Aku Ingin Menjadi Tampan

“Katanya lu sayang sama gua,” kata Cik Linda, menatapku tajam. Tatapan yang tidak dapat dibantah.

“Kalau memang lu sayang, lu harus pakai ini gaun di nikahan gua”.

Aku memandangi gaun berwarna peach tersebut dengan lemas tak berdaya. Modelnya kemben, panjang hingga mata kaki dan penuh renda. “Lu nggak kasihan, Cik sama gua?” aku memelas. Mengeluarkan pertahanan diri terakhirku.

“Gua nikah cuma mau sekali. Cuma sekali ini aja, Bet!” Gagal. Aku harus mengikuti apa mau cici tertuaku ini. Anak kebanggaan mami dan papi yang sempurna, yang tidak punya cacat di mata semua orang. Aku yang sudah terlanjur dilabeli ndableg, pembelot, dan liar ini harus selalu nurut dan manut kalau tidak mau diungkit dosa-dosa dan pembangkanganku selama ini. Membantah sekali, jadi kacung yang tak punya hak melawan untuk selamanya.

“Iyee dah!” aku pasrah. Menyerah. Mengaku kalah. Demi cici semena-mena yang tetap kusayangi. Rasa bersalahku karena selama ini mengecewakan keluarga besarku berhasil mengalahkan rasa maluku dengan telak. Ya aku harus rela menjadi badut sehari demi menebus keputusanku dulu, untuk percaya dan mengikuti kata hatiku. Teguh pada jati diriku.

“Gitu dong!” Cik Linda tersenyum puas penuh kemenangan. “Wig-nya jangan lupa dipakai juga ya,” tambahnya.

Aku menghela nafas. Kalah telak. Rasanya aku ingin menggali lubang dan mengubur diriku di dalamnya. Menghilang untuk selamanya. Lenyap bersama harga diriku yang sebulan lagi akan raib tak bersisa.

*

“Bet, bisa nggak sih lu nggak lari-lari gitu di rumah?” Cik Linda mengomel sambil mendongak dari buku pelajarannya. Pukul lima hingga pukul enam sore, tepat ketika mami dan papi pulang dari toko, Cik Linda akan duduk di meja makan, membuka buku pelajarannya, dan mencari sejuta alasan untuk memojokkanku karena mengganggunya belajar.

“Sorry, Cik! Gue buru-buru,” sahutku sambil bergegas meninggalkan rumah. Mengambil topiku dan segera mengayuh sepedaku.

Mami dan papi yang baru saja pulang, mencoba melepaskan kelelahan bekerja setelah sejak pukul enam pagi menjaga toko keramik dan perkakas kami yang tidak pernah sepi pengunjung mulai mengomeli dan membanding-bandingkanku dengan Cik Linda. “Bukannya belajar ya lu kayak cici lu. Malah kelayapan nggak jelas”.

Sebenarnya bisa saja aku tinggal dan mendebat semua orang di rumahku. Tapi aku enggan. Aku terlambat. Aku harus buru-buru ke rumah makan milik Koh Jimmy, tempat aku bekerja sepulang sekolah, menjadi tukang antar makanan dengan menggunakan sepeda. Aku sedang butuh uang. Aku sedang mengincar pemutar musik terbaru keluaran Apple. Namanya iPod. Katanya teknologi ini akan membuat Discman apalagi Walkman jadi tak memiliki nilai lagi. Aku ingin benda itu. Aku ingin ditemani musik yang tanpa henti. Sehingga aku tidak merasa sendiri. Dan tak perlu mendengarkan omongan ‘harusnya kamu begini, harusnya kamu begitu’ dari semua orang yang selalu merasa lebih tahu yang benar untukku.

“Abet, abet, telat lagi ya lu!” Koh Jimmy menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sorry, Koh,” aku cengengesan berharap ia maklum. “Kebablasan tidur siang gue tadi”.

“Auk ah, susah lo jadi orang sukses kalo telat melulu,” belum-belum sudah disumpainya aku. “Nih, ada tiga pesanan. Semuanya langganan, nggak jauh-jauh rumahnya. Cepet tapi hati-hati ya lu bawa sepedanya. Jangan sampe tumpah pesanannya!” Koh Jimmy mewanti-wanti. Tidak percaya padaku.

“Siap, Koh!” jawabku sok professional. Biarpun bawel, Koh Jimmy sebenarnya baik. Aku suka dan hormat padanya.

Sambil menyiapkan sepedaku, kubaca kertas pesanan yang diberikan Koh Jimmy padaku. Ada sebuah nama yang sudah kuhafal benar. Om Sena di Jalan Besi. Seorang penjahit khusus jas yang sepertinya tinggal sendirian di rumahnya yang besar dan mewah. Setiap hari ia memesan makanan di rumah makan milik Koh Jimmy. Sepertinya dia tidak memiliki pembantu dan tidak bisa memasak sendiri. Jadi selalu dibelinya lauk dan sayur dari rumah makan Koh Jimmy. Cap cay goreng dan nasi tim jamur adalah menu yang paling sering dipesannya. Aku sudah hafal.

“The Jimmy’s!” ucapku professional, mengucapkan merek dagang Koh Jimmy sesuai dengan SOP yang diajarkannya padaku.

“Kamu lagi yang mengantar,” katanya sambil sedikit membukakan pagarnya, mengambil pesananku dan membayar dengan uang pas.

“Terima kasih, Om,” ujarku sopan. “Selamat menikmati!”

“Sebentar,” panggilnya. Tidak biasanya dia memanggilku.

“Ada yang salah, Om dengan pesanannya?” tanyaku was-was. Takut akan disemprot Koh Jimmy lagi.

“Tidak,” jawabnya. “Boleh aku tahu siapa namamu?” tanyanya.

“Boleh, Om,” jawabku, masih mempertahankan profesionalitas pengantar makanan. “Abet. Nama saya Abet”.

“Abet, saya punya pertanyaan untuk kamu,” ujarnya datar. Aku diam mendengarkan. “Kamu ingin menjadi cantik atau tampan?” tanyanya.

Aku kelu. Pertanyaan apa itu? Apa maksudnya? Kenapa orang asing ini lancang menanyakan hal ini kepadaku?

Aku memang seorang tomboy. Dari kecil aku selalu cuek dengan penampilan. Aku tidak suka memakai rok. Ribet. Aku tidak suka kalau rambutku tergerai. Gerah. Aku tidak suka jika dibedaki. Hidungku gatal. Aku memang cuek apa adanya. Tapi tidak pernah sedikitpun terlintas pertanyaan semacam itu di kepalaku. Sehingga aku tidak punya jawabannya.

“Tidak perlu kau jawab sekarang,” katanya seolah bisa membaca isi kepalaku. “Kalau kau sudah siap dengan jawabannya, datanglah kemari. Aku bisa membantumu”.

Aku kehilangan kata. Kutinggalkan dia tanpa memberi respon apapun.

Orang aneh.

*

Berhari-hari aku gelisah. Pertanyaan Om Sena terus menghantuiku. Apakah aku ingin jadi cantik? Atau aku ingin menjadi tampan? Aku tidak tahu. Rasanya otak dan mental lima belas tahunku belum matang benar untuk menjawab pertanyaan seperti itu.

Pintu kamar Cik Linda terbuka. Kulihat dia sedang memoles wajahnya dengan bedak dan lip balm.

“Ngapain lu ngintip-ngintip gua?” tanyanya judes sambil menutup pintu.

Aku kembali ke kamarku. Kupandangi pantulan diriku di cermin. Aku tidak cantik. Kulit kuningku matang terbakar matahari, tidak mulus, banyak bekas luka di sana-sini dan jerawat datang dan pergi. Badan wanitaku belum menunjukkan tanda-tanda akan tumbuh indah seperti milik Ci Linda. Dada dan pinggulku masih rata.

Orang cantik banyak yang sombong, judes, dan angkuh seperti Cik Linda. Merasa lebih dari orang lain. Merasa orang yang tidak secantik dia bisa diperlakukan seenaknya. Bisa disuruh-suruh sesuka hatinya. Kalau cantik artinya aku harus menjadi orang seperti itu, aku tidak mau. Aku tidak suka diperlakukan seenaknya oleh Cik Linda, dan aku tidak mau memperlakukan orang lain dengan tidak baik. Apakah menjadi cantik harus seperti itu? Jika iya, aku tidak mau menjadi cantik.

Masih di depan cermin, pikiranku menerawang, teringat akan Agatha. Murid paling cantik di sekolahku. Agatha cantik, tapi ia tidak seenaknya. Ia baik dan ramah. Ia sering meminjami aku catatannya yang rapi. Aku sering mengamati Agatha. Ketika ia duduk di kelas, ketika kami sedang bermain basket di lapangan, ketika ia menunggu jemputan, ketika ia menunduk membaca buku di perpustakaan. Aku suka memperhatikannya.

Agatha cantik. Aku suka melihat dirinya yang cantik. Tapi aku tidak ingin menjadi sepertinya. Aku ingin dia melihatku seperti aku melihatnya. Aku ingin dia tertarik padaku. Aku ingin dia menyukaiku.

Kulihat lagi bayanganku di cermin. Aku tidak cantik. Tapi aku bisa menjadi tampan. Kuikat rambut panjangku dan kusembunyikannya di balik kepala. Posturku sangat mendukung untuk menjadi tampan. Kulit kuning kecoklatanku membuatku terlihat macho. Akibat sering bermain basket dan bermain sepeda, badanku cukup keras dan liat, membuatku menarik. Bekas luka dan satu dua jerawat malah membuat penampilanku semakin berkarakter.

Kalau aku tampan, apakah Agatha bisa menyukaiku? Kalau iya, maka rasanya aku ingin menjadi tampan. Inikah jawabannya?

*

Om Sena membukakan pintu pagar rumahnya yang besar dan megah. Ia kemudian membiarkannya sedikit terbuka, berjalan di depanku ke arah studio jahitnya.

“Jadi apa jawabanmu, Bet?” tanyanya. “Abet kan namamu?” Ia mencoba memastikan.

“Aku ingin menjadi tampan, Om!” jawabku dengan suara bergetar. Belum yakin.

Seperti bisa membaca keraguanku iya kembali bertanya, “yakin?”

Aku menarik nafas. Kembali membayangkan Cik Linda dan Agatha. Kuhela nafasku perlahan dan berkata dengan lebih tenang, “Aku ingin menjadi tampan, Om!” kini terdengar lebih yakin.

“Kamu bisa menjadi cantik ataupun tampan, itu pilihan, dan kamu bebas menentukannya sendiri. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, dan tidak ada yang bisa mengatur dan mendefinisikan kamu, tanpa persetujuan kamu,” ujar Om Sena. “Yang penting itu apa yang ada di dalam sini,” sambungnya sambil menunjuk dadanya. “Yang tidak sembarangan bisa dilihat oleh mata”.

Aku diam mendengarkan.

“Sudah bulat untuk menjadi tampan?” tanya Om Sena lagi, menatapku tajam, sekali lagi memastikan.

Aku mengangguk.

“Jika kamu memutuskan untuk menjadi tampan, jadilah tampan dengan sebenar-benarnya,” ujarnya sambil membuka-buka lemarinya.

“Coba pakai ini,” Om Sena mengeluarkan blazer pas badan, kemeja berwana abu-abu terang dan celana hitam berbahan denim. “Seseorang yang tampan selalu memperhatikan kebersihan dan kerapihan penampilannya.”

Sebetulnya aku terkejut disodori pakaian yang sepertinya mahal ini. Bagaimana aku bisa membayarnya? Mana mau mami sama papi membelikan pakaian seperti ini. Tapi aku menurut. Aku pergi ke ruang ganti, mengganti pakaianku, sesuai dengan instruksi Om Sena.

Kulihat pantulan diriku di cermin. Aku tampak begitu bersih dan rapi. Aku terlihat tampan. Tampan dan menarik.

Aku keluar perlahan dari ruang ganti, berjalan kembali ke ruangan tempat Om Sena berada. Ia berdiri menantiku.

“Tampan kan?” tanyanya sambil tersenyum. Ia tampak bangga denganku, kreasinya.

Aku tidak bisa tidak tersenyum.

“Sekarang duduk di sini,” perintahnya lagi, menunjuk ke arah kursi di hadapannya.

Aku berjalan mendekat, duduk, mematuhi apa yang disuruhnya.

“Tampan itu bukan hanya soal penampilan, tapi juga perilaku,” ujarnya. “Jika ingin menjadi tampan, kamu harus memperlakukan orang lain dengan sopan dan santun. Kamu harus menghargai orang lain, dan selalu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk membuat mereka merasa penting dan special.”

Aku menyimak dengan seksama.

“Condongkan badan sedikit ke depan ketika mendengarkan orang lain bercerita, berikan tatapan mata yang lembut dan tidak mengintimidasi ketika berbicara dengan mereka. Jaga perasaan orang lain. Dan yang terpenting jaga perkataanmu, jangan pernah memberikan janji yang belum tentu bisa kau penuhi”.

Aku membuat berlembar-lembar catatan di dalam kepalaku.

“Kau tampan, Bet!”

*

‘Alamak!’ batinku miris. Aku begitu risih dan jijik melihat bayangan diriku di cermin. Tato di sepanjang lengan dan punggung menyembul garang salah tempat di balik gaun manis ini. Rambut cepak rancung-rancungku terbungkus wig ikal berwarna kecokelatan. Aku seperti badut.

Cik Linda terkejut melihatku, sedikit menahan tawa.

“Puas lo, Cik?” tanyaku kesal.

“Kenapa sih lo, galak amat,” protes Cik Linda, masih sedikit menahan tawa. “Lu kan cewek, ya sudah kodratnya pake gaun kayak gini”.

Mami dan papi tiba-tiba masuk juga ke ruang ganti. Mereka mengerutkan alisnya melihatku. Tidak ada sedikit pun apresiasi keluar dari mulut mereka. “Pemberkatannya sudah mau dimulai, ayo kita bersiap!”

Aku menghela nafas perlahan. Kodrat katanya. Baiklah akan aku ikuti kodrat ini.

Cik Linda berjalan di depan, didampingi Papi. Semua orang takjub menatap kecantikannya. Aku berjalan di belakangnya, mengikutinya, menjalankan kewajibanku sebagai pengiring pengantin wanita.

Tamu yang tadinya takjub melihat kecantikan Cik Linda mulai terdengar berkasak-kusuk ketika melihatku. Kupingku sebenarnya panas, tapi aku tetap berjalan. Memenuhi permintaan kakak yang kusayangi.

Beberapa langkah sebelum tiba di altar, kakiku yang tidak terbiasa mengenakan hak tinggi mulai oleng. Gaun panjang penuh renda yang membuat jalanku tidak nyaman terinjak ujung sepatuku. Keseimbanganku hilang. Aku terjatuh. Gaun sialan ini pun sobek. Semua mata tertuju padaku.

Sedetik. Dua detik.

Suara tawa tertahan, tahanan nafas iba, bisik-bisik tanpa suara, memenuhi gereja dengan kecanggungan.

“Udah kalo pada mau ketawa, ketawa aja!” seruku, masih enggan berdiri.

Semua orang akhirnya tertawa. Beberapa orang berusaha membantuku bangkit. Cik Linda terlihat sedikit kesal dan malu. Acara yang penting yang sudah dipersiapkannya hampir setahun, buyar berantakan gara-gara aku. Ia menatapku kesal seolah-olah berkata, ‘lagi-lagi kau mencuri perhatian orang-orang dariku’.

Kubalas tatapannya, “Cik, gua udah berusaha nurutin permintaan lu. Karena gua sayang sama lu. Karena lu cici gua,” aku berkata cukup lantang sehingga Cik Linda dan orang-orang yang bergerumul ingin menontonku dapat mendengar perkataanku. “Tapi gue gak bisa. Gue bukan lu, Cik. Ini bukan gua. Jadi sekarang gue balik, kalau lu sayang sama gua, kalau lu masih menganggap gua adik lu, gua mohon biarin gua jadi diri gua sendiri,” aku menantangnya.

Cik Linda merasa terpojokkan. Ia melirik papi dan mami. Mereka hanya diam, sepertinya ingin segera acara ini selesai dan menghilang ditelan bumi supaya tidak perlu memikirkan reputasi dan nama baik mereka lagi.

“Uda, terserah lu,” jawab Cik Linda akhirnya. “Ganti baju, sana. Gue tunggu lu di sini. Gue nggak peduli lu mau pakai baju apa, dandan kayak gimana, asal lu, adik gua satu-satunya ada saat gue diberkati”.

Aku tersenyum bahagia.

Aku bergegas menuju ruang ganti. Agatha sudah menungguku di sana. Membawakan setelan jas yang sudah disiapkannya tanpa sepengetahuanku.

“Terima kasih, sayang!” ujarku sambil mencium keningnya.

Aku mengenakan pakaianku, sedikit menata rambutku, dan bergegas keluar, kembali ke altar untuk menyaksikan hari terpenting dalam hidup kakakku.

Cik Linda tersenyum. Mami dan papi juga terlihat lega.

“Adik gua tampan!” ujarnya sambil menggenggam tanganku. Sesaat sebelum upacara pemberkatan dilanjutkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s