Wregas Bhanuteja’s Short Movies

Prenjak

Menghibur saat ditonton, namun meninggalkan residu yang mengusik setelahnya. Menurut saya itu benang merah film-film pendek Wregas Bhanuteja.

Penonton dibuat tertawa karena konyolnya realita yang terasa begitu dekat, namun lantas dipaksa berpikir. Tidak bisa tidak. Katanya, memang begitu karakter orang-orang di sekitar kita, terutama orang Yogya, tempat Wregas tumbuh besar, terbiasa melihat unsur komedi dalam tragisnya masalah yang terjadi. Mungkin benar.

Akting yang luar biasa, terutama di film Lemantun. Saya bisa membayangkan pakde-bude saya berbicara dan bercanda seperti itu.

Bahasa Jawa yang begitu puitis. Memiliki nada yang begitu pas mewakili berbagai macam emosi. Tidak berjarak.

Bukan tipe film yang mengundang puja-puji, atau menghilangkan kata-kata saking luar biasanya. Film-film pendek ini, bagi saya, “cukup” mengena saja, namun sangat menarik untuk dijadikan bahan diskusi.

Film Prenjak sendiri, kalo menurut Fariz, sangat “Efektif dan Efisien”. Mungkin benar. Cerita yang menggelitik, visual yang sangat berani, dan teknik pengambilan gambar yang puitis, berhasil membungkus tema kompleks yang ingin diangkat oleh film ini. Penonton secara tidak sadar diajak bersama-sama berpikir, tanpa merasa digurui atau mendengarkan khotbah benar salah.

Tema kesetaraan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki, serta kritik mengenai kesepakatan untuk memenuhi tanggung jawab masing-masing yang seringkali masih diabaikan, berhasil menggores dan meninggalkan jejak di benak penonton tanpa perlu berkoar-koar secara terang-terangan di film.

Menurut saya sih, Wregas Bhanuteja dan kawan-kawan berhasil!

Ada Apa dengan Cinta 2 (2016)

Keberanian untuk memaafkan dan menerima, menurut saya pesan yang ingin disampaikan oleh film ini sangat jelas. Dengan menggunakan rangkaian adegan yang manis dan memancing nostalgia serta bantuan tempat-tempat ikonik dan gambar-gambar yang memanjakan mata, Riri Riza seolah ingin menjewer Rangga yang pendendam dan Cinta yang tukang ngambek, memaksa mereka untuk berdamai. Rangga yang cenderung pengecut dan lebih suka bersembunyi di balik kata-kata manis dan kesendiriannya, akhirnya berani menghadapi “hantu-hantu” dalam hidupnya. Cinta yang cenderung moralis, saklek harus mengikuti norma benar-salah, akhirnya mau menerima ketidaksempurnaan untuk kembali merasakan keutuhan diri.

Rangga dewasa bagi saya jauh lebih menarik. Dia tetap penuh kejutan seperti dulu, tapi Rangga yang sekarang punya nyali. Berani salah, berani mengambil resiko, berani jujur, dan yang paling hebat, berani meminta.

Mengutip kata-kata Widya, salah seorang sahabat saya, “Riri Riza brengsek!” Saya setuju. Bukan karena plot yang lemah, nuansa komersil berlebihan, atau manisnya nostalgia yang membuat mesem-mesem. “Riri Riza brengsek!” karena berhasil menciptakan Rangga 2.0, Rangga yang utuh karena ketidaksempurnaannya. Rangga yang tidak bisa ditolak oleh perempuan mana pun.

Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu… JAHAT!