Nasi Kuning Emak

“Emak sehat?” tanyaku.

“Inggih” jawab Emak sambil tersenyum sopan.

“Kerasan di kampung, Mak?” tanyaku lagi.

“Inggih,” jawab Emak sambil mengangguk sopan.

Kupandangi wanita tua di hadapanku dengan alis berkerut keheranan. Wanita ini memang Emak. Namun entah mengapa aku merasa asing dan tidak mengenalinya lagi.

“Emak-e eling mboten karo kulo?” Apakah Emak ingat pada saya, tanyaku.

Emak memandangiku selama beberapa detik, lalu menggeleng perlahan.

“Mboten,” jawabnya lalu menunduk malu.

*

“Selamat ulang tahun, ndok!” Emak menghambur ke kamarku yang masih gelap dengan sepiring nasi kuning lengkap dengan ayam goreng serundeng, telur dadar yang diiris-iris tipis, bihun, perkedel, dan irisan timun. Jam lima pagi, matahari belum juga muncul, namun hidangan mewah ini setiap tahun selalu membangunkanku di hari ulang tahunku.

“Terima kasih, Mak!” seruku tersenyum, berusaha membuka mata. “Mak-e bangun jam berapa?” tanyaku sambil menyambut piring dari tangannya dan memeluknya.

“Yo wis kaet mau!” Jawab Emak dengan gaya khas nya yang ketus. “Ayo cepet tangi, solat, ndang siap-siap sekolah!”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kuhabiskan nasi kuning lezat di hadapanku dan kujalani aktivitas pagi hariku, layaknya hari-hari normal lainnya, bersiap-siap pergi ke sekolah.

Telepon genggamku berbunyi.

“Sayaaaaaang, selamat ulang tahun ya!” Ibu menelpon.

“Terima kasih, Bu!” jawabku. “Uda solat? Uda mandi? Mau kado ulang tahun apa?” Ibu mengajukan serentetan pertanyaan secara berturut-turut.

“Sudah, Bu,” jawabku. “Umm, apa aja deh kadonya. Terserah ibu aja!”

“Yaudah, nanti Ibu beliin kado yang bagus. Baik-baik di rumah ya, sayang. Ibu pulang minggu depan!” tutur Ibu.

“Iya, terima kasih ya, Bu. Hati-hati di sana!”

Kuambil ranselku dan segera aku turun untuk berangkat sekolah.

“Ojok mulih bengi, yo! Engko sego kuninge ora ono sing mangan!” Jangan pulang malam, nanti nasi kuningnya tidak ada yang memakan, Emak menasihati sambil membawakan aku bekal.

“Iya. Berangkat dulu ya, Mak!” seruku sambil bergegas pergi.

Kuberjalan menyusuri jalanan kompleks rumahku yang masih sepi. Orang-orang, tetangga-tetanggaku mungkin masih sibuk mandi dan sarapan bersama keluarganya masing-masing. Atau mungkin masih ada yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Tinggal di ujung tenggara kota Bandung, dan bersekolah di daerah Bandung utara, memiliki konsekuensi tersendiri. Aku harus bangun ekstra pagi setiap harinya, agar tidak harus berebut angkutan kota dengan para pelajar lain serta mengurangi resiko dihukum guru piket karena datang terlambat.

Jer basuki mawa bea. Setiap kesuksesan dan keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Begitu kata Emak, setiap kali aku mengeluh karena harus bangun pagi-pagi.

Kubuka tas sekolahku dan kuambil buku Totto-Chan karya Tetsuko Kuroyanagi yang kemarin baru saja kupinjam dari taman bacaan langgananku. Salah satu hal yang kusyukuri dari rumahku yang jauh dari sekolah adalah aku jadi memiliki waktu untuk membaca. Perjalanan yang panjang, serta sepinya rumahku dapat membuatku dapat menamatkan 5 hingga 6 novel setiap minggunya.

“Pagi, Pak!” sapaku pada Pak Sum, satpam sekolahku yang sudah duduk rapi di posnya.

“Pagi, Neng!” jawab Pak Sum sambil tersenyum.

“Pagi terus euy, si Neng datangnya!”

“Jauh atuh Pak, rumah saya. Kalau kesiangan sedikit, nanti dihukum sama Pak Amin!” seruku sambil tertawa.

Pak Sum membalas tawaku dengan tawa renyah yang sopan.

Kubuka pintu kelasku, masih kosong, dan kududuk di bangkuku. Baris ketiga dari depan, kolom kedua dari jendela. Kucek semua buku pelajaranku dengan jadwal harian yang menempel di agendaku. Saat semua buku, catatan, latihan, paket, LKS, dan semua tugas untuk hari ini sudah lengkap, kembali kubenamkan diriku dalam kalimat-kalimat di buku yang sedang kubaca.

“Hei!” Seseorang mengejutkanku dengan suara lantangnya dan mengebalikanku ke dunia nyata setelah menarik paksa buku yang sedang kubaca dari tanganku.

Rupanya Arya, sahabatku. Ia berdiri di hadapanku dan menyodorkan bungkusan kotak pipih kepadaku. “Buat kamu!” serunya.

“Dalam rangka?” tanyaku, pura-pura polos.

“Aku inget dong ulang tahun kamu!” jawab Arya bangga. “Selamat ulang tahun ya, Ras!” seru Arya sambil menepuk-nepuk pipiku.

“Ini apa isinya?” tanyaku. “Mixtape lagi ya?” Arya tersenyum lebar, “Huuuu, ngga kreatif! Ngga modal!”

“Kamu kan sudah punya semuanya, Ras!” seru Arya.

“Kata siapa?” cibirku.

“Aku nanti ke rumah ya! Ngabisin nasi kuning Emak. Sayang kalau ngga ada yang makan!”

Aku tersenyum. Aku teringat kejadian dua tahun lalu. Saat aku baru mengenal Arya. Saat perang dingin di rumahku baru dimulai. Aku yang masih naif, masih berpikir bahwa keluarga yang berfungsi normal dan bahagia seperti iklan-iklan mie instan di televisi itu benar-benar ada, benar-benar terkejut, marah, dan kecewa karena sikap orang tuaku.

Tidak cukup hanya berlomba-lomba pulang paling malam, kemudian saling berteriak tertahan dari dalam kamar, berpura-pura tidak saling mengenal dan tidak terjadi apa-apa di depanku, mereka juga benar-benar melupakan ulang tahunku.

Aku dengan segala kebodohan dan kenaifan anak berusia lima belas tahun, menangis di pojok aula kosong selepas jam pulang sekolah. Arya yang kebetulan melewati aula karena LKS nya tertinggal di kelas, mendengar isakanku dan menghampiriku.

Tanpa memedulikan rasa malu dan harga diri, ketika Arya bertanya, “kenapa menangis?” aku mulai meraung dan menumpahkan semua kesedihan, kemarahan, dan kekesalanku padanya. Pada Arya yang pada waktu itu belum aku kenal sama sekali. Setelah badai emosiku mulai reda, sekitar 40 menit setelahnya, Arya memaksa mengantarkanku pulang, dan disitulah pertama kalinya ia merasakan nasi kuning Emak.

“Pokoknya, tiap kamu ulang tahun, aku pasti datang ke rumahmu!” kata Arya dengan mulut penuh. “Ini nasi kuning paling enak yang pernah aku makan!” Dan Arya selalu menepati janjinya.

*

“Raras, duduk sini sebentar, sayang!” panggil Ibu suatu hari. Dua hari setelah ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru. Aku duduk dan menghela nafas. Menyambut datangnya pembicaraan yang kutahu cepat atau lambat akan datang juga.

“Sebelumnya Ibu dan Ayah ingin meminta maaf kepada kamu karena harus ikut merasakan permasalahan yang terjadi di antara kami. Dan satu hal yang perlu kamu tahu, apapun yang terjadi kami tetaplah orang tuamu dan kami sangatlah menyayangimu. Tidak ada yang berubah tentang hal itu,” Ayah mencoba membuka penjelasannya.

Ibu menunduk terdiam menahan tetesan air matanya. Aku memandangi keduanya dengan ekspresi datar. Mencari kesamaan realita yang sedang terjadi di hadapanku dengan imajinasi mengenai hal ini yang sudah berkali-kali kuputar di kepalaku.

“Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Ayah harus pindah ke Tokyo dan Ibu akan kuliah lagi di Newcastle,” ujar Ayah dengan nada datar bijaksana yang dibuat-buat.

“Ayah dan Ibu percaya kalau kamu sudah dewasa, sudah bisa menentukan sendiri masa depan yang kamu inginkan. Ayah dan Ibu sepenuhnya akan mendukung apapun keputusan kamu,” tambah Ayah.

Aku berdiri, “Raras mengerti,” ujarku dengan datar dan beranjak pergi dari ruang tamu.

Ibu dan Ayah sepertinya terbenam dalam rasa bersalah mereka sehingga tidak ada yang berani menyusulku.

Aku mengurung diri di kamar. Menunggu terdengarnya dua suara mobil yang dinyalakan secara bergantian, seperti yang biasanya terjadi jika kebetulan orang tuaku berada di rumah pada waktu yang bersamaan.

Aku mengetuk pintu kamar Emak. Emak membuka pintu dengan mata menyipit, rambut terurai yang jarang sekali kulihat, serta daster tidurnya.

Opo o, Ndok?” tanya Emak.

Tidak kujawab pertanyaan Emak dan langsungku berlari menuju tempat tidurnya. Aku berbaring melingkar tanpa bersuara sedikitpun. Emak duduk di sampingku dan mengelus-elus rambutku dan menyenandungkan lagu Ande Ande Lumut, lagu yang selalu Emak nyanyikan sejak aku kecil dulu.

“Emak nanti ikut Ibu?” tanyaku akhirnya. Emak adalah pengasuh Ibuku yang sudah bekerja untuk kakek dan nenekku sejak Ibuku berusia enam tahun. Emak terus merawat ibu, hingga ibu dewasa dan kemudian merawatku hingga saat ini.

Yo ora tho, Ndok. Moso pantes Emakmu iki lungo ning Nginggris!” Tentu saja tidak, mana berani aku pergi ke Inggris. jawab Emak. Aku bangkit dan duduk.

“Terus Emak tinggal di mana?” tanyaku penuh kejut dan tanya.

Aku sudah memprediksi perpisahan orang tuaku. Dan Aku sudah tahu bahwa Ibu dan Ayah akan pergi mengejar mimpi dan tanggung jawabnya masing-masing. Kemana mereka pergi, aku tidak peduli. Tapi sebelum ini aku tidak pernah memikirkan ke mana Emak akan pergi. Aku terlalu sibuk memikirkan ke mana aku akan pergi jika perpisahan orang tuaku pada akhirnya terjadi.

Di kepalaku sudah terancang beberapa alternatif kemana aku harus menempel menjadi parasit jika orang tuaku berpisah. Semua pro dan kontra sudah aku pikirkan jika Aku tinggal bersama Ibu, bersama Ayah, bersama keluarga tante, keluarga bude, tinggal bersama nenek, dan berbagai alternatif lainnya. Aku terus menimbang-nimbang segala baik buruknya, hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri. Menempuh empat tahun kuliah sendiri, kemudian segera bekerja dan hidup mandiri. Semua sudah kupikirkan, tapi tidak dengan keberadaan Emak.

Aku merasa sangat sedih. Aku merasa menjadi manusia yang sangat egois. Manusia seperti Ayah dan Ibu, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Manusia yang kuharap tidak akan pernah menjadi diriku. Tapi ternyata aku sama egoisnya. Sama jahatnya.

Yo mulih ning kampung!” jawab Emak santai. “Aku arepe angon bebek!” Ya pulang kampung, aku mau beternak bebek.

Aku menangis. Menangis terisak. Padahal sebelumnya aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis lagi. Setidaknya tidak untuk masalah perpisahan orang tuaku. Karena air mataku sudah kering. Dan aku sudah bosan. Tapi akhirnya aku mengingkari janjiku, dan kembali menangis.

Aku kangen kampung, Ndok. Aku uwis puas ngalor ngidul. Saiki giliranmu, Ndok!” Aku merindukan kampung. Aku sudah puas pergi kesana-kemari. Sekarang giliranmu. Emak mencoba menghibur.

*

Kudorong koper besarku dengan senyum mengembang. Akhirnya aku menginjakkan kaki kembali di negeri ini. Pulang setelah empat tahun menuntut ilmu di ujung selatan dunia.

“Raras!” Arya berlari menghambur ke arahku. Kutinggalkan koper besarku dan berlari menyambutnya.

“Kangeeeeeeennnn!” seruku.

Gagal diterima di perguruan tinggi negeri, aku memutuskan untuk kuliah di Melbourne empat tahun lalu. Meskipun aku juga mendapatkan offering letter dari universitas di Tokyo dan Newcastle, tempat Ayah dan Ibu tinggal, tetapi aku memutuskan untuk menjauh dari mereka. Aku ingin hidup sendiri karena aku sudah terbiasa hidup sendiri. Terima kasih kudedikasikan kepada ayah dan ibu untuk hal ini.

Empat tahun tanpa sekalipun pulang, aku sangat merindukan negeri ini.

“Ras, bulan depan ke Kediri yuk!” ajak Arya sambil mengendarai mobilnya melintasi jalan tol baru yang menghubungkan Bandung dan Jakarta.

Aku yang dari tadi diam memandangi jendela sambil sesekali berkomentar setiap menemukan hal yang berbeda dari empat tahun lalu pun tersadar dan memandangi Arya.

“Kediri? Untuk apa?” tanyaku bingung.

“Bulan depan kan ulang tahunmu. Aku pingin ketemu Emak, minta dibuatin nasi kuning paling enak sedunia!” seru Arya.

Aku kembali menangis. Mengutuki diriku yang benar-benar lupa tentang Emak. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku dan aku mulai meraung.

“Yah, masih suka nangis ternyata!” Arya berkata tidak berdaya.

“Mau, mau ke Kediri!” seuku di sela-sela isakanku.

Aku teringat Emak, segala hal yang dia lakukan padaku sejak aku lahir hingga aku tumbuh dan terpaksa menjadi dewasa, serta cerita-cerita yang ia kisahkan kepadaku dulu.

Cerita tentang masa kecilnya, membantu orang tuanya beternak sapi dan bebek, tentang kakaknya yang katanya judes dan selalu mau menangnya sendiri, tentang mantan suaminya yang kurang ajar, selingkuh, menikah lagi, dan ia pukul kepalanya dengan ulekan karena kesal, tentang anaknya yang gugur di dalam kandungan karena kesedihan dan kemarahannya, tentang keputusannya untuk meninggalkan kampung dan memulai hidup barunya.

Aku merenung dan menyadari aku belajar sangat banyak dari Emak. Emak bukan sekedar pengasuh, penjaga, teman, tapi juga guru yang sangat luar biasa. Emak mengajariku untuk berani, mandiri, kuat, dan tidak tergantung pada siapapun.

Kebo mulih menyang kandhange,” ujar Emak empat tahun lalu saat aku dan Arya mengantarkan beliau ke terminal, mengantarkannya pulang ke kampung halamannya. Menutup petualangan dan perantauannya, dan kembali ke rumahnya. Kerbau kembali ke kandangnya. Orang yang sudah bepergian jauh akan kembali ke tempat asalnya. Jangan pernah melupakan asal usul dan kampung halaman kita.

*

Emak-e mboten eling karo kulo?” Emak tidak ingat pada saya? Tanyaku sedih.

Aku melirik kea rah Arya dengan mata berkaca-kaca. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi, air mata ini akan tumpah dan aku bisa menangis meraung-raung seperti orang gila.

“Raras sama Arya, Mak!” seru Arya mencoba mengingatkan. Tahu aku sudah tidak kuat berkata apa-apa lagi.

Emak-e sampun pikun. Mboten eling nopo-nopo,” Mbak Yem, tetangga yang sekarang mengurusi Emak menjelaskan.

Kugenggam tangan Emak dan berkata, “mboten nopo-nopo, sing penting Emak-e sehat,” seruku sambil berusaha tersenyum.

Monggo dahar rumiyen,” Silahkan, makan dulu, seru Mbak Yem mempersilahkan kami makan.

Niki pas pisan dathengipun. Emak-e nembe masak sego kuning!” Ini pas sekali datangnya. Emak baru saja masak nasi kuning. Aku dan Arya saling berpandangan.

“Emaknya sering, Mba, masak nasi kuning?” tanya Arya.

Ooh mboten. Namung setaun pisan. Duko enten menopo. Saben tanggal 25 April, Emak-e mesti masak sego kuning,” Tidak. Hanya setahun sekali. Tidak tahu ada apa, tetapi setiap tanggal 25 April, Emak pasti masak nasi kuning.

Aku memeluk Emak dan menangis sejadi-jadinya.

*

Ilustrasi: Ibu Pileuleuyan karya Affandi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s