Cendana

Namaku Cendana. Aku tinggal di sebuah pulau di ujung Republik. Di mana-mana, yang namanya ujung, biasanya seringkali terlupakan. Terlalu jauh untuk dijangkau. Tidak begitu penting untuk diperhatikan. Begitulah kondisi pulauku. Sejujurnya aku belum pernah pergi ke luar pulau. Aku tidak tahu ada apa di luar sana. Tapi terkadang, jika ayah menyuruhku ikut mengantarkan tamu-tamu yangContinue reading “Cendana”

Taksi Malam Itu

//Dira// Lobby Senayan City, Jakarta 21.07 WIB IDR 7,500 Sebuah taksi berwarna biru akhirnya berhenti di depan kami. Bak jodoh yang telah sama-sama mencari dan menanti, aku, Delta, dan taksi dengan nomor DD2001 dipertemukan malam itu. Lepas pukul sembilan malam seperti ini, memang taksi-taksi selalu berjajar rapi, bergantian menjemput penumpang yang juga telah mengantri, menungguContinue reading “Taksi Malam Itu”

Aku Ingin Menjadi Tampan

“Katanya lu sayang sama gua,” kata Cik Linda, menatapku tajam. Tatapan yang tidak dapat dibantah. “Kalau memang lu sayang, lu harus pakai ini gaun di nikahan gua”. Aku memandangi gaun berwarna peach tersebut dengan lemas tak berdaya. Modelnya kemben, panjang hingga mata kaki dan penuh renda. “Lu nggak kasihan, Cik sama gua?” aku memelas. MengeluarkanContinue reading “Aku Ingin Menjadi Tampan”