Nasi Kuning Emak

“Emak sehat?” tanyaku.

“Inggih” jawab Emak sambil tersenyum sopan.

“Kerasan di kampung, Mak?” tanyaku lagi.

“Inggih,” jawab Emak sambil mengangguk sopan.

Kupandangi wanita tua di hadapanku dengan alis berkerut keheranan. Wanita ini memang Emak. Namun entah mengapa aku merasa asing dan tidak mengenalinya lagi.

“Emak-e eling mboten karo kulo?” Apakah Emak ingat pada saya, tanyaku.

Emak memandangiku selama beberapa detik, lalu menggeleng perlahan.

“Mboten,” jawabnya lalu menunduk malu.

*

“Selamat ulang tahun, ndok!” Emak menghambur ke kamarku yang masih gelap dengan sepiring nasi kuning lengkap dengan ayam goreng serundeng, telur dadar yang diiris-iris tipis, bihun, perkedel, dan irisan timun. Jam lima pagi, matahari belum juga muncul, namun hidangan mewah ini setiap tahun selalu membangunkanku di hari ulang tahunku.

“Terima kasih, Mak!” seruku tersenyum, berusaha membuka mata. “Mak-e bangun jam berapa?” tanyaku sambil menyambut piring dari tangannya dan memeluknya.

“Yo wis kaet mau!” Jawab Emak dengan gaya khas nya yang ketus. “Ayo cepet tangi, solat, ndang siap-siap sekolah!”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kuhabiskan nasi kuning lezat di hadapanku dan kujalani aktivitas pagi hariku, layaknya hari-hari normal lainnya, bersiap-siap pergi ke sekolah.

Telepon genggamku berbunyi.

“Sayaaaaaang, selamat ulang tahun ya!” Ibu menelpon.

“Terima kasih, Bu!” jawabku. “Uda solat? Uda mandi? Mau kado ulang tahun apa?” Ibu mengajukan serentetan pertanyaan secara berturut-turut.

“Sudah, Bu,” jawabku. “Umm, apa aja deh kadonya. Terserah ibu aja!”

“Yaudah, nanti Ibu beliin kado yang bagus. Baik-baik di rumah ya, sayang. Ibu pulang minggu depan!” tutur Ibu.

“Iya, terima kasih ya, Bu. Hati-hati di sana!”

Kuambil ranselku dan segera aku turun untuk berangkat sekolah.

“Ojok mulih bengi, yo! Engko sego kuninge ora ono sing mangan!” Jangan pulang malam, nanti nasi kuningnya tidak ada yang memakan, Emak menasihati sambil membawakan aku bekal.

“Iya. Berangkat dulu ya, Mak!” seruku sambil bergegas pergi.

Kuberjalan menyusuri jalanan kompleks rumahku yang masih sepi. Orang-orang, tetangga-tetanggaku mungkin masih sibuk mandi dan sarapan bersama keluarganya masing-masing. Atau mungkin masih ada yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Tinggal di ujung tenggara kota Bandung, dan bersekolah di daerah Bandung utara, memiliki konsekuensi tersendiri. Aku harus bangun ekstra pagi setiap harinya, agar tidak harus berebut angkutan kota dengan para pelajar lain serta mengurangi resiko dihukum guru piket karena datang terlambat.

Jer basuki mawa bea. Setiap kesuksesan dan keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Begitu kata Emak, setiap kali aku mengeluh karena harus bangun pagi-pagi.

Kubuka tas sekolahku dan kuambil buku Totto-Chan karya Tetsuko Kuroyanagi yang kemarin baru saja kupinjam dari taman bacaan langgananku. Salah satu hal yang kusyukuri dari rumahku yang jauh dari sekolah adalah aku jadi memiliki waktu untuk membaca. Perjalanan yang panjang, serta sepinya rumahku dapat membuatku dapat menamatkan 5 hingga 6 novel setiap minggunya.

“Pagi, Pak!” sapaku pada Pak Sum, satpam sekolahku yang sudah duduk rapi di posnya.

“Pagi, Neng!” jawab Pak Sum sambil tersenyum.

“Pagi terus euy, si Neng datangnya!”

“Jauh atuh Pak, rumah saya. Kalau kesiangan sedikit, nanti dihukum sama Pak Amin!” seruku sambil tertawa.

Pak Sum membalas tawaku dengan tawa renyah yang sopan.

Kubuka pintu kelasku, masih kosong, dan kududuk di bangkuku. Baris ketiga dari depan, kolom kedua dari jendela. Kucek semua buku pelajaranku dengan jadwal harian yang menempel di agendaku. Saat semua buku, catatan, latihan, paket, LKS, dan semua tugas untuk hari ini sudah lengkap, kembali kubenamkan diriku dalam kalimat-kalimat di buku yang sedang kubaca.

“Hei!” Seseorang mengejutkanku dengan suara lantangnya dan mengebalikanku ke dunia nyata setelah menarik paksa buku yang sedang kubaca dari tanganku.

Rupanya Arya, sahabatku. Ia berdiri di hadapanku dan menyodorkan bungkusan kotak pipih kepadaku. “Buat kamu!” serunya.

“Dalam rangka?” tanyaku, pura-pura polos.

“Aku inget dong ulang tahun kamu!” jawab Arya bangga. “Selamat ulang tahun ya, Ras!” seru Arya sambil menepuk-nepuk pipiku.

“Ini apa isinya?” tanyaku. “Mixtape lagi ya?” Arya tersenyum lebar, “Huuuu, ngga kreatif! Ngga modal!”

“Kamu kan sudah punya semuanya, Ras!” seru Arya.

“Kata siapa?” cibirku.

“Aku nanti ke rumah ya! Ngabisin nasi kuning Emak. Sayang kalau ngga ada yang makan!”

Aku tersenyum. Aku teringat kejadian dua tahun lalu. Saat aku baru mengenal Arya. Saat perang dingin di rumahku baru dimulai. Aku yang masih naif, masih berpikir bahwa keluarga yang berfungsi normal dan bahagia seperti iklan-iklan mie instan di televisi itu benar-benar ada, benar-benar terkejut, marah, dan kecewa karena sikap orang tuaku.

Tidak cukup hanya berlomba-lomba pulang paling malam, kemudian saling berteriak tertahan dari dalam kamar, berpura-pura tidak saling mengenal dan tidak terjadi apa-apa di depanku, mereka juga benar-benar melupakan ulang tahunku.

Aku dengan segala kebodohan dan kenaifan anak berusia lima belas tahun, menangis di pojok aula kosong selepas jam pulang sekolah. Arya yang kebetulan melewati aula karena LKS nya tertinggal di kelas, mendengar isakanku dan menghampiriku.

Tanpa memedulikan rasa malu dan harga diri, ketika Arya bertanya, “kenapa menangis?” aku mulai meraung dan menumpahkan semua kesedihan, kemarahan, dan kekesalanku padanya. Pada Arya yang pada waktu itu belum aku kenal sama sekali. Setelah badai emosiku mulai reda, sekitar 40 menit setelahnya, Arya memaksa mengantarkanku pulang, dan disitulah pertama kalinya ia merasakan nasi kuning Emak.

“Pokoknya, tiap kamu ulang tahun, aku pasti datang ke rumahmu!” kata Arya dengan mulut penuh. “Ini nasi kuning paling enak yang pernah aku makan!” Dan Arya selalu menepati janjinya.

*

“Raras, duduk sini sebentar, sayang!” panggil Ibu suatu hari. Dua hari setelah ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru. Aku duduk dan menghela nafas. Menyambut datangnya pembicaraan yang kutahu cepat atau lambat akan datang juga.

“Sebelumnya Ibu dan Ayah ingin meminta maaf kepada kamu karena harus ikut merasakan permasalahan yang terjadi di antara kami. Dan satu hal yang perlu kamu tahu, apapun yang terjadi kami tetaplah orang tuamu dan kami sangatlah menyayangimu. Tidak ada yang berubah tentang hal itu,” Ayah mencoba membuka penjelasannya.

Ibu menunduk terdiam menahan tetesan air matanya. Aku memandangi keduanya dengan ekspresi datar. Mencari kesamaan realita yang sedang terjadi di hadapanku dengan imajinasi mengenai hal ini yang sudah berkali-kali kuputar di kepalaku.

“Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Ayah harus pindah ke Tokyo dan Ibu akan kuliah lagi di Newcastle,” ujar Ayah dengan nada datar bijaksana yang dibuat-buat.

“Ayah dan Ibu percaya kalau kamu sudah dewasa, sudah bisa menentukan sendiri masa depan yang kamu inginkan. Ayah dan Ibu sepenuhnya akan mendukung apapun keputusan kamu,” tambah Ayah.

Aku berdiri, “Raras mengerti,” ujarku dengan datar dan beranjak pergi dari ruang tamu.

Ibu dan Ayah sepertinya terbenam dalam rasa bersalah mereka sehingga tidak ada yang berani menyusulku.

Aku mengurung diri di kamar. Menunggu terdengarnya dua suara mobil yang dinyalakan secara bergantian, seperti yang biasanya terjadi jika kebetulan orang tuaku berada di rumah pada waktu yang bersamaan.

Aku mengetuk pintu kamar Emak. Emak membuka pintu dengan mata menyipit, rambut terurai yang jarang sekali kulihat, serta daster tidurnya.

Opo o, Ndok?” tanya Emak.

Tidak kujawab pertanyaan Emak dan langsungku berlari menuju tempat tidurnya. Aku berbaring melingkar tanpa bersuara sedikitpun. Emak duduk di sampingku dan mengelus-elus rambutku dan menyenandungkan lagu Ande Ande Lumut, lagu yang selalu Emak nyanyikan sejak aku kecil dulu.

“Emak nanti ikut Ibu?” tanyaku akhirnya. Emak adalah pengasuh Ibuku yang sudah bekerja untuk kakek dan nenekku sejak Ibuku berusia enam tahun. Emak terus merawat ibu, hingga ibu dewasa dan kemudian merawatku hingga saat ini.

Yo ora tho, Ndok. Moso pantes Emakmu iki lungo ning Nginggris!” Tentu saja tidak, mana berani aku pergi ke Inggris. jawab Emak. Aku bangkit dan duduk.

“Terus Emak tinggal di mana?” tanyaku penuh kejut dan tanya.

Aku sudah memprediksi perpisahan orang tuaku. Dan Aku sudah tahu bahwa Ibu dan Ayah akan pergi mengejar mimpi dan tanggung jawabnya masing-masing. Kemana mereka pergi, aku tidak peduli. Tapi sebelum ini aku tidak pernah memikirkan ke mana Emak akan pergi. Aku terlalu sibuk memikirkan ke mana aku akan pergi jika perpisahan orang tuaku pada akhirnya terjadi.

Di kepalaku sudah terancang beberapa alternatif kemana aku harus menempel menjadi parasit jika orang tuaku berpisah. Semua pro dan kontra sudah aku pikirkan jika Aku tinggal bersama Ibu, bersama Ayah, bersama keluarga tante, keluarga bude, tinggal bersama nenek, dan berbagai alternatif lainnya. Aku terus menimbang-nimbang segala baik buruknya, hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri. Menempuh empat tahun kuliah sendiri, kemudian segera bekerja dan hidup mandiri. Semua sudah kupikirkan, tapi tidak dengan keberadaan Emak.

Aku merasa sangat sedih. Aku merasa menjadi manusia yang sangat egois. Manusia seperti Ayah dan Ibu, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Manusia yang kuharap tidak akan pernah menjadi diriku. Tapi ternyata aku sama egoisnya. Sama jahatnya.

Yo mulih ning kampung!” jawab Emak santai. “Aku arepe angon bebek!” Ya pulang kampung, aku mau beternak bebek.

Aku menangis. Menangis terisak. Padahal sebelumnya aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis lagi. Setidaknya tidak untuk masalah perpisahan orang tuaku. Karena air mataku sudah kering. Dan aku sudah bosan. Tapi akhirnya aku mengingkari janjiku, dan kembali menangis.

Aku kangen kampung, Ndok. Aku uwis puas ngalor ngidul. Saiki giliranmu, Ndok!” Aku merindukan kampung. Aku sudah puas pergi kesana-kemari. Sekarang giliranmu. Emak mencoba menghibur.

*

Kudorong koper besarku dengan senyum mengembang. Akhirnya aku menginjakkan kaki kembali di negeri ini. Pulang setelah empat tahun menuntut ilmu di ujung selatan dunia.

“Raras!” Arya berlari menghambur ke arahku. Kutinggalkan koper besarku dan berlari menyambutnya.

“Kangeeeeeeennnn!” seruku.

Gagal diterima di perguruan tinggi negeri, aku memutuskan untuk kuliah di Melbourne empat tahun lalu. Meskipun aku juga mendapatkan offering letter dari universitas di Tokyo dan Newcastle, tempat Ayah dan Ibu tinggal, tetapi aku memutuskan untuk menjauh dari mereka. Aku ingin hidup sendiri karena aku sudah terbiasa hidup sendiri. Terima kasih kudedikasikan kepada ayah dan ibu untuk hal ini.

Empat tahun tanpa sekalipun pulang, aku sangat merindukan negeri ini.

“Ras, bulan depan ke Kediri yuk!” ajak Arya sambil mengendarai mobilnya melintasi jalan tol baru yang menghubungkan Bandung dan Jakarta.

Aku yang dari tadi diam memandangi jendela sambil sesekali berkomentar setiap menemukan hal yang berbeda dari empat tahun lalu pun tersadar dan memandangi Arya.

“Kediri? Untuk apa?” tanyaku bingung.

“Bulan depan kan ulang tahunmu. Aku pingin ketemu Emak, minta dibuatin nasi kuning paling enak sedunia!” seru Arya.

Aku kembali menangis. Mengutuki diriku yang benar-benar lupa tentang Emak. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku dan aku mulai meraung.

“Yah, masih suka nangis ternyata!” Arya berkata tidak berdaya.

“Mau, mau ke Kediri!” seuku di sela-sela isakanku.

Aku teringat Emak, segala hal yang dia lakukan padaku sejak aku lahir hingga aku tumbuh dan terpaksa menjadi dewasa, serta cerita-cerita yang ia kisahkan kepadaku dulu.

Cerita tentang masa kecilnya, membantu orang tuanya beternak sapi dan bebek, tentang kakaknya yang katanya judes dan selalu mau menangnya sendiri, tentang mantan suaminya yang kurang ajar, selingkuh, menikah lagi, dan ia pukul kepalanya dengan ulekan karena kesal, tentang anaknya yang gugur di dalam kandungan karena kesedihan dan kemarahannya, tentang keputusannya untuk meninggalkan kampung dan memulai hidup barunya.

Aku merenung dan menyadari aku belajar sangat banyak dari Emak. Emak bukan sekedar pengasuh, penjaga, teman, tapi juga guru yang sangat luar biasa. Emak mengajariku untuk berani, mandiri, kuat, dan tidak tergantung pada siapapun.

Kebo mulih menyang kandhange,” ujar Emak empat tahun lalu saat aku dan Arya mengantarkan beliau ke terminal, mengantarkannya pulang ke kampung halamannya. Menutup petualangan dan perantauannya, dan kembali ke rumahnya. Kerbau kembali ke kandangnya. Orang yang sudah bepergian jauh akan kembali ke tempat asalnya. Jangan pernah melupakan asal usul dan kampung halaman kita.

*

Emak-e mboten eling karo kulo?” Emak tidak ingat pada saya? Tanyaku sedih.

Aku melirik kea rah Arya dengan mata berkaca-kaca. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi, air mata ini akan tumpah dan aku bisa menangis meraung-raung seperti orang gila.

“Raras sama Arya, Mak!” seru Arya mencoba mengingatkan. Tahu aku sudah tidak kuat berkata apa-apa lagi.

Emak-e sampun pikun. Mboten eling nopo-nopo,” Mbak Yem, tetangga yang sekarang mengurusi Emak menjelaskan.

Kugenggam tangan Emak dan berkata, “mboten nopo-nopo, sing penting Emak-e sehat,” seruku sambil berusaha tersenyum.

Monggo dahar rumiyen,” Silahkan, makan dulu, seru Mbak Yem mempersilahkan kami makan.

Niki pas pisan dathengipun. Emak-e nembe masak sego kuning!” Ini pas sekali datangnya. Emak baru saja masak nasi kuning. Aku dan Arya saling berpandangan.

“Emaknya sering, Mba, masak nasi kuning?” tanya Arya.

Ooh mboten. Namung setaun pisan. Duko enten menopo. Saben tanggal 25 April, Emak-e mesti masak sego kuning,” Tidak. Hanya setahun sekali. Tidak tahu ada apa, tetapi setiap tanggal 25 April, Emak pasti masak nasi kuning.

Aku memeluk Emak dan menangis sejadi-jadinya.

*

Ilustrasi: Ibu Pileuleuyan karya Affandi

Lebaran Tahun Ini

“Kok sendirian? Agus mana?” tanya Ibu.

“Nanti nyusul, Bu. Masih ada kerjaan,” jawabku meraih tangan Ibu, salim.

“Lebaran gini kok ya masih kerja?”

“Namanya juga tentara, Bu. Ndak ada liburnya”.

Berkumpul di Kayu Manis pada hari pertama lebaran adalah suatu kewajiban yang tidak bisa kami tinggalkan. Aku, Indri, dan Utari, seenggan apapun, kami tidak pernah bisa alpa dari keharusan kami yang satu ini. Bertemu dengan Bapak dan Ibu, menunggu keputusan siapa yang berhak menerima piala bergilir dengan titel ‘Anak yang Paling Mengecewakan’.

“Adik-adikmu itu lho, memang ndak pernah bisa dewasa,” bisik Ibu padaku. Memandang kecewa pada Utari yang sedang menunduk diteriaki Bapak di teras belakang rumah. “Perempuan itu ya di mana-mana harus bisa sabar. Harus nrimo. Kalau mbrontak terus, ndak bisa diatur, ya kayak gini ini kejadiannya. Laki-laki itu ya memang begitu kelakuannya. Kita yang harus bisa ngerti”.

Aku tidak bereaksi.

“Ibu sama Bapak itu sudah ndak punya muka lagi. Punya anak perempuan tiga, yang dua kok ya cerai,” Ibu berkata sambil mengelus-elus dadanya. Sesak karena kecewa. “Untung kamu sama Agus baik-baik, ya Rat. Dijaga suaminya. Jangan kebanyakan nuntut kayak adik-adikmu. Jadi istri itu harus manut. Nurut sama suamimu. Kuncinya itu”.

Aku mengangguk, memamerkan senyum palsu terlatihku.

“Dulu itu memang Ibu cuma sreg-nya sama Agus. Tentara, kerjanya jelas, kalau ngomong tegas, ndak plintat plintut, ganteng lagi,” kenang Ibu.

Terbersit di kepalaku bayangan Mas Agus muda, datang ke rumah dengan seragam prajuritnya. Menghabiskan waktu plesirnya untuk menyeleksi kembang-kembang di Kayu Manis, berkedok mengunjungi Bude Karso, kerabat jauhnya.

“Untung dulu kamu nurut, dengerin Ibu pas dilamar Agus,” kata Ibu. “Ndak kayak si Indri yang ngotot minta kuliah dulu segala. Lah, sekolah tinggi-tinggi jadi Sarjana Hukum juga ujung-ujungnya suaminya selingkuh sama pembantu. Bikin malu aja”.

“Sekarang kamu tho yang enak. Punya suami Kolonel, bergaulnya sama ibu-ibu Jendral, ibu-ibu pejabat,” sambung Ibu.

Aku tersenyum. Tidak menjawab. Tidak mengiyakan ataupun membantah.

Indri, adikku, si tengah, sudah dari enam tahun yang lalu bercerai dari suaminya. Konon ia terlalu sibuk bekerja, sering ke luar kota, sehingga suaminya sering main gila dengan pembantu rumah tangganya. Saat ia pulang ke rumah lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, terbongkarlah skandal perselingkuhan itu, dan Indri pun tanpa banyak pertimbangan langsung minta cerai. Sekarang ia hidup menjanda bersama dengan Indira, putri kesayangannya.

Aku ingat Bapak dan Ibu begitu terkejut ketika Indri pertama kali memberi tahu rencana perceraiannya. Sepertinya kata ‘perceraian’ tidak pernah sekalipun terbersit dan mampir di benak mereka.

“Pancene lanang gemblung!” dulu amarah Bapak masih lebih tertuju ke suami Indri.

“Kamu yakin, Ndri? Nanti kamu tinggal di mana? Siapa yang bakal menafkahi anakmu?” tanya ibu nelangsa, mungkin sedikit menahan tangis.

“Aku bisa, Bu, tinggal sendiri sama Indira. Aku sanggup membesarkan Indira sendirian!” jawab Indri tegas.

Indri bisa tegas karena dia memang mampu. Karirnya sebagai legal council di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar di ibu kota, cukup memberinya keyakinan dan rasa aman untuk bisa bertahan hidup tanpa sokongan laki-laki manapun. Beruntungnya dia.

“Eh, itu suamimu datang. Sana kamu sambut!” perintah ibu, yang tentunya langsung kuiyakan.

“Mas,” aku memberi salam, sambil mencium tangan suamiku.

Mas Agus memberikan tangannya untuk kucium, tapi tidak memberikan tanggapan sedikitpun. Memandangku saja pun dia sepertinya enggan.

“Ibu, bagaimana kabarnya?” tanya Mas Agus, meninggalkanku menjinjing tasnya, bergerak ke arah ibu, memberikan sungkem, wajah manis, dan perawakan gagahnya. “Maaf lahir batin, nggih, Bu. Sepurane sing katah.”

Ibu tersenyum menyambut menantu kesayangannya. Direngkuhnya tubuh suamiku, diberinya tepukan penuh kasih sayang, “Ibu sehat. Kamu juga harus jaga kesehatan, jangan kerja terus!”

Melihat Agus datang, Bapak yang dari tadi sibuk memberikan wejangan, lengkap dengan sindiran, keluhan, dan bentakan kepada Utari yang lebaran tahun ini sepertinya sudah hampir pasti berhasil mencuri gelar bergilir ‘Anak yang Paling mengecewakan’, menghentikan aktivitasnya untuk menyambut suamiku.

“Baru datang, kamu Gus?” tanya Bapak sambil memberikan tangannya untuk disambut dan dicium, sebuah gestur penghormatan dari anak ke orang tuanya. “Nyari apa, tho, kamu Gus? Memangnya uang bisa dibawa mati?”  tanya Bapak, dengan celaan penuh kasihnya. Semua orang, termasuk Mas Agus, terutama Mas Agus, tahu betapa Bapak dan Ibu sangat menyayanginya.

“Tar, makanya dulu jangan ngeyel. Jangan pilih-pilih, jual mahal, eh dapetnya malah kayak suamimu,” Mas Agus menggoda Utari.

“Mas Agus ini ngomong apa sih?” balas Utari risih.

Dari dulu aku tahu, meski seluruh dunia telah berhasil diperdayanya, kalau sebenarnya kembang Kayu Putih yang ingin Mas Agus petik, bukanlah aku, melainkan Utari. Aku tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Kututup mataku rapat-rapat, meskipun ngilu di hati ini tidak bisa dibohongi.

Utari masih terlalu kecil ketika Mas Agus sering datang ke rumah dulu. Ia masih SMP. Bapak yang sudah terlalu gembira karena mengira Mas Agus tertarik padaku, anak perempuannya yang sudah siap dipanen, langsung sering menjodoh-jodohkan aku dan Mas Agus. “Sudah jangan lama-lama, langsung nikah saja!”

Entah karena tidak enak, tidak berani membantah bapak, tidak bisa menolak, atau alasan lain yang tidak kumengerti, Mas Agus pun kemudian benar-benar datang bersama keluarganya untuk meminangku. Tapi aku tahu pasti, hati dan cintanya tidak pernah untukku. Sebelum dan selama pernikahan kami berlangsung, hingga saat ini.

Meskipun rasa cemburuku pada Utari tidak pernah mati, tapi aku bersyukur bukan dia yang dulu dipinang Mas Agus. Bukan adik bungsuku yang harus merasakan apa yang aku rasakan. Cukup aku saja.

“Dodit itu kasar, suka membentak-bentak aku,” jawab Utari ketika Bapak kembali bertanya kenapa ia ingin menceraikan suaminya.

Dibentak katamu, Tar? Beruntungnya kamu. Kulirik memar di pergelangan bagian dalam tanganku. Kuping dan hatiku sudah baal, mungkin sebentar lagi tubuhku juga kebal. Mati rasa karena sudah terbiasa dengan semua siksa sakit ini.

“Nafkah dari Dodit untuk aku dan Dinda selalu tidak cukup. Uangnya selalu habis untuk hobby fotografinya yang tidak jelas itu,” jawab Utari.

Nafkah dari suamimu tidak cukup katamu, Tar? Beruntungnya kamu. Kuingat bagaimana pagi ini pembantuku memberiku uang ongkos untuk bisa pergi ke sini. Aku memang masih menggenggam titel istri, tapi itu hanya sebuah titel kosong, aku tidak punya sedikitpun kuasa di rumahku sendiri. Sudah 5 tahun ini,  aku hidup dari uang jatah. Suamiku lebih mempercayakan pengaturan pengeluaran rumah tangga kami kepada Mbok Nah, pembantu kami.

“Dodit tidak bisa apa-apa, semua urusan harus aku yang mengerjakan sendiri,” jawab Utari lagi.

Suamimu tidak bisa apa-apa katamu, Tar? Beruntungnya kamu. Kukutuk nasibku karena bersuamikan laki-laki yang serba bisa. Bisa memukul, bisa menjambak, bisa menampar, bisa mendorong, bisa menendang, bisa melempar barang-barang, bisa mengancam, bisa mengurung, bisa menjadikan hidupku seperti neraka. Hanya satu yang ia tidak bisa, menerima dan menghargaiku sebagai istrinya.

“Beri nasehat ke adik-adikmu ini Rat, bagaimana caranya jadi istri yang baik?” Pertanyaan bapak membuatku yang sedari tadi diam tersorot.

Mau jawaban jujur? Diam saja. Pasrah. Jangan buat suamimu semakin marah. Tahan rasa sakitmu, nanti juga sembuh sendiri. Matikan indra-indramu, bunuh yang namanya perasaan dan emosi. Istri tidak butuh itu. Yang penting diam. Pasrah. Nurut. Kalau suamimu lelah menyiksamu, penderitaanmu juga akan selesai. Tapi jangan lupa siap-siap untuk siksaan esok hari.

Uang jatah dari pembantumu, harus kamu hemat, supaya tetap bisa beli make up dan baju yang layak. Supaya di depan ibu-ibu Jendral, di depan tetangga, dan jika harus bertemu keluarga seperti sekarang ini, kamu tetap bisa terlihat cantik, sehat, dan berwibawa. Istri yang baik harus bisa menutupi aib dan menjaga nama baik suami.

Jika tidak tahan atau ingin kabur, ingat, kamu itu tidak bisa apa-apa. Cuma lulusan SMA, tidak sempat kuliah karena sudah keburu dilamar dan menikah, bisa kerja apa kalau minta cerai? Bisa menafkahi diri sendiri? Nggak malu jadi parasit keluarga? Mau jadi apa? Mimpi tidak punya, ijazah tidak ada, pengalaman kerja nihil. Istri yang baik itu istri yang setia dan bisa bertahan terhadap kesialannya.

“Yang penting saling pengertian aja,” jawabku singkat, ingin segera memindahkan lampu sorot yang menyilaukan dari arahku, mengarahkannya kepada siapa saja selain aku.

Hei, harusnya lebaran tahun ini aku dapat kartu bebas sorotan. Harusnya aku dapat imunitas dari semua penghakiman ini. Aku sudah jadi istri yang baik, menerima semua perlakuan biadab suamiku, si menantu kesayangan ini. Aku juga sudah jadi anak yang baik, satu-satunya anak perempuan yang menurut ketika disuruh menikah, setuju ketika diminta berhenti sekolah, dan bertahan dalam pernikahan sehingga tidak ada yang bisa menghakimi Bapak dan Ibu, “Itu kok anaknya cerai semua”.

“Nah ya gitu, kalian harus bisa kayak Mbakyu-mu,” ujar Bapak.

Aku tersenyum, merasa menang. Lebaran tahun ini, aku berhasil lolos dari label anak yang paling mengecewakan. Meskipun harus membayarnya dengan sangat mahal.

“Nah, sekarang Rat, Gus, kapan kalian mau punya anak? Masa kalah sama adik-adikmu? Sudah menikah lama kok ya nggak punya-punya anak?” tanya Bapak.

“Iya, Ibu dari dulu pengen nimang cucu dari kamu. Kok ya, nggak dikasih-kasih, tho?” sambung Ibu. “Cuma kamu anak Ibu yang belum ngasih Ibu cucu”.

Aku tercekat. Tak bisa menjawab.

Jadi, lebaran tahun ini, siapa pemenang gelar ‘Anak yang Paling Mengecewakan’?

Ana dan Anjani

Dinginnya dini hari seolah ingin menguji mental para pendaki yang ingin menjajal Puncak Anjani. Deru dan gemuruh angin datang dan pergi membawa ribut, mencoba mengecilkan nyali para pengelana pencari matahari.

“Udalah, kamu tidur aja di tenda!” seru si pria dengan kasar. “Kamu pasti ngerepotin nanti!”

“Tapi aku ingin ikut!” perempuan muda ini membantah. “Aku ingin melihat matahari terbit pertama di tahun ini dari Puncak Anjani.”

“Ck, ada-ada saja ya kamu,” si pria memutar bola matanya, terlihat kesal. “Dari kemarin saja kamu sudah ngos-ngosan, bikin rombongan kita telat sampai pos, nggak kebagian tempat kemah yang enak. Nanti semua batal dapat matahari terbit gara-gara kamu, gimana?”

Sebenarnya Aliq enggan ikut campur. Aliq bukan tipe orang yang suka mencari gara-gara. Terlebih kepada orang-orang yang nantinya akan membayarnya. Tetapi perempuan ini begitu mengingatkannya kepada Ana, kekasih yang begitu dirindukannya. Kekasihnya yang pemberontak, yang tidak bisa dilarang atau dikecilkan jika sudah bulat tekadnya. Kekasih yang harus ia tinggalkan tanpa pesan perpisahan di Negeri Singa.

“Mas, biar Mbaknya saya bantu untuk naik Puncak Anjani. Mas-mas yang lain bisa naik lebih dulu, sehingga tidak terlewat matahari terbitnya,” Aliq menawarkan diri dengan sopan.

Si pria menoleh ke arah Aliq. Sedikit memicingkan mata, menguji rasa percayanya. “Enggak nambah kan?” tanyanya. Khawatir dirugikan, karena perjanjian awal porter hanya mengantar sampai perkemahan di Plawangan Sembalun.

Aliq tersenyum, hafal betul gelagat tidak mau rugi ini, “Enggak usah nambah, Mas!”

“Ya sudah, sana gih, kamu siap-siap!” ujar si pria, dengan nada memerintah.

*

Sudah sebulan ini Aliq kembali ke Lombok, pulau kelahirannya, setelah tujuh tahun merantau di Singapura. Pulau cantik ini masih tetap sama. Pantai-pantai dan jajaran nyiurnya yang melambai, selalu berhasil merayu dan menggoreskan rindu. Nikmatnya ayam taliwang dan plecing kangkung buatan Inaq tetap menghantui ke mana pun kaki Aliq menjejak.

Meskipun semua tampak sama, namun tetap banyak yang berubah sejak Aliq meninggalkan Lombok. Seperti sekarang, ladang pertanian di Sembalun, desanya, sudah banyak yang terbengkalai. Pemuda-pemuda enggan bertani. Mereka memandang pekerjaan yang telah menghidupi nenek moyang suku sasak selama beratus-ratus tahun ini begitu hina, sia-sia dan gagal mewujudkan mimpi kesejahteraan, sehingga mereka meninggalkannya.

Pemuda Desa Sembalun sekarang lebih memilih menjadi porter. Sejak Gunung Rinjani menjadi primadona wisatawan, baik dalam dan luar negeri, profesi pengangkut barang dan penunjuk jalan ini menjadi favorit. Bayangkan, hanya dengan bekerja empat hari, mereka bisa mendapatkan uang enam ratus ribu rupiah, tunai. Ya, meskipun kerja mereka tidak bisa dibilang ringan. Memikul perlengkapan “kemah mewah” para pendaki yang enggan meninggalkan kenyamanan mereka di rumah. Bandingkan jika mereka harus bertani. Butuh waktu yang lama, belum lagi faktor cuaca yang memberi ketidak pastian yang tinggi atas resiko gagal panen.

Melihat lahan warisan almarhum amaq yang sudah lama tidak disentuh oleh kerabatnya, Aliq pun mencoba peruntungannya untuk menjadi porter. Selama sebulan ini sih cukup lancar. Pegal dan ngilu yang membakar bahu dan punggung, akibat pokok bambu yang menggantung di tubuhnya, dulu terasa begitu menyiksa ketika pertama kali ia membawa tamu. Namun sekarang, setelah beberapa kali bolak-balik naik turun Sembalun – Senaru, atau Sembalun – Sembalun, tubuhnya sudah baal. Rasa sakit tidak lagi menyerangnya.

“Boleh istirahat sebentar, Pak?” tanya tamu perempuan Aliq. Tampak kelelahan.

Meskipun cantik dan anggun, namun seringkali Puncak Anjani bertingkah kurang bersahabat, terutama bagi para pendaki pemula. Tubuhnya yang ramping dan dipenuhi kerikil-kerikil dapat menyurutkan semangat dan mengecilkan nyali siapapun yang mencoba mendakinya. Dua langkah naik, satu langkah turun, orang-orang tanpa keinginan yang kuat dapat dengan mudah menyerah dan kembali turun sebelum mencicipi keindahan negeri di atas awan di atas Puncak Anjani.

“Mbak ini hebat semangatnya!” Aliq membesarkan hati tamunya. Sepuluh menit yang lalu, tamu perempuannya ini baru saja memuntahkan isi perutnya. Angin dingin dini hari yang menderu sepertinya menghantamnya dengan begitu keras. Kelelahan yang membuncah memperkeruh suasana, membuat sang tamu meraih batas daya tubuhnya.

“Ayo Pak, jalan lagi!” ujarnya dengan nafas masih memburu.

“Mau minum dulu, Mbak?” tanya Aliq.

“Nggak, Pak,” jawabnya. “Saya ingin segera sampai di puncak. Ingin melihat matahari terbit di Puncak Anjani”.

Aliq kembali mengingat sosok Ana. Gadis manis yang begitu dirindukannya. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Ana. Sebuah sore di Lucky Plaza.

Hari Minggu adalah hari libur pabriknya. Semua pekerja rantau akan berbondong-bondong mendatangi pusat keramaian, deretan pertokoan, surga para pelancong berkantung tebal.

Meskipun tidak paham mengenai apiknya barang-barang bermerek, para pekerja impor ini tetap bergerak seperti laron, mengerubungi gedung-gedung tinggi tempat perputaran uang, meskipun tanpa membawa uang yang seberapa karena sebagian besar harus dikirim pulang ke kampung halaman.

Aliq yang pemalu enggan mengikuti kawan-kawannya yang mulai menebar senyum mengumbar janji, merayu perempuan-perempuan yang juga telah membanting tulang selama seminggu penuh, melayani tuan-tuan majikan mereka.

Aliq duduk mengamati, sambil menenggak es teh bercampur susu yang dibelinya di ujung jalan.

“Ajak aku ke pantai! Bawa aku ke gunung!” seru seorang perempuan dari samping Aliq.

Aliq menoleh ke sumber suara. Sedikit heran, karena di jajaran tempat duduk di lantai dasar Lucky Plaza itu hanya ada dirinya dan gadis itu.

“Kau bicara denganku, kah?” Aliq bertanya.

“Siapa sajalah yang mendengar!” jawabnya.

“Pantai apa? Gunung apa? Kau mengigau?” tanya Aliq bingung.

“Aku ingin melihat matahari terbenam di pantai dan matahari terbit di puncak gunung!”

Aliq terdiam. Mengingat kampungnya dengan rindu. “Jika kubawa kau ke Lombok, kau tentunya akan girang. Ratusan pantai mengelilingi pulauku. Semuanya indah. Matahari terbenam di bukit Malimbu, sambil menatap Pulau Dewata di seberang, tentunya akan memanjakanmu. Dan matahari terbit, jika kubawa kau mendaki puncak Anjani, kau akan mengucek mata dengan takjub tidak percaya,” batin Aliq.

“Siapa namamu?” tanya Aliq.

“Ana,” jawabnya.

“Kau aneh, Ana!” ujar Aliq, sudah jatuh cinta.

*

Semburat matahari sudah mulai menampakkan diri. Gelapnya malam sudah mulai kehilangan pekatnya.

“Masih jauh, Pak puncaknya?” tanya tamu perempuan Aliq.

“Sudah kelihatan, itu,” Aliq menunujuk, mencoba membesarkan hati tamunya.

Nafas gadis manis ini tersengal-sengal. Puncak Anjani sepertinya benar-benar melemahkannya. Ia sudah diambang kata menyerah.

“Semangat Mbak ini luar biasa, meskipun sudah ngos-ngosan, tapi sama sekali tidak mengeluh!” Aliq kembali menyuntikkan semangat. “Mbak benar-benar mirip Ana, kekasih saya di Singapura”.

Tamu perempuan Aliq tersengal diburu nafasnya. Ia yang sedari tadi menumpukan tubuhnya tidak lagi pada kedua kakinya, tapi pada genggaman tangan Aliq, dengan lemas berusaha menggapai batu dan terduduk lemas di atasnya.

Aliq ikut duduk. Dikeluarkannya dompet dari saku celananya, tempat foto Ana ia simpan baik-baik. “Ini Ana, kekasih saya di Singapura.”

Dengan kelelahan di matanya, gadis manis ini tetap menjaga kesantuanannya, berusaha menunjukkan antusiasnya, “cantik, Pak!” jawabnya tertatih.

“Ia petualang yang terkungkung,” ujar Aliq penuh rindu. “Ia ingin melihat matahari terbenam di pantai dan sama seperti mbak, melihat matahari terbit di puncak gunung!”

Gadis di samping Aliq memaksakan diri untuk tersenyum menanggapi. Meskipun kelelahan sudah menggoyah kesadarannya.

“Dia begitu bahagia ketika suatu sore saya bawa dia ke pantai. Pantai biasa, di Singapura tidak ada pantai dengan air biru berkilauan seperti di sini. Tapi begitu saja dia sudah sangat bahagia,” Aliq mengenang senyum Ana. “Untuk melihat matahari terbit di puncak gunung, saya masih hutang!”

“Dari kecil dia tinggal di kota. Dikurung gedung-gedung tinggi,” tambah Aliq. “Ana lahir di rumah majikannya. Ibunya diperkosa, tapi Ana tidak diakui anak. Cuma diakui pembantu. Mana majikannya galak dan suka mukul lagi. Pernah nyaris dibunuh saya, ketahuan menginap di kamar Ana”.

“Sekarang, setiap melihat pantai, cuma senyumnya yang saya ingat,” pikiran Aliq menerawang, menatap puncak Anjani. “Dan tiap memandang matahari terbit dari puncak Anjani, saya ingat janji saya untuk melihat matahari terbit bersamanya yang belum terpenuhi”.

“Kenapa pulang ke Lombok kalau Bapak cinta sama Ana? Kenapa Ana tidak diajak?” tamu perempuan Aliq tampaknya telah berhasil mengatur nafas.

“Yah, Mbak. Saya di PHK dari pabrik. Kerja serabutan di pelabuhan, kiriman ke rumah tidak cukup. Anak sulung saya kabur dari rumah. Dia marah karena saya tidak sanggup membelikan dia motor. Katanya malu ditertawakan teman-temannya. Ya, daripada dia kenapa-kenapa, lebih baik saya pulang. Bagaimanapun juga keluarga itu nomor satu,” jawab Aliq. “Cinta itu barang mewah, sudah bisa mencicip rasanya saja sudah luar biasa”.

“Boleh saya lihat fotonya Ana lagi, Pak?” pinta tamu perempuan Aliq.

“Ini, Mbak,” Aliq menyodorkan foto gadis yang begitu dikasihinya. “Tapi hati-hati ya Mbak, ini foto Ana satu-satunya. Foto dia yang lain sudah habis dibakar istri saya”.

Gadis di hadapannya melirik tidak setuju, tapi memutuskan untuk tidak berkata apa-apa.

“Ayo Mbak, masih kuat kan? Ayo kita jalan lagi, Pelan-pelan nggak papa, puncak Anjani dan matahari pagi masih setia menunggu!” ajak Aliq, menawarkan tangannya.

Dengan sisa-sisa tenaga, setelah berhasil kembali mengumpulkan tekadnya yang sempat porak poranda, tamu perempuan itu menyambut uluran tangan Aliq. “Masih kuat, Pak!”

“Kalau sudah tidak kuat, nanti saya gendong!” ujar Aliq, membayangkan menuntun Ana, gadis petualangnya, untuk menggapai Puncak Anjani, memenuhi janjinya, yang mungkin tidak akan pernah terwujud.

Cendana

Namaku Cendana. Aku tinggal di sebuah pulau di ujung Republik. Di mana-mana, yang namanya ujung, biasanya seringkali terlupakan. Terlalu jauh untuk dijangkau. Tidak begitu penting untuk diperhatikan. Begitulah kondisi pulauku.

Sejujurnya aku belum pernah pergi ke luar pulau. Aku tidak tahu ada apa di luar sana. Tapi terkadang, jika ayah menyuruhku ikut mengantarkan tamu-tamu yang datang, aku sering mencuri-curi waktu menonton televisi, melihat dengan takjub apa yang sedang terjadi di ibu kota Republik, juga hal-hal lain yang terjadi di pulau-pulau yang tersebar merantai di seantero nusantara. Berita sore yang mengabarkan kemacetan lalu lintas, selalu membuatku terkagum-kagum. Beruntungnya orang-orang yang tinggal di ibu kota Republik. Semua bisa punya uang yang melimpah untuk membeli mobil dan menggunakannya setiap hari di waktu yang bersamaan. Di sini, hanya pejabat dan orang kaya pemilik tanah yang bisa membeli mobil. Itu pun jarang dipakai. Biasanya ayah, yang merupakan salah satu keturunan pemangku adat yang sangat dipercayai oleh masyarakat, berusaha membujuk para pemilik mobil untuk meminjamkan mobilnya, sehingga ia bisa mengantarkan para tamu yang datang mengunjungi pulau kami.

Aku juga selalu terkagum-kagum jika menonton acara pertunjukkan musik di televisi. Semua penampil yang ada di sana terlihat begitu bercahaya. Wajahnya putih tanpa cacat, matanya berkilauan, rambutnya lurus, hitam, dan tebal, pakaiannya luar biasa indah, sepatunya cantik membalut kaki-kaki yang jenjang. Mereka yang tinggal di ibu kota Republik, yang berlalu-lalang mengisi acara televisi, benar-benar makhluk yang sempurna. Sangat berbeda denganku, ayah, ibu, dan semua orang yang tinggal di pulau terpencil dan terlupakan di ujung Republik ini. Wajahku hitam legam, rambutku kaku kemerahan terbakar matahari, telapak kakiku kasar karena setiap hari berjalan lebih dari lima kilometer tanpa alas kaki di atas aspal panas untuk menuju sekolah.

Hari ini sekolah libur. Ayah menugaskanku untuk menemani Dani mengantarkan tamu-tamu yang datang dari ibu kota Republik. Sebenarnya ayah lebih suka mengantarkan sendiri tamu-tamu yang datang. Ayah adalah pemandu yang sangat baik. Ia tahu segala sesuatu tentang pulau ini. Sudah ribuan kali aku mendengar cerita ayah tentang pulau kami, tapi aku tidak pernah bosan. Ayah sangat mencintai pulau ini. Aku yakin siapapun bisa merasakannya hanya dengan mendengar cerita-cerita ayah.

Meskipun ingin, kali ini ayah tidak bisa mengantarkan tamu-tamu yang datang karena ia tengah sibuk mempersiapkan banyak hal. Hari Rabu depan adalah hari yang penting bagi Republik. Hari itu akan diadakan pemilihan umum untuk memilih para pemimpin wilayah. Ayah dengan partai lingkungan hidupnya, mencoba mencalonkan diri sebagai salah satu pemimpin wilayah di bagian barat pulau. Tapi ayah tidak punya uang. Ayah punya banyak dukungan dari rakyat, tapi seperti mayoritas penduduk pulau kami, tidak ada satupun yang punya banyak uang. Kalaupun ada, tentunya tak akan ia berikan kepada ayah dan perjuangannya.

“Jadi tidak akan ada foto ayah di spanduk-spanduk besar itu?” tanyaku suatu hari.

Ayah tertawa, “tidak ada, Cendana!”

“Lalu kenapa ayah masih saja sibuk berkumpul dengan orang-orang partai?” tanyaku.

“Untuk memastikan bukan para penjahat dan antek-anteknya yang akan menguasai pulau kita, Nak!” jawab ayah.

“Tidak ada apa-apa, Yah, di pulau kita. Untuk apa para penjahat berusaha menguasainya?” tanyaku.

“Siapa bilang?” Ayah menyanggahku. “Pulau ini punya harta warisan yang berharga”.

“Apa?” tanyaku. “Pulau ini miskin. Tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ibu kota Republik”.

Ayah merangkulku. “Pulau ini punya kamu, Cendana. Dan ribuan bahkan ratusan ribu pemuda-pemudi seperti kamu. Kalau para penjahat itu berhasil merusak kalian, pulau ini akan semakin terpuruk,” jawab Ayah. “Tugas Ayah melindungi kalian dari penjahat-penjahat itu. Hingga nanti kalian akan tumbuh dewasa dan bisa menggantikan Ayah untuk melindungi pulau kita ini”.

Aku sering tidak memahami perkataan ayah. Terlalu rumit untukku. Tapi aku yakin ayah adalah orang yang baik. Aku sangat menyayangi dan mengaguminya. Dan aku rasa sebagian besar masyarakat di lingkungan kami juga merasakan hal yang sama.

*

Dani menjemputku pagi-pagi buta. Aku sudah siap dengan pakaian terbaikku. Kata ayah, kita harus memuliakan tamu. Meskipun musim hujan tak kunjung datang, kekeringan masih melanda pulau kami, dan air masih sulit dijumpai, tapi ayah tetap menyuruhku mandi. “Jangan bikin malu!” kata Ayah padaku dan Dani sebelum kami berangkat.

Dani adalah salah satu orang kepercayaan ayah. Tadinya aku takut padanya. Wajahnya bengis dan ia hanya punya satu mata. Sebelah matanya hilang ketika ia ikut bertanding di upacara adat pasola. Ia orang buangan. Ketika remaja ia diusir oleh keluarga dan desanya karena ia memukuli gurunya hingga hampir mati. Ia sering ngebut dan tidak segan-segan melindas ayam bahkan anjing yang melintas di jalan.

Tapi kata ayah ia baik. Ia selalu membela dan melindungi ayah jika ada yang mengancam akan menyakiti ayah. Kata ayah Dani pemberani dan setia. Ia hanya sedikit keras kepala. Katanya aku harus pintar-pintar bersikap untuk bisa mengambil hatinya.

Tamu kami datang dari arah barat, dari pulau seberang dengan menggunakan kapal feri. Ada dua pulau tetangga yang terletak di sisi barat dan timur pulau kami. Pulau tetangga yang terletak di sebelah barat terkenal dengan gunung api yang pernah sangat tinggi, namun meletus dan menyebabkan dunia tertutup debu sehingga tidak ada musim panas selama satu tahun penuh. Sementara pulau tetangga yang terletak di sisi timur terkenal dengan danau cantiknya yang bisa berubah-ubah warna dan pulau satelit kecil yang berisi ribuan naga hampir punah yang hanya tinggal satu-satunya di dunia. Butuh sembilan jam perjalanan laut, uang yang cukup untuk membeli tiket, dan keberanian yang besar jika aku ingin mengunjungi kedua pulau tetangga tersebut. Suatu saat nanti aku pasti akan mengunjungi keduanya. Suatu saat nanti.

Lima orang pemuda-pemudi sudah menunggu kedatangan kami di pelabuhan barat. Aku terkagum-kagum melihat mereka. Mereka tampak tangguh dengan tas-tas besar yang menempel di punggung mereka dan sepatu-sepatu kulit yang gagah. Aku menatap kakiku yang tanpa alas. Rasa sedih, malu, dan sedikit iri timbul di hati ini. Beruntungnya mereka yang lahir di ibu kota.

Dani dan aku turun untuk membantu mereka memasukkan barang-barang ke mobil yang kami pinjam dari orang kaya di kota. Ada dua nona dan tiga abang di rombongan ini. Semuanya menyapa kami dengan ramah.

Aku memperkenalkan diri, “Namaku Cendana. Kata ayah, dulu pulau ini terkenal dengan kayu cendananya. Meskipun kata ‘Cendana’ sudah dirusak oleh para petinggi Republik di masa lalu, aku harap nona-nona dan abang-abang mengingatku sebagai sesuatu yang baik, seperti kayu cendana yang wangi dan bisa menyembuhkan penyakit dan menghilangkan rasa cemas”.

Nona-nona dan abang-abang dari ibu kota Republik itu tertawa mendengar perkenalan diriku.

“Ini Dani. Mukanya bengis, tapi hatinya baik. Jangan takut nona-nona dan abang-abang padanya!” aku memperkenalkan Dani. Para tamu masih terus tertawa.

Ayah selalu bilang kita harus ramah dengan para tamu. Kesan pertama itu penting. Katanya jika kita baik, maka orang akan baik pula pada kita. Jika kita menolong orang, orang akan menolong kita pula. Ayah percaya hal itu. Dan aku percaya pada ayah.

Tamu-tamu dari ibu kota Republik ini ingin mengunjungi tempat-tempat cantik di pulau kami. Pantai bakau, desa tenun, dan bukit padang rumput keemasan di bagian timur pulau, serta danau air asin, pantai karang yang begitu jernih, air terjun berundak-undak, dan desa tradisional di bagian barat pulau.

Butuh dua hari untuk bisa mengunjungi semua tempat wisata yang diinginkan oleh tamu kami ini. Nona-nona dan abang-abang ini terlihat begitu terpesona dan takjub dengan keindahan pulauku. Aku merasa bangga menjadi bagian dari padanya, meskipun tidak sedikitpun ada andilku terhadapnya.

Suatu kejadian menarik terjadi ketika kami mengunjungi pantai karang di sebelah barat pulau. Rupanya seorang kulit putih berkantung tebal telah membeli sebidang tanah di dekat pantai karang tersebut dan memagarinya sehingga tidak semua orang bisa masuk mengunjungi pantai cantik ini.

Aku kesal dengan orang-orang yang ingin memiliki keindahan untuk dirinya sendiri. Atau mengkomersilkan ciptaan Tuhan untuk menimbun kekayaan. Tapi katanya begitulah cara kerja dunia modern. Mereka yang punya uang bebas melakukan segalanya. Kami yang tidak punya uang, dianggap malas, semua kemalangan kami adalah salah kami sendiri. Dan semakin lama, kami akan semakin terpinggirkan. Mungkin pada saatnya kami akan musnah tidak bersisa. Mati tanpa harga.

Di depan pagar berdiri anak-anak seusiaku. Mereka girang melihat kedatangan kami. Mereka menyuruh kami turun dan menggandeng kami, menunjukkan jalan alternatif untuk menuju pantai karang tanpa harus melewati pagar. Kami patuh. Mengikuti ke mana mereka pergi.

Dan kami sampai di pantai karang yang memang begitu indah.

“Minta uang,” ucap salah seorang anak.

“Kami miskin!” tambah anak yang lain.

Aku terkejut mendengarnya. Aku juga miskin. Aku tahu itu. Aku tidak punya harta, sepatu pun tidak punya. Sering tidak ada makanan di rumah, bahkan air bersih pun jarang kami punya. Tapi aku tidak pernah memamerkan atau memperdagangkan kemiskinanku.

Mungkin ini yang sedang ayah perjuangkan. Mungkin anak-anak ini tidak memiliki orang seperti ayah yang berusaha melindungi mereka, seperti ayah melindungiku. Uang sepertinya sudah merusak anak-anak ini, seperti uang merusak para penjahat-penjahat yang menguasai Republik. Mereka yang sudah mengenal uang, cenderung mengasosiasikan uang dengan kebahagiaan. Uang kemudian dijadikan tujuan dan pembenaran atas segala sesuatu yang mereka lakukan.

Anak-anak ini merasa sudah membantu kami, maka mereka mengharapkan uang sebagai imbalan. Uang merusak manusia. Dan jika tidak ada orang-orang seperti ayah, uang akan merusak pulauku. Rupanya begitu.

Sama sepertiku, Dani tampak terkejut dan kesal. Ia memarahi anak-anak ini dan mengusir mereka pergi. Tidak ada yang berani melawan Dani. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, wajah Dani begitu bengis. Matanya hanya tinggal sebelah.

Nona-nona dan abang-abang tamu kami terlihat terkejut dengan apa yang Dani lakukan. Mereka berkata kalau mereka tidak keberatan untuk membayar anak-anak tersebut. Mungkin di ibu kota sudah wajar hal seperti ini terjadi. Seperti orang-orang di televisi itu. Menyanyi dibayar uang, berbicara dibayar uang, tersenyum juga dibayar uang. Uang sudah mengatur hidup semua orang. Uang sudah menjadi dasar interaksi dan ukuran kebahagiaan seseorang. Aku rasa hal ini tidak benar.

Perjalanan kami berakhir di hari ketiga. Nona-nona dan abang-abang ini akan kembali ke ibu kota Republik dengan mengarungi laut menggunakan kapal feri. Aku dan Dani mengantarkan mereka ke pelabuhan barat. Kami saling berpamitan dan berpelukan.

“Terima kasih banyak, Cendana!” ujar salah seorang Nona.

“Kami sudah berkeliling Republik dari pulau utama, hingga ke ujung pulau ini, dan kamu adalah pemandu terbaik yang menemani perjalanan kami. Keramahanmu, cerita-ceritamu, telah memberikan kami pengalaman yang luar biasa,” tambah seorang Abang.

Aku terharu mendengar pernyataan nona-nona dan abang-abang ini.

*

Dani mengantarkanku pulang. Aku tidak sabar untuk menceritakan apa yang kupelajari dari perjalananku ini kepada ayah dan ibu.

Kulihat ibu sedang duduk di meja makan, “Ibu!” seruku.

Ibu menoleh, matanya sembab, tangisnya meledak ketika melihatku.

“Ayah hilang, Cendana!” seru ibu.

Apa yang ibu bicarakan?

Bagaimana mungkin seorang manusia dewasa seperti ayah bisa hilang?

Ibu menunjukkan topi kesayangan ayah. Ada sedikit bercak darah di bagian dalamnya.

Dua hari sebelum pemilihan umum untuk memilih pemimpin wilayah ayahku hilang. Si lantang pelindung pulauku dibungkam.

Hilang.

Dihilangkan.

Taksi Malam Itu

//Dira//
Lobby Senayan City, Jakarta
21.07 WIB
IDR 7,500

Sebuah taksi berwarna biru akhirnya berhenti di depan kami. Bak jodoh yang telah sama-sama mencari dan menanti, aku, Delta, dan taksi dengan nomor DD2001 dipertemukan malam itu. Lepas pukul sembilan malam seperti ini, memang taksi-taksi selalu berjajar rapi, bergantian menjemput penumpang yang juga telah mengantri, menunggu giliran untuk diantar pulang ke tempat tinggal masing-masing. Seorang petugas berseragam membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk setelah menandai buku catatannya dengan kode-kode tertentu yang tidak berhasil kuintip.

“Terima kasih,” ujarku sopan sambil bergeser duduk, menyisakan tempat untuk Delta di sebelahku, di bagian belakang taksi.

Delta mengangguk, memberikan gestur hormat kepada sang petugas, kemudian menutup pintu tanpa kata.

“Tujuan akhir ke Cinere, tapi lewat Ciragil dulu ya, Pak!” ujarku.

“Baik, Mbak!” jawab sang pengemudi menyanggupi, sambil menekan sebuah tombol di mesin argo, menandai dimulainya perjalanan kami.

Taksi di kota ini dicat dengan banyak warna. Semua punya nama dan representasi citra masing-masing. Namun bisa dibilang warna biru adalah juaranya. Jika pulang lebih dari jam sembilan, memilih si warna biru sedikit memberikan rasa aman, meskipun mungkin hal tersebut hanyalah sugesti belaka.

Hari itu kami bertemu tidak untuk mensingkronisasi otak dan berbicara ngalor ngidul sampai pagi tiba, seperti yang biasa kami lakukan. Hari itu kami bertemu untuk urusan professional. Aku meminta bantuan Delta untuk menjadi ilustrator buku anak-anak yang sedang aku kerjakan bersama komunitas non-profit-ku. Permintaan yang aneh, mengingat Delta bukanlah seorang ilustrator. Memang, sejak kecil, sejak pertama kali aku mengenalnya, Delta sangat suka menggambar. Namun sebagai seorang arsitek muda yang tengah menapaki karirnya, Delta pasti luar biasa sibuk dengan proyek-proyek dari firma tempatnya bekerja. Tetapi seperti biasa, Delta selalu siap membantu. Tanpa pamrih, tanpa banyak bertanya.

Delta terlihat gelisah, seperti sedang banyak pikiran. Namun tidak terlalu kuambil pusing sikapnya tersebut. Ia memang seperti itu. Semua hal dipikirkannya dan dipendamnya sendiri. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku jadi teman baiknya, tetapi belum juga hilang rasa segannya ketika membagi cerita denganku.

Kualihkan pandanganku ke jendela, mengamati mobil-mobil yang sedang berjajar diam, menunggu lampu merah berganti hijau, memberikan izin kepada mereka untuk kembali melaju.

“Dira,” panggilnya.

“Ya,” jawabku. Kembali kupandangi sosok kurus, tinggi, dan sedikit canggung yang telah kukenal lebih dari setengah umurku tersebut.

“Bulan November aku akan menikah,” ujarnya pelan.

Ia tidak menunduk. Tatapannya tidak kosong, tidak nanar, juga tidak menerawang. Namun sepertinya tidak berhasrat pula ia memandangku di saat-saat seperti ini. Ia melihat ke satu titik, tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat. Entah apa yang ada di kepalanya. Mungkin rasa bersalah, mungkin juga iba. Bahasa tubuhnya mengindikasikan bahwa ia tidak siap dan menolak untuk bertanggung jawab pada aku yang telah kehilangan kata.

Sebuah perasaan yang belum terdefinisikan mengalir pelan mengisi dadaku, menyesakkannya. Rasanya kesedihan belum datang saat itu. Porsi terkejut mungkin masih lebih besar. Emosi tanpa label menguasaiku. Rasionalitasku masih berkelana, sepertinya lupa jalan pulang. Pikiranku melayang-layang, perlahan tapi pasti menghampiri masa lalu. Bergerak tanpa kontrol dari satu titik ke titik yang lain, mengunjungi tumpukan memori lebih dari satu dekade yang berisi kekaguman yang mutual, cerita dan cita, kebutuhan dan kebergantungan, serta kepemilikan dan rasa takut kehilangan antara aku dan Delta.

Aku teringat analogi bodoh yang pernah kutanyakan padanya dulu. Sebuah pemberhentian pertama dari perjalanan ingatan yang bergerak mundur di kepalaku.

“Bayangkan kamu berada di mulut goa. Kamu tidak tahu seberapa dalam dan seberapa gelap goa tersebut. Kemudian kamu diberi kesempatan untuk mengambil sejumlah lilin sebagai bekal kamu di dalamnya. Berapa lilin yang kamu ambil? Dan apa alasannya?” tanyaku.

“Dua,” jawabnya. “Tanganku hanya dua. Aku asumsikan aku tidak diperbolehkan membawa tas atau apapun, hanya dua lilin yang bisa aku pegang tanpa menimbulkan permasalahan baru. Toh, aku tidak butuh banyak lilin. Aku percaya, begitu nyala keduanya padam, mataku sudah akan terbiasa menatap dalam gelap,” lanjutnya.

“Hmmm, jawaban yang menarik,” ujarku, mengangguk-angguk seperti sedang menganalisis dengan serius. “Analogi ini artinya jumlah manusia yang bisa kamu cintai dalam satu waktu.”

“Hahaha, kamu selalu aneh,” ia tertawa. “Tapi bisa jadi. Menurutku dua itu angka yang pas untuk membagi hati. Saling mengisi, namun cukup aman untuk dipertanggung jawabkan.”

“Dasar!” cibirku.

“Berapa lilin yang kamu bawa?” tanyanya.

“Satu,” jawabku. “Aku takut apinya menyulut kebakaran. Atau lilinnya menetes melukai tanganku. Atau mengusik makhluk yang mungkin tinggal di dalam goa. Lilinnya akan kupegang saja, tidak kunyalakan. Jika keadaan darurat, baru akan kunyalakan lilin itu.”

“Bahkan dengan lilin pun kamu tidak bisa percaya, ya!” komentarnya. “Tidak ingin kau gantungkan hidupmu pada apa pun dan siapa pun, rupanya.”

“Bisa jadi,” kataku.

*

//Delta//
Jalan Hang Tua, Jakarta
21.15 WIB
IDR 12,500

Selalu ada hawa canggung jika aku bepergian dengan taksi. Kendaraan ini katanya umum, tapi tidak bisa benar-benar dibagi, tidak dapat digunakan beramai-ramai dengan orang-orang asing. Namun ia tidak pula terasa hangat dan familiar layaknya kendaraan pribadi. Ia tidak terkesan tangguh, tahan banting, tetapi terjangkau layaknya kendaraan umum lainnya. Namun tidak pula bisa memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para penumpangnya layaknya kendaraan pribadi. Serba tanggung, membuat canggung.

Setelah memuntahkan bom yang selama ini kupendam, kini gelisah datang. Apakah sudah benar apa yang kulakukan? Apa yang ada di kepala Dira? Apa yang dirasakannya? Apa yang akan dikatakannya?

Suasana canggung di dalam taksi menular, merambat menyelimuti aku dan Dira. Sudah beberapa menit berlalu sejak aku memberitahukan kabar pernikahanku dengan Deria, namun tidak ada reaksi darinya. Tidak ada ucapan selamat, senyum lebar, ataupun antusiasme yang biasa ia berikan jika kubagi kabar bahagia dengannya. Aku pun entah mengapa merasa begitu berat ketika menyampaikan berita ini padanya tadi.

Aku menunggu Dira berkata sesuatu. Tapi nihil. Jalanan kota Jakarta yang ramai hiruk pikuk malam ini terasa sunyi, seolah ada yang menekan tombol bisu. Tidak satu patah kata pun keluar dari bibirnya. Tidak juga dariku. Pikiranku menerawang mundur menembus waktu, menuju masa-masa kedekatan dan kebergantungan antara aku dengannya.

“Nanti pasti kubaca ada namamu di koran, menjadi orang Indonesia pertama yang memenangkan Pulitzer Prize,” komentarku setelah membaca blognya.

Sejak SMA Dira sudah rajin menulis blog. Tulisannya menarik. Aku selalu suka membacanya. Ia membahas banyak hal dalam blognya. Cerita sehari-hari, kritik sosial, catatan perjalanan, ulasan film, semua hal dikomentarinya. Banyak blog yang kuikuti, namun celoteh dalam bentuk tulisannyalah yang selalu kunanti.

Dira ingin jadi penulis. Tapi katanya hanya akan aman dirimu secara finansial jika jurusan teknik, ekonomi, atau kedokteran yang kau pilih saat duduk di perguruan tinggi. Aku tak terlalu peduli dengan itu. Dari kecil aku suka menggambar, dan aku selalu ingin menjadi arsitek. Tapi Dira sepertinya percaya akan hal itu. Dipilihnya jurusan teknik, salah satu yang terbaik kata orang-orang, dan di situlah dimulai kedekatan kami.

Melalui internet, si abstrak yang bisa menghubungkan yang jauh, Dira, di Bandung yang muak dan ingin menjauhi lingkungan kuliahnya jadi sering melarikan diri kepadaku, teman lama tanpa rupa yang hanya berkedip-kedip menemaninya di layar laptop atau ponsel. Aku, si anak desa dari Wonosobo yang baru pertama kali merantau di Surabaya pun sangat menikmati kehadirannya, meskipun hanya di dunia maya.

Dira suka musik yang kritis, aku pun demikian. Aku suka buku-buku kiri, Dira pun mengagumi konsep sosialis. Dira begitu fasih memuja sekaligus mencerca film, aku pun betah duduk diam menatap layar, merekam detail, dan meresapi makna dari film. Aku selalu membela tim sepak bola kesayanganku dengan urat dan hati, Dira pun sering kali sama ngototnya. Kami saling meracuni dengan rekomendasi, dan tak kenal lelah kami berdiskusi saling menimpali tentang topik-topik random, sepanjang hari, sepanjang malam.

Dira suka begadang. Dia lebih bernyawa jika malam semakin pekat. Pernah kubuatkan ilustrasi dia sebagai sosok wanita penguasa malam yang suka menghisap darah. Dira yang sulit memahami kiasan dan haus akan penjelasan, bertanya apa maksudnya. Aku, si introvert, yang sebenarnya terkuras energinya jika harus terus menerus menanggapinya, selalu tidak kuasa menolak. Bahkan terkadang menikmatinya.

Dira adalah gadis yang kritis, logis, berpikiran terbuka, dan penuh percaya diri. Dia selalu punya banyak pertanyaan dan tidak pernah kehabisan opini tentang banyak hal. Bahkan terkadang ia juga punya insting yang luar biasa, hampir selalu benar.

“Sepertinya, perempuan yang bernama Deria ini mencintaimu,” ujarnya suatu kali.

Deria adalah teman kampusku. Kami saling mengenal, tapi tidak terlalu dekat antara satu dengan yang lain.

 “Kenapa kamu berkata demikian?” tanyaku. Dira tidak mengenal Deria secara langsung. Mereka hanya sering berpapasan di platform sosial media. Sangat sok tahu jika dia menyimpulkan hal ini.

“Insting wanita!” jawabnya asal.

Aku yang sebelumnya tidak pernah terlalu memperhatikan kehardiran Deria, sejak komentar Dira tersebut jadi sedikit penasaran. Aku yang pemalu dan biasanya enggan mendekat, mulai menurunkan pagar pengamanku, dan sedikit-sedikit mempersilakan Deria masuk.

Hingga sekarang. Hingga Deria akhirnya resmi menjadi calon istriku.

Deria selalu ‘awas’ terhadap interaksiku dan Dira. Ia terkadang protes, mengapa pembicaraanku dan Dira selalu lebih ‘hidup’ jika dibandingkan dengan pembicaraan kami berdua. Aku sendiri tak tahu mengapa. Hanya dengan Dira, waktu mengalir tanpa terasa. Topik datang silih berganti, tanpa harus digali, tanpa harus dipancing.

Aku selalu memiliki keraguan terhadap pernikahan. Aku tidak suka dengan konsep keterikatan dan aku takut akan tersiksa karena rasa bosan. Aku takut pernikahan nantinya akan dipenuhi oleh masalah-masalah operasional dan kehilangan jiwanya, terus bergerak maju, tapi tanpa makna. Aku ingin pernikahan yang ‘hidup’, yang penuh dengan diskusi tentang ide dan isu-isu di dunia ini. Aku tidak ingin bahagia jadi kata yang mendefinisikan pernikahanku. Karena bahagia bisa saja tanpa makna. Aku ingin pernikahan yang membuat hidup menjadi lengkap dan penuh makna.

Bayangan Dira selalu terbersit. Bersama dengan penginapan sederhana milik kami berdua di tepi sungai. Kami akan menyapa hangat para pelancong yang datang, memberi mereka pelayanan yang menyenangkan, dan sesekali mencuri waktu duduk di pinggir sungai untuk membaca buku berdampingan. Dira mungkin akan membaca kumpulan cerpen Jhumpa Lahiri kesukaannya untuk kesekian kalinya, dan aku mungkin akan membaca buku aneh tentang pesawat atau biografi tokoh-tokoh nyeleneh. Kami akan mengisi waktu kami dengan berdiskusi tanpa henti. Membicarakan ide, saling menginspirasi, hingga tidak perlu terlalu pusing memikirkan kegiatan operasional sehari-hari.

Itu ada di kepala. Tapi tidak pernah kuungkapkan padanya. Aku tidak bisa membaca Dira. Aku takut kehilangan dia jika aku salah langkah. Aku tidak mau hal itu terjadi.

Dan kuharap aku tidak kehilangannya karena pengumuman pernikahanku barusan.

*

//Dira//
Masjid Agung, Jakarta
21.25 WIB
IDR 20,500

Pak Tanto, pengemudi taksi kami dari tadi hanya diam. Sepertinya kekikukanku dan Delta menular, membungkam semua orang yang ada di taksi biru ini.

Aku suka mengobrol dengan pengemudi taksi. Aku suka perasaan terkungkung dalam waktu terbatas bersama orang asing. Itu memberiku kebebasan untuk bercerita dan mendengar cerita. Karena aku tahu cerita itu akan aman. Tersimpan dengan baik di benak masing-masing, baik si pendengar maupun si pencerita.

Aku pernah mendapatkan resep chicken teriyaki yang luar biasa enak dari seorang pengemudi taksi. Pernah juga ada pengemudi yang meminta nomor teleponku, dan memintaku mengajarinya Bahasa Inggris setiap akhir pekan karena dia sering merasa digunjingkan oleh penumpang dengan Bahasa Inggris, dan ia ingin tahu apa artinya. Cerita tentang istri yang selingkuh, keluhan politik, dan problematika kriminalitas di Jakarta adalah beberapa topik standar yang sangat sering muncul. Aku suka perasaan dekat dan intim ketika obrolan itu terjadi, namun tetap merasa aman karena tahu pembicaraan itu pada satu titik akan berakhir tanpa kelanjutan apapun.

Mungkin itu yang membuat aku dan Delta dekat. Kami selalu hidup di kota yang berbeda. Chat, SMS, e-mail yang saling kami kirimkan secara teratur dan intens terasa seperti layaknya kotak terkungkung yang terasa begitu aman bagiku. Aku bisa menceritakan banyak hal yang tidak kuceritakan pada orang lain padanya. Aku bisa membagi ide, cerita, dan segala hal yang menyesaki kepalaku kepadanya. Aku merasa sangat nyaman dengan hubungan kami. Dekat, hangat, bahkan saling bergantung, tapi berjarak dan tidak mengikat.

Pernah ia bilang, “Kalau kita tinggal di satu kota, pasti kita sudah menjadi sepasang kekasih”.

Secara logis aku membenarkan pernyataannya itu. Kami berbicara dengan bahasa yang sama, memiliki mimpi yang tidak jauh berbeda, dan memiliki keterhubungan intelektualitas di tingkat yang sama. Hanya jarak yang bisa dijadikan alasan mengapa komitmen tidak boleh tumbuh. Hanya jarak yang bisa dipersalahkan dan dijadikan sebagai exit strategy olehku yang pengecut ini.

Apakah aku ingin menjadi kekasih Delta? Entahlah. Menurutku hubungan romantis yang dikekang dengan komitmen memiliki momok tersendiri. Aku takut hubungan serius. Aku takut dengan konsep pernikahan.

Semua orang menikah yang aku kenal selalu mengeluh. Tidak ada yang tampak tulus bahagia. Bahkan, pernikahan yang melahirkan aku pun, pernikahan papa dan mama harus terhenti dan berakhir begitu saja.

Aku takut dengan komitmen dan intimasi. Aku takut janji setia dan saling menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain itu pada satu titik di satu masa akan rusak, akan jatuh tempo, akan kadaluarsa. Aku takut ditinggalkan dan dikecewakan. Tapi terlebih lagi, aku takut mati bosan.

Sempat terpikir di benakku, jika harus kumenikah nanti, aku akan memilih orang yang paling tidak menyebalkan di dunia ini. Orang yang bisa tahan dengan keanehanku dan pola pikir ajaibku, tanpa banyak protes. Aku tahu tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Aku tahu manusia punya cacatnya masing-masing. Tapi aku takut aku tidak bisa tahan dengan kekurangan-kekurangan pasanganku kelak. Aku takut aku akan meledak, pergi menjauh, dan meninggalkan komitmen tanpa arti. Aku butuh orang yang kemenyebalannya minimal untukku, bisa kutolerir. Sehingga tidak ada alasan bagiku untuk pergi.

Ketika pikiran ini berkelebat di kepala, sosok Delta-lah yang muncul. Lima belas tahun kita berteman, dia selalu dapat menerimaku tanpa banyak ba-bi-bu. Ia selalu memberikanku kejutan manis dan selalu bisa kuandalkan kapan pun dan untuk urusan apa pun. Aku pun nyaman di dekatnya. Tidak pernah muak dan meledak kesal dibuatnya.

Tapi peduli setan dengan pikiranku. Tak pernah kudengarkan dia. Delta bukan kekasihku, aku bukan kekasihnya.

*

//Delta//
Trunojoyo
21.45 WIB
IDR 27,500

Ciragil sudah dekat. Sebentar lagi taksi biru ini akan berhenti. Membebaskanku dari kecanggungan ini, namun menghantuiku dengan rasa sesal. Karena kebodohan dan kepengecutanku, aku akan kehilangan Dira.

Dira adalah orang paling menarik yang pernah kukenal. Ia sangat baik, ia selalu ada untukku. Meskipun ia jauh dan terasa tidak nyata bagiku.

Aku yang pendiam dan pemalu ini, tidak pernah menceritakan hal pribadiku kepada siapa-siapa. Kalaupun harus, akan kupisah-pisah ceritaku. Tapi dengannya semua bisa keluar begitu saja. Begitu hidup. Begitu dekat.

Tetapi Dira begitu abu-abu. Tak tahuku apa yang dia mau. Ketika rasa tertarik menghampiriku, hanya diam yang bisa kulakukan. Aku tidak suka meraba-raba sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang tidak kubenar-benar kutahu. Aku tidak berani mengambil resiko kalau dengannya. Karena taruhannya terlalu berharga. Dan aku tidak bisa kalah untuk hal ini.

Pernah ia bertanya, “Selama lebih dari sepuluh tahun kita berteman, apakah kamu pernah menaruh hati padaku?”

Aku terkejut. Aku tak tahu jawaban ‘benar’ apa yang harus aku sampaikan.

“Kenapa bertanya demikian?” tanyaku.  Mencoba mengulur waktu.

“Aku hanya ingin tahu,” jawabnya.

“Bagaimana denganmu? Pernahkah kamu menyukaiku?” tanyaku mengembalikan pertanyaan tersebut kepadanya.

“Mungkin pernah, tapi belum kusadari,” jawabnya santai.

“Hemmm,” aku menganalisis jawabannya yang diplomatis. “Mungkin aku juga begitu,” aku memilih jawaban aman.

Saat itu aku dan Deria sudah semakin dekat. Obrolan pernikahan belum muncul, tapi hubungan kami sudah mulai stabil. Deria sudah tidak pernah mempermasalahkan kedekatanku dengan Dira lagi. Ia sudah dapat menerima bahwa Dira adalah bagian penting dalam hidupku yang tidak bisa dan tidak mau aku singkirkan.

Dira tahu perkembangan hubunganku dan Deria ini. Oleh karenanya aku sedikit heran mengapa dia menanyakan pertanyaan ini. Dan mengapa baru sekarang-sekarang ini dia menanyakannya.

Sepertinya jawabanku saat itu salah bagi Dira. Ia menjauh. Hubungan kami merenggang.

Dira hanya menghubungiku untuk masalah-masalah proyek. Aku merasa kehilangan teman baikku. Aku merasa hubungan kami berubah dari dua orang teman baik yang saling bergantung dan saling membutuhkan, menjadi hubungan antara buruh gambar dan majikannya. Aku sedih.

Deria menjadi pelarianku. Aku mencoba mendekati Deria, namun kali itu tidak sebagai pasangan yang membahas permasalahan sehari-hari, tetapi sebagai seorang sahabat yang membahas isu dan ide tentang dunia dan seisinya.

Dan secara ajaib Deria bisa menjalankan peran sebagai teman baik ini dengan sangat luar biasa. Aku sangat terkejut. Harusnya aku bertukar saling menyambung isi kepala ini dengan Dira, bukan dengan Deria. Harusnya.

Karena hal ini, aku merasa Deria tidak punya lagi kekurangan apa pun. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak meningkatkan level komitmen kami ke jenjang selanjutnya. Karena hal ini lah aku pergi melamar Deria dan berjanji akan menikahinya.

*

//Dira//
Ciragil
22.15 WIB
IDR 32,500

Taksi berhenti di depan rumah kos Delta. Semenit, dua menit, namun tidak ada di antara kami yang bergerak.

Bisa saja kuberusaha mentranslansikan sesak di dada yang belum terdefinisikan ini, meluapkan semua emosi, bahkan memintanya ikut menjelaskan apa arti perih yang belum pernah kurasakan sebelumnya ini.

Ia pasti mau. Ia selalu meluluskan permintaanku.

Bisa saja kutanyakan apa maunya, apakah ia yakin dengan keputusannya, serta apakah itu sudah final dan tidak dapat diganggu gugat lagi.

Ia pasti ragu. Ia pasti kelabakan menjawab pertanyaanku.

Bisa saja.

Tapi tidak kulakukan.

Di titik ini aku memiliki dua pilihan. Aku bisa memberi selamat, doa restu, dukungan, dan senyum bahagia sebagai seorang teman baik, atau menjadi wanita bodoh yang selama ini tak sadar dengan perasaannya terhadap benda miliknya yang berharga, sehingga tidak benar-benar merawat dan menjaganya, namun ketika hendak dimiliki orang lain, merengek tanpa harga diri, berusaha mempertahankannya.

Aku memilih yang pertama.

Biar bagaimana pun juga, Delta adalah teman baikku. Dia berhak diperlakukan dengan baik.

Kuingat perkataan Delta dulu, “Ada dua hal yang kucintai di dunia ini. Film dan arsitektur. Arsitektur itu ibaratnya seperti istri, aman jika dijadikan istri. Bisa dijadikan sebagai mata pencaharian. Sementara film dapat dianalogikan sebagai gadis penggoda. Aku mencintainya, tapi hanya dapat mengisi waktu luangku saja.”

Aku hanyalah si film.

Aku harus bungkam.

Aku tidak pantas mengacaukan hidupnya.

“Selamat ya, Ta!” seruku. “Semoga kalian berbahagia,” tambahku, menyelesaikan kewajibanku sebagai teman baiknya, mencoba mengusirnya turun dari taksi.

“Terima kasih, Dira!” ujarnya sambil bersiap turun dari taksi. Ia tampak sedikit terkejut karena akhirnya aku memecahkan kesunyian yang menyiksa ini. “Aku duluan! Hati-hati di jalan!” tambahnya.

Mengakihiri perjalanan taksi malam itu.

Aku Ingin Menjadi Tampan

“Katanya lu sayang sama gua,” kata Cik Linda, menatapku tajam. Tatapan yang tidak dapat dibantah.

“Kalau memang lu sayang, lu harus pakai ini gaun di nikahan gua”.

Aku memandangi gaun berwarna peach tersebut dengan lemas tak berdaya. Modelnya kemben, panjang hingga mata kaki dan penuh renda. “Lu nggak kasihan, Cik sama gua?” aku memelas. Mengeluarkan pertahanan diri terakhirku.

“Gua nikah cuma mau sekali. Cuma sekali ini aja, Bet!” Gagal. Aku harus mengikuti apa mau cici tertuaku ini. Anak kebanggaan mami dan papi yang sempurna, yang tidak punya cacat di mata semua orang. Aku yang sudah terlanjur dilabeli ndableg, pembelot, dan liar ini harus selalu nurut dan manut kalau tidak mau diungkit dosa-dosa dan pembangkanganku selama ini. Membantah sekali, jadi kacung yang tak punya hak melawan untuk selamanya.

“Iyee dah!” aku pasrah. Menyerah. Mengaku kalah. Demi cici semena-mena yang tetap kusayangi. Rasa bersalahku karena selama ini mengecewakan keluarga besarku berhasil mengalahkan rasa maluku dengan telak. Ya aku harus rela menjadi badut sehari demi menebus keputusanku dulu, untuk percaya dan mengikuti kata hatiku. Teguh pada jati diriku.

“Gitu dong!” Cik Linda tersenyum puas penuh kemenangan. “Wig-nya jangan lupa dipakai juga ya,” tambahnya.

Aku menghela nafas. Kalah telak. Rasanya aku ingin menggali lubang dan mengubur diriku di dalamnya. Menghilang untuk selamanya. Lenyap bersama harga diriku yang sebulan lagi akan raib tak bersisa.

*

“Bet, bisa nggak sih lu nggak lari-lari gitu di rumah?” Cik Linda mengomel sambil mendongak dari buku pelajarannya. Pukul lima hingga pukul enam sore, tepat ketika mami dan papi pulang dari toko, Cik Linda akan duduk di meja makan, membuka buku pelajarannya, dan mencari sejuta alasan untuk memojokkanku karena mengganggunya belajar.

“Sorry, Cik! Gue buru-buru,” sahutku sambil bergegas meninggalkan rumah. Mengambil topiku dan segera mengayuh sepedaku.

Mami dan papi yang baru saja pulang, mencoba melepaskan kelelahan bekerja setelah sejak pukul enam pagi menjaga toko keramik dan perkakas kami yang tidak pernah sepi pengunjung mulai mengomeli dan membanding-bandingkanku dengan Cik Linda. “Bukannya belajar ya lu kayak cici lu. Malah kelayapan nggak jelas”.

Sebenarnya bisa saja aku tinggal dan mendebat semua orang di rumahku. Tapi aku enggan. Aku terlambat. Aku harus buru-buru ke rumah makan milik Koh Jimmy, tempat aku bekerja sepulang sekolah, menjadi tukang antar makanan dengan menggunakan sepeda. Aku sedang butuh uang. Aku sedang mengincar pemutar musik terbaru keluaran Apple. Namanya iPod. Katanya teknologi ini akan membuat Discman apalagi Walkman jadi tak memiliki nilai lagi. Aku ingin benda itu. Aku ingin ditemani musik yang tanpa henti. Sehingga aku tidak merasa sendiri. Dan tak perlu mendengarkan omongan ‘harusnya kamu begini, harusnya kamu begitu’ dari semua orang yang selalu merasa lebih tahu yang benar untukku.

“Abet, abet, telat lagi ya lu!” Koh Jimmy menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sorry, Koh,” aku cengengesan berharap ia maklum. “Kebablasan tidur siang gue tadi”.

“Auk ah, susah lo jadi orang sukses kalo telat melulu,” belum-belum sudah disumpainya aku. “Nih, ada tiga pesanan. Semuanya langganan, nggak jauh-jauh rumahnya. Cepet tapi hati-hati ya lu bawa sepedanya. Jangan sampe tumpah pesanannya!” Koh Jimmy mewanti-wanti. Tidak percaya padaku.

“Siap, Koh!” jawabku sok professional. Biarpun bawel, Koh Jimmy sebenarnya baik. Aku suka dan hormat padanya.

Sambil menyiapkan sepedaku, kubaca kertas pesanan yang diberikan Koh Jimmy padaku. Ada sebuah nama yang sudah kuhafal benar. Om Sena di Jalan Besi. Seorang penjahit khusus jas yang sepertinya tinggal sendirian di rumahnya yang besar dan mewah. Setiap hari ia memesan makanan di rumah makan milik Koh Jimmy. Sepertinya dia tidak memiliki pembantu dan tidak bisa memasak sendiri. Jadi selalu dibelinya lauk dan sayur dari rumah makan Koh Jimmy. Cap cay goreng dan nasi tim jamur adalah menu yang paling sering dipesannya. Aku sudah hafal.

“The Jimmy’s!” ucapku professional, mengucapkan merek dagang Koh Jimmy sesuai dengan SOP yang diajarkannya padaku.

“Kamu lagi yang mengantar,” katanya sambil sedikit membukakan pagarnya, mengambil pesananku dan membayar dengan uang pas.

“Terima kasih, Om,” ujarku sopan. “Selamat menikmati!”

“Sebentar,” panggilnya. Tidak biasanya dia memanggilku.

“Ada yang salah, Om dengan pesanannya?” tanyaku was-was. Takut akan disemprot Koh Jimmy lagi.

“Tidak,” jawabnya. “Boleh aku tahu siapa namamu?” tanyanya.

“Boleh, Om,” jawabku, masih mempertahankan profesionalitas pengantar makanan. “Abet. Nama saya Abet”.

“Abet, saya punya pertanyaan untuk kamu,” ujarnya datar. Aku diam mendengarkan. “Kamu ingin menjadi cantik atau tampan?” tanyanya.

Aku kelu. Pertanyaan apa itu? Apa maksudnya? Kenapa orang asing ini lancang menanyakan hal ini kepadaku?

Aku memang seorang tomboy. Dari kecil aku selalu cuek dengan penampilan. Aku tidak suka memakai rok. Ribet. Aku tidak suka kalau rambutku tergerai. Gerah. Aku tidak suka jika dibedaki. Hidungku gatal. Aku memang cuek apa adanya. Tapi tidak pernah sedikitpun terlintas pertanyaan semacam itu di kepalaku. Sehingga aku tidak punya jawabannya.

“Tidak perlu kau jawab sekarang,” katanya seolah bisa membaca isi kepalaku. “Kalau kau sudah siap dengan jawabannya, datanglah kemari. Aku bisa membantumu”.

Aku kehilangan kata. Kutinggalkan dia tanpa memberi respon apapun.

Orang aneh.

*

Berhari-hari aku gelisah. Pertanyaan Om Sena terus menghantuiku. Apakah aku ingin jadi cantik? Atau aku ingin menjadi tampan? Aku tidak tahu. Rasanya otak dan mental lima belas tahunku belum matang benar untuk menjawab pertanyaan seperti itu.

Pintu kamar Cik Linda terbuka. Kulihat dia sedang memoles wajahnya dengan bedak dan lip balm.

“Ngapain lu ngintip-ngintip gua?” tanyanya judes sambil menutup pintu.

Aku kembali ke kamarku. Kupandangi pantulan diriku di cermin. Aku tidak cantik. Kulit kuningku matang terbakar matahari, tidak mulus, banyak bekas luka di sana-sini dan jerawat datang dan pergi. Badan wanitaku belum menunjukkan tanda-tanda akan tumbuh indah seperti milik Ci Linda. Dada dan pinggulku masih rata.

Orang cantik banyak yang sombong, judes, dan angkuh seperti Cik Linda. Merasa lebih dari orang lain. Merasa orang yang tidak secantik dia bisa diperlakukan seenaknya. Bisa disuruh-suruh sesuka hatinya. Kalau cantik artinya aku harus menjadi orang seperti itu, aku tidak mau. Aku tidak suka diperlakukan seenaknya oleh Cik Linda, dan aku tidak mau memperlakukan orang lain dengan tidak baik. Apakah menjadi cantik harus seperti itu? Jika iya, aku tidak mau menjadi cantik.

Masih di depan cermin, pikiranku menerawang, teringat akan Agatha. Murid paling cantik di sekolahku. Agatha cantik, tapi ia tidak seenaknya. Ia baik dan ramah. Ia sering meminjami aku catatannya yang rapi. Aku sering mengamati Agatha. Ketika ia duduk di kelas, ketika kami sedang bermain basket di lapangan, ketika ia menunggu jemputan, ketika ia menunduk membaca buku di perpustakaan. Aku suka memperhatikannya.

Agatha cantik. Aku suka melihat dirinya yang cantik. Tapi aku tidak ingin menjadi sepertinya. Aku ingin dia melihatku seperti aku melihatnya. Aku ingin dia tertarik padaku. Aku ingin dia menyukaiku.

Kulihat lagi bayanganku di cermin. Aku tidak cantik. Tapi aku bisa menjadi tampan. Kuikat rambut panjangku dan kusembunyikannya di balik kepala. Posturku sangat mendukung untuk menjadi tampan. Kulit kuning kecoklatanku membuatku terlihat macho. Akibat sering bermain basket dan bermain sepeda, badanku cukup keras dan liat, membuatku menarik. Bekas luka dan satu dua jerawat malah membuat penampilanku semakin berkarakter.

Kalau aku tampan, apakah Agatha bisa menyukaiku? Kalau iya, maka rasanya aku ingin menjadi tampan. Inikah jawabannya?

*

Om Sena membukakan pintu pagar rumahnya yang besar dan megah. Ia kemudian membiarkannya sedikit terbuka, berjalan di depanku ke arah studio jahitnya.

“Jadi apa jawabanmu, Bet?” tanyanya. “Abet kan namamu?” Ia mencoba memastikan.

“Aku ingin menjadi tampan, Om!” jawabku dengan suara bergetar. Belum yakin.

Seperti bisa membaca keraguanku iya kembali bertanya, “yakin?”

Aku menarik nafas. Kembali membayangkan Cik Linda dan Agatha. Kuhela nafasku perlahan dan berkata dengan lebih tenang, “Aku ingin menjadi tampan, Om!” kini terdengar lebih yakin.

“Kamu bisa menjadi cantik ataupun tampan, itu pilihan, dan kamu bebas menentukannya sendiri. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, dan tidak ada yang bisa mengatur dan mendefinisikan kamu, tanpa persetujuan kamu,” ujar Om Sena. “Yang penting itu apa yang ada di dalam sini,” sambungnya sambil menunjuk dadanya. “Yang tidak sembarangan bisa dilihat oleh mata”.

Aku diam mendengarkan.

“Sudah bulat untuk menjadi tampan?” tanya Om Sena lagi, menatapku tajam, sekali lagi memastikan.

Aku mengangguk.

“Jika kamu memutuskan untuk menjadi tampan, jadilah tampan dengan sebenar-benarnya,” ujarnya sambil membuka-buka lemarinya.

“Coba pakai ini,” Om Sena mengeluarkan blazer pas badan, kemeja berwana abu-abu terang dan celana hitam berbahan denim. “Seseorang yang tampan selalu memperhatikan kebersihan dan kerapihan penampilannya.”

Sebetulnya aku terkejut disodori pakaian yang sepertinya mahal ini. Bagaimana aku bisa membayarnya? Mana mau mami sama papi membelikan pakaian seperti ini. Tapi aku menurut. Aku pergi ke ruang ganti, mengganti pakaianku, sesuai dengan instruksi Om Sena.

Kulihat pantulan diriku di cermin. Aku tampak begitu bersih dan rapi. Aku terlihat tampan. Tampan dan menarik.

Aku keluar perlahan dari ruang ganti, berjalan kembali ke ruangan tempat Om Sena berada. Ia berdiri menantiku.

“Tampan kan?” tanyanya sambil tersenyum. Ia tampak bangga denganku, kreasinya.

Aku tidak bisa tidak tersenyum.

“Sekarang duduk di sini,” perintahnya lagi, menunjuk ke arah kursi di hadapannya.

Aku berjalan mendekat, duduk, mematuhi apa yang disuruhnya.

“Tampan itu bukan hanya soal penampilan, tapi juga perilaku,” ujarnya. “Jika ingin menjadi tampan, kamu harus memperlakukan orang lain dengan sopan dan santun. Kamu harus menghargai orang lain, dan selalu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk membuat mereka merasa penting dan special.”

Aku menyimak dengan seksama.

“Condongkan badan sedikit ke depan ketika mendengarkan orang lain bercerita, berikan tatapan mata yang lembut dan tidak mengintimidasi ketika berbicara dengan mereka. Jaga perasaan orang lain. Dan yang terpenting jaga perkataanmu, jangan pernah memberikan janji yang belum tentu bisa kau penuhi”.

Aku membuat berlembar-lembar catatan di dalam kepalaku.

“Kau tampan, Bet!”

*

‘Alamak!’ batinku miris. Aku begitu risih dan jijik melihat bayangan diriku di cermin. Tato di sepanjang lengan dan punggung menyembul garang salah tempat di balik gaun manis ini. Rambut cepak rancung-rancungku terbungkus wig ikal berwarna kecokelatan. Aku seperti badut.

Cik Linda terkejut melihatku, sedikit menahan tawa.

“Puas lo, Cik?” tanyaku kesal.

“Kenapa sih lo, galak amat,” protes Cik Linda, masih sedikit menahan tawa. “Lu kan cewek, ya sudah kodratnya pake gaun kayak gini”.

Mami dan papi tiba-tiba masuk juga ke ruang ganti. Mereka mengerutkan alisnya melihatku. Tidak ada sedikit pun apresiasi keluar dari mulut mereka. “Pemberkatannya sudah mau dimulai, ayo kita bersiap!”

Aku menghela nafas perlahan. Kodrat katanya. Baiklah akan aku ikuti kodrat ini.

Cik Linda berjalan di depan, didampingi Papi. Semua orang takjub menatap kecantikannya. Aku berjalan di belakangnya, mengikutinya, menjalankan kewajibanku sebagai pengiring pengantin wanita.

Tamu yang tadinya takjub melihat kecantikan Cik Linda mulai terdengar berkasak-kusuk ketika melihatku. Kupingku sebenarnya panas, tapi aku tetap berjalan. Memenuhi permintaan kakak yang kusayangi.

Beberapa langkah sebelum tiba di altar, kakiku yang tidak terbiasa mengenakan hak tinggi mulai oleng. Gaun panjang penuh renda yang membuat jalanku tidak nyaman terinjak ujung sepatuku. Keseimbanganku hilang. Aku terjatuh. Gaun sialan ini pun sobek. Semua mata tertuju padaku.

Sedetik. Dua detik.

Suara tawa tertahan, tahanan nafas iba, bisik-bisik tanpa suara, memenuhi gereja dengan kecanggungan.

“Udah kalo pada mau ketawa, ketawa aja!” seruku, masih enggan berdiri.

Semua orang akhirnya tertawa. Beberapa orang berusaha membantuku bangkit. Cik Linda terlihat sedikit kesal dan malu. Acara yang penting yang sudah dipersiapkannya hampir setahun, buyar berantakan gara-gara aku. Ia menatapku kesal seolah-olah berkata, ‘lagi-lagi kau mencuri perhatian orang-orang dariku’.

Kubalas tatapannya, “Cik, gua udah berusaha nurutin permintaan lu. Karena gua sayang sama lu. Karena lu cici gua,” aku berkata cukup lantang sehingga Cik Linda dan orang-orang yang bergerumul ingin menontonku dapat mendengar perkataanku. “Tapi gue gak bisa. Gue bukan lu, Cik. Ini bukan gua. Jadi sekarang gue balik, kalau lu sayang sama gua, kalau lu masih menganggap gua adik lu, gua mohon biarin gua jadi diri gua sendiri,” aku menantangnya.

Cik Linda merasa terpojokkan. Ia melirik papi dan mami. Mereka hanya diam, sepertinya ingin segera acara ini selesai dan menghilang ditelan bumi supaya tidak perlu memikirkan reputasi dan nama baik mereka lagi.

“Uda, terserah lu,” jawab Cik Linda akhirnya. “Ganti baju, sana. Gue tunggu lu di sini. Gue nggak peduli lu mau pakai baju apa, dandan kayak gimana, asal lu, adik gua satu-satunya ada saat gue diberkati”.

Aku tersenyum bahagia.

Aku bergegas menuju ruang ganti. Agatha sudah menungguku di sana. Membawakan setelan jas yang sudah disiapkannya tanpa sepengetahuanku.

“Terima kasih, sayang!” ujarku sambil mencium keningnya.

Aku mengenakan pakaianku, sedikit menata rambutku, dan bergegas keluar, kembali ke altar untuk menyaksikan hari terpenting dalam hidup kakakku.

Cik Linda tersenyum. Mami dan papi juga terlihat lega.

“Adik gua tampan!” ujarnya sambil menggenggam tanganku. Sesaat sebelum upacara pemberkatan dilanjutkan.