. Kris kemudian mengajak Dhini, teman kantornya, dan Dhini kemudian mengajak Adit, juga teman kantornya. Masih ada kuota yang dimiliki oleh penyelenggara open trip, saya pun mengajak Delta, sahabat kecil saya. Dan terakhir, saya mengajak Jangier, teman kuliah saya yang kemudian mengajak Fariz, juga teman kuliah kami.

Lengkap. Saya, Fitri, Kris, Kaca, Haru, Dhini, Adit, Delta, Jangier, dan Fariz, sepuluh orang yang akan berangkat bersama, dengan status yang beragam, sahabat, teman, dan temannya teman. Bagi saya, membentuk tim pendakian dalam jumlah besar itu butuh seni, strategi dan intuisi. Mungkin sama rumitnya seperti membentuk pasukan dalam perang. Meskipun terbuka dan selalu berusaha menerima siapa saja yang ingin bergabung dalam setiap perjalanan saya, namun untuk urusan mendaki, diam-diam saya selalu waspada dan hati-hati dalam menyusun tim pendakian saya. Saya tidak ingin terjadi masalah-masalah yang tidak perlu, hanya karena ada karakter yang tidak cocok. Saya ingin semuanya bisa menikmati perjalanan dengan hati senang dan saling membantu serta melindungi hingga kembali ke rumah masing-masing.

Susunan tim ini, yang kemudian kita beri nama Talenta 2000, menurut saya sudah cukup pas. Tidak benar-benar seragam, sedikit memiliki potensi terjadi konflik, tapi secara intuisi, saya rasa akan membuat perjalanan lebih berwarna.

Kami semua benar-benar antusias dengan perjalanan ini. Dari jauh-jauh hari kami mulai membeli tiket kereta, membeli dan menyewa peralatan pendakian, membagi tugas belanja keperluan logistik, bahkan sebagian dari kami mulai melakukan pendakian ‘pemanasan’ di Gunung Manglayang. Kami benar-benar berusaha untuk siap, walaupun kami tahu, di depan akan ada kejutan dan hal-hal yang tidak terduga.

6e5d2497-2e77-4fd1-aee7-c40d3ef58ae4

66d09376-a601-43f2-a9c0-5d4d0d25a15d

Kejutan pertama dimulai ketika Haru tiba-tiba tidak bisa berangkat. Mendadak ia diminta bosnya untuk pergi ke suatu tempat di hari perjalanan kami. Tiket kereta sudah terlanjur dibeli, pembayaran open trip sudah terlanjur dilunasi. Karena sayang, akhirnya kami berusaha mencari pengganti Haru.

Saya teringat Mas Basuki, teman sekantor saya dulu, seorang fotografer yang dulu pernah saya dengar mengeluh, “Saya bosan memotret makanan dan pesta-pesta melulu. Saya lebih suka memotret yang hijau-hijau”. Saya juga teringat ceritanya kehabisan air di Gunung Rinjani. Sepertinya Mas Basuki akan genap melengkapi pasukan Talenta 2000. Langsung saja saya tanya. Dan tanpa ba bi bu, dia menyatakan bersedia.

Tim kami kembali lengkap. Sepuluh orang. Saya, Fitri, Kris, Kaca, Dhini, Adit, Delta, Jangier, Fariz, dan Mas Basuki.

Di Hari-H keberangkatan, 12 Mei 2015, kehebohan terjadi. Saya dan Kaca hampir tidak berangkat karena terlambat. Ceritanya begini, Kaca yang tinggal di Tebet, diantar Haru akan menjemput saya di Setiabudi dan bersama-sama akan pergi ke Stasiun Pasar Senen. Kereta kami berangkat pukul 15.15.

Saya sudah bersiap dari pukul 12 siang, duduk menunggu di pelataran Setiabudi One, jejeran pertokoan yang selalu saya sebut sebagai ruang tamu saya. Kaca bilang akan segera berangkat. Namun karena dia harus meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, banyak yang harus ia cek. Jadinya ia sedikit terlambat keluar dari rumah. Rupanya macet. Di mana-mana macet. Kaca dan Haru terjebak tidak bergerak di ruas-ruas jalan ibu kota. Saya mulai gelisah.

Pukul 2 siang, Kaca mengirim pesan, “Kamu berangkat duluan saja, masih macet. Daripada kita berdua tidak berangkat, lebih baik kamu berangkat duluan”.

Dengan berat hati, saya pun memanggil taksi. Berangkat lebih dulu, berdoa semoga semua lancar dan semua bisa berangkat sesuai rencana. Teman-teman yang lain sudah siap sedia di Stasiun Pasar Senen, membombardir kami dengan telepon dan pesan, “Kalian di mana?”

Di Taksi, Jalan Kuningan yang tadinya sepi, tiba-tiba padat ketika bergerak ke arah Menteng. Pukul 14.30 saya mengirim teks kepada Kaca, “Menteng macet. Saya terjebak di sini”. Kaca membalas dengan, “Saya lewat Diponegoro dan lancar. Coba ubah arah”.

9fa24b23-fe99-4346-81c4-eaa9cbfe522e

Saya melihat kiri kanan. Berhenti, satu arah, tidak ada ruang untuk bergerak, apalagi memutar arah. Saya panik. Tanpa banyak berpikir, saya memutuskan untuk keluar dari taksi dan berusaha mencari ojek. Dengan menggendong carrier 50 liter saya, saya berjalan menyusuri perumahan elit Menteng, mencari ojek yang ternyata langka di sana. Tidak ada satu pun. Saya panik, tidak tahu harus berjalan sampai mana, tidak tahu kapan harus memutuskan untuk menyerah.

Tiba-tiba di depan saya ada seorang pemuda bermotor, berhenti seperti menunggu saya.

Begitu saya berjalan mendekat, dia menegur saya, “Mbak, ini tadi jamnya jatuh,” serunya sambil menyodorkan jam tangan saya, yang bahkan tidak saya sadari tadi sempat terjatuh.

“Terima kasih!” seru saya, sebenarnya sudah tidak terlalu peduli dengan keberadaan jam tangan saya. Namun tiba-tiba, entah dari mana, tanpa saya sadari, tanpa berpikir panjang, saya dengan tidak tahu malu, tanpa gengsi, tanpa rasa takut ataupun waspada, meminta pertolongan pemuda tidak dikenal tersebut, “Mas, boleh minta tolong antarkan saya ke Stasiun Pasar Senen?”

Mungkin ketika itu, saya yang sudah sangat putus asa, menganggap bahwa pemuda itu adalah bantuan yang dikirimkan oleh Tuhan, sehingga alam bawah sadar saya menyuruh saya untuk berjudi, melihat peruntungan saya, apakah saya tetap akan bisa berangkat jika mencoba memanfaatkan pertolongan Tuhan ini.

Pemuda tersebut terlihat terkejut dengan permintaan saya. Namun mungkin karena wajah saya yang terlihat sangat panik dan melas, akhirnya ia meluluskan permintaan saya. Saat itu, kalau tidak salah sudah menunjukkan pukul 14.45.

“Mbak suka naik gunung juga?” tanya pemuda itu basa-basi.

“Iya Mas, ini saya mau ke Semeru. Kereta jam tiga seperempat, Mas”.

Pemuda itu melihat jam tangannya. “Wah!” katanya terkejut, karena keberangkatan saya sudah sangat mepet. Ia pun memacu motornya.

Saya yang biasanya selalu senang diajak berbicara, mungkin karena terlalu panik, menjadi sangat pendiam. Saya sibuk membalas pesan teman-teman saya yang sudah panik menunggu di stasiun.

Lima menit sebelum keberangkatan kereta kami, saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Saya hendak berterima kasih kepada pemuda yang mengantar saya dengan memberikan uang dan mencatat nomor teleponnya, namun ia berseru ikut panik, “Sudah Mbak, tidak usah! Cepat lari saja, nanti keburu berangkat keretanya!”

Saya pun berlari, dengan perasaan bersalah karena tidak sempat memberikan ucapan terima kasih yang pantas dan perasaan menyesal karena sampai detik ini saya tidak tahu siapa pemuda pertolongan Tuhan tersebut. Saya hanya berharap kebaikan pemuda ini akan diberi balasan yang berlipat-lipat ganda.

Stasiun Pasar Senen hari itu sudah sangat ramai. Saya yang tidak atletis ini benar-benar harus berlari sekuat tenaga, dengan memikul tas yang beratnya lumayan, menembus kerumunan orang yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing.

Mas Basuki menunggui saya di depan kerumunan orang, mengarahkan saya ke pintu masuk. Saya ingat petugas sempat berteriak, “Ini, ini temannya! Kasih jalan, kasih jalan!”

Saya merasa seperti Nabi Musa tanpa tongkat. Kerumunan orang yang berdesakan di depan pintu masuk, karena mandat dari petugas tiba-tiba terbelah dan saya bisa berlari masuk tanpa halangan. Kaca sudah berada di dalam, teman-teman yang lain celingak-celinguk dari gerbong kereta.

Saya merasa kerusuhan hari ini sudah selesai sampai tiba-tiba Mas Basuki berseru, “KTP saya mana?”

KTP! KTP di sini maksudnya KTP Haru, orang yang digantikan Mas Basuki. Saya mencari Kaca, “Ca, KTP Haru!”

Kaca panik, dengan lemas dia berseru, “Lupa!”

Saya ikut lemas. Saya kehilangan kata. Saya melihat wajah Mas Basuki yang tidak bisa masuk, begitu kecewa dan kesal. Saya mengutuki diri saya sendiri.

“Ayo-ayo masuk!” petugas menggiring saya dan Kaca masuk ke gerbong, meninggalkan Mas Basuki dengan kekecewaannya di stasiun.

[Bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s