Slamet Menempuh Hidup Baru

“When people are in close relationships, their self becomes intertwined with their partner’s self. We begin to think of a partner as a part of ourselves – confusing our traits with their traits, our memories with their memories, and our identity with their identity. When a relationship ends, the loss of a partner can, to some extent, cause the loss of the self.”

Arthur Aron, psychologist.

4 November 2015, seorang sahabat kecil saya, salah satu yang paling lama, mengirimkan undangan pernikahannya. Kedekatan kami cukup rumit, sehingga undangan tersebut terasa seperti surat pemutusan hubungan pertemanan secara resmi antara saya dan dia.

Saya menunjukkan undangan tersebut kepada Fariz, seorang teman yang (saya yakin menyesali keputusannya) telah menandatangani surat perjanjian mendengarkan curahan hati saya kapanpun diperlukan di atas materai.

“Kalau lo jadi gue, apakah lo akan datang?” tanya saya.

“NGGAK LAH!” jawab Fariz, dengan huruf capital khas-nya. “Mending naik Guntur. Yuk! Atau naik yang heboh sekalian. Slamet. Terus teriak di atas, ‘LIFE SUCKS!’, ala-ala Realita Cinta dan Rock n Roll”.

Jeda dua menit saya menjawab, “I am in!” saya rasa itu refleks. Jawaban reaktif dan impulsif.

“GILA! Lo sepatah hati itu lho, sampai naik gunung tertinggi kedua di Jawa juga lo iyakan. Semoga ketinggian bisa membuat lo jadi tidak sedih,” kata Fariz.

Dan kami pun mulai merencanakan perjalanan impulsif kami tersebut.

Meskipun tahun lalu negeri ini dilanda kemarau panjang, namun bulan November sudah masuk musim hujan. Orang-orang waras tidak akan mengiyakan ajakan kami, terlebih lagi karena persiapan yang begitu pendek, hanya sembilan hari.

Saya dan Fariz mulai mengumpulkan pasukan. Banyak yang tertarik untuk ikut. Saya merasa beruntung karena memiliki teman-teman yang cukup gila, namun karena berbagai alasan, banyak yang membatalkan partisipasinya. Ada yang sakit, ada yang tidak mendapatkan izin, dan ada yang harus bekerja. Akhirnya hanya Dhini, personel pendakian Semeru yang mungil namun tangguh dan Caweng, teman mendaki saya di Rinjani yang akan naik vespa dari Yogya yang resmi berpartisipasi dalam perjalanan kali ini. Saya yang saat itu sedang tidak stabil, mulai membaca tanda yang tidak-tidak.

Tiket kereta api ke Purwokerto tadinya banyak tersedia ketika kami merencanakan perjalanan ini. Itu membuat kami menunda-nunda untuk membelinya. Karena kami masih menunggu konfirmasi dari beberapa teman yang tertarik untuk ikut, namun belum bisa memastikan partisipasi mereka. Ketika personel sudah pasti, dan kami hendak membeli tiket kereta, tiba-tiba beberapa hari sebelum keberangkatan, mendadak semua tiket kereta habis. Tanda-tanda kedua. Namun, kami tetap bersikukuh. Kami tetap akan berangkat. Tidak bisa naik kereta, kami akan naik bus.

Jumat, 13 November 2015. Hari keberangkatan kami. Hujan mengguyur deras dari siang. Langit gelap dan kilat menyambar-nyambar membuat Jakarta begitu menakutkan. Belum lagi ancaman banjir dan macet. Kota ini boleh terlihat kuat dan tangguh, tetapi hujan deras, selalu saja berhasil membuatnya lumpuh.

“Na, ini kita random ya,” kata Fariz.

“Hujan deras, macet, cuma berempat doang, nggak dapat tiket kereta, ini kayak semesta menyuruh kita untuk mengurungkan niat, nggak sih?” saya mulai ragu. “Tetep berangkat, Riz?”

“Determinasi, Na. Lusa kita di puncak gunung,” jawab Fariz. “Kita tetap coba sebisa kita. Kalau memang sudah sampai sana dan nggak bisa naik, ya kita berhenti.”

Fariz dengan tas gunung besarnya datang ke kantor saya, untuk kemudian bersama menembus hujan, mencari taksi menuju Terminal Kampung Rambutan, yang kami tidak tahu di mana letaknya. Dhini meluncur dengan ojek, menggendong tas besar, melindungi diri dengan jas hujan. Caweng, berangkat dari Yogya, dengan vespa kesayangannya.

9bb104d8-8562-4543-9e58-d71bfcf52a38

Di Terminal Kampung Rambutan, kami disambut oleh calo-calo dan agen-agen yang sangat agresif.

“Ke mana Mbak?” kami dikerumuni.

“Bambangan,” kami menjawab.

“Bisa, bisa!” semua calo menjawab ‘bisa’, mencoba menggiring kami ke loket mereka masing-masing.

Tidak mengerti cara kerja terminal di Indonesia, kami memutuskan untuk mempercayai salah satu ‘agen’, membeli tiket bus yang katanya ‘lewat’ Bambangan.

Bus kami berangkat pukul 10 malam, mengarungi kemacetan kota Jakarta, dan harus diturunkan di tengah jalan, karena rupanya bus kami tidak menuju Bambangan, kami harus naik bus yang lain. Kami pasrah, sepertinya terlalu tegang dan lelah untuk mengeluh. Kami menyimpan tenaga, lebih banyak tidur untuk menghadapi Gunung Slamet di pagi hari.

*

Kami tiba di gerbang Desa Bambangan sekitar pukul 6 pagi, setelah menyusuri Kota Purwokerto yang berkabut. Turun dari bus kami mulai mempersiapkan diri untuk pendakian. Membeli air, sarapan, dan makan siang. Bersiap untuk segera berangkat. Caweng sudah sampai, menunggu kami di salah satu base camp yang tersedia.

74b32a6b-8b9f-46e9-8b16-0725def02a9b

Tanpa banyak ba-bi-bu, kami memulai perjalanan kami, menyusuri kebun bawang merah yang rupanya menjadi salah satu komoditi utama dari desa ini. Kemudian kami mulai mendaki, jalur tanah yang terus menanjak tanpa henti. Kami berhenti setiap pos peristirahatan, yang tidak seperti gunung lain yang pernah saya daki, selalu dijaga oleh warga lengkap dengan makanan dan minuman yang memanjakan kami. Semangka, gorengan, teh manis, jajanan-jajanan sederhana yang memberikan suntikan semangat, menjadi hadiah penyembuh sementara kelelahan kami.

08fff8d8-c1cd-4242-90d7-d17ff5d27e90

Sepanjang pendakian Fariz terus berkomentar, menahan geli sendiri, “Kita ngapain sih? Hujan-hujan begini itu, harusnya diam di kamar, makan mie rebus sambil nonton DVD, bukan naik gunung”.

Saya, Dhini, dan Caweng hanya bisa tersenyum, sadar atas kebenaran perkataan Fariz, namun tidak juga menyesali keputusan tidak logis yang kami ambil ini.

Kami terus mendaki hingga pos 3, hujan mengguyur, tapi kami tidak berhenti. Kami memutuskan untuk terus berjalan, supaya lekas sampai, supaya bisa beristirahat dengan lebih nyaman di tenda. Sekitar pukul 3 sore kami sampai di pos 3, mendirikan tenda, dan mulai menghangatkan diri dengan makanan perbekalan kami.

Perjalanan panjang dari Jakarta, dan Yogya untuk Caweng, serta jalur pendakian Gunung Slamet yang jarang memberikan jeda untuk beristirahat, membuat kami cukup kelelahan, dan memutuskan untuk beristirahat lebih cepat.

Pukul tiga pagi kami bangun, mempersiapkan diri untuk pendakian ke puncak. Sesering apapun kami mendaki, sebanyak apapun gunung yang telah didaki, pendakian menuju puncak tetap selalu mendebarkan. Melawan dingin, malas dan kantuk, berusaha menang atas was-was dan rasa takut, kami berempat keluar dari tenda dan memulai summit attack kami.

Konsisten dengan kecuramannya, Gunung Slamet tetap menantang kami hingga titik terakhir. Perlahan tapi pasti, dengan istirahat ‘lima menit, guys!’ yang diulang-ulang, kami terus mendaki Gunung Slamet hingga pos terakhir, di mana kami berhenti sejenak, sebelum sampai ke puncak, untuk menyaksikan terbitnya matahari.

Fariz memainkan musik dari ponselnya, ‘Here Comes the Sun’ – The Beatles, menyambut datangnya matahari pertama, 15 November 2015.

aa5f1bae-ff22-477a-a910-98ec7b7eaed5

“Bagus ya, mataharinya!” saya berkata penuh antusias, benar-benar terpana dengan semburat cahaya yang perlahan muncul, menghilangkan gelap yang sedari tadi membungkus kami dengan erat.

“Harusnya lo bisa kayak gitu setelah hari ini,” komentar Fariz, kembali mengingatkan saya akan tujuan saya naik gunung ini, yang sebelumnya sempat terlupakan, terdistraksi oleh rasa lelah, namun juga rasa nyaman sekaligus tidak nyaman yang selalu saya rasakan ketika mendaki gunung.

*

Puncak Gunung Slamet adalah salah satu medan favorit saya. Setiap pendaki pasti punya tipe medan kesukaannya masing-masing. Bisa jalur tanah, pasir, batu-batu besar, curam tapi pendek, memutar tapi landai, semua pasti memiliki preferensinya masing-masing. Saya sendiri, saya lebih suka merayap, menggunakan kaki dan tangan sebagai tumpuan di bebatuan sedang, yang tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Puncak Gunung Slamet memiliki karakteristik yang pas untuk saya.

Kami mendaki sambil menikmati hangatnya matahari, yang merambat perlahan menggantikan dingin yang sempat membuat kami menggigil. Dengan langkah-langkah ringan, dari satu batu ke batu lain, dibantu oleh tangan yang mencari-cari tumpuan yang mudah diraih, meringankan langkah kaki.

b7ec6a44-e1ab-401f-9706-1f1194847313

Sampai di puncak, kami disambut oleh kawah yang menganga dan lautan awan. Pemandangan luar biasa yang secara instan selalu bisa menghilangkan lelah, nyeri, sakit, dan menyembuhkan luka-luka yang dirasakan para pendaki. Lega dan disambut, rasanya seperti pengelana yang memutuskan untuk pulang dan kembali diterima oleh orang-orang yang disayanginya. Mungkin itu yang membuat pendaki selalu ingin kembali, membayar rindu pada gunung yang sepertinya akan abadi.

eeb399c4-59d8-4bf0-bf65-26ec1c311cb9

e921e362-9148-4346-824a-fcb8cf4821a0

Setelah melakukan ‘kewajiban’ foto-foto di puncak, kami berempat duduk memandang lautan awan di hadapan kami. Fariz kembali memutar musik dari ponselnya, ‘I Will’ – The Beatles.

“Ayo teriak sekarang!” Fariz menantang.

Saya menggeleng. Saya tidak ingin berteriak ‘LIFE SUCK!’, karena hidup indah, penuh pelajaran berharga.

Saya hanya sedih. Dan kadang, kita membutuhkan sedih untuk dapat menyadari hal-hal lain yang penting dalam hidup kita. Jadi bukannya berteriak, saya malah menangis. Tidak meraung atau terisak, tetapi menetes, terjatuh pelahan dan disambut oleh pelukan Dhini yang hangat.

Selama beberapa saat, kami berempat duduk diam tanpa kata. Sibuk dengan isi kepala masing-masing yang entah apa. Berbeda dengan gunung-gunung tinggi yang megah, yang didaki untuk menguji diri, bagi saya, Gunung Slamet memiliki keistimewaannya tersendiri. Langkah-langkah yang berat, nafas dan degup jantung yang menderu, menahan keluarnya kata dan percakapan, membuat pendakian Slamet begitu tenang dan menenangkan. Membuat suara-suara dalam diri lebih jelas terdengar dan memberi kita kesempatan untuk mengerti dan memahami.

*

Kami turun dengan kelegaan tersendiri. Rencana impulsif ini berjalan lancar sejauh ini. Kami berjalan santai namun berharap sampai tidak terlalu sore, sehingga bisa mendapatkan bus yang mengantarkan kami sampai di Jakarta di pagi hari. Kembali ke pekerjaan dan aktivitas masing-masing seolah tidak ada yang terjadi.

0f84d51c-ae03-4097-9a5b-535ad19f6662

Hujan mengguyur, jalan tanah menjadi licin, membuat kami sedikit melambat, takut terpeleset. Kami tiba di perkebunan bawang merah, gerbang Gunung Slamet dari Desa Bambangan menjelang hari gelap. Kami membersihkan diri di rumah warga yang berbaik hati mengizinkan kami menggunakan kamar mandi mereka.

Kami mengucapkan selamat tinggal kepada Caweng yang akan kembali memacu vespa kesayangannya untuk kembali ke Yogya, melanjutkan studinya. Sementara saya, Fariz, dan Dhini, menunggu dengan sabar datangnya kendaraan yang akan membawa kami kami ke Terminal Purwokerto.

Kami sampai di terminal sekitar pukul sepuluh malam. Bus-bus agen besar sudah berangkat. Yang tersisa hanya bus-bus kecil dengan kredensial yang lebih jarang terdengar. Tidak ada pilihan lain, kami memilih bus yang berangkat paling cepat.

Dengan mesin yang tersendat-sendat, dengan kecepatan yang ‘seadanya’ bus kami melaju, namun sesekali batuk-batuk dan berhenti, mengantarkan kami sampai ke Jakarta. Tidak sesuai jadwal yang kami harapkan memang, tapi kami tetap bersyukur dapat kembali ke kota kami dengan selamat.

Kami berpisah di sekitar Kali Deres, Dhini naik taksi menuju tempat tinggalnya, sementara saya dan Fariz berbagi taksi. Saya sibuk mengirimkan pesan teks kepada bos dan rekan kerja saya di kantor, mengabari saya akan datang terlambat. Sementara Fariz, bulat memutuskan tidak akan pergi ke kantor, memutuskan akan makan di restoran padang mana setelah ini.

“Somehow, after all these, I feel okay,” saya mengaku.

We stole the moment,” jawab Fariz. “Setelah semua ini, kalau nanti lo teringat hari kemarin, bukan kesedihan karena kehilangan dia yang akan lo ingat, tapi capeknya kita naik gunung, hujan-hujanan, dan semua keputusan-keputusan bodoh yang kita ambil”.

Saya tersenyum, “Thank you!”

It’s okay. That’s what friends are for,” jawab Fariz.

*

Menutup perjalanan mendaki Gunung Slamet, gunung kedua tertinggi di Pulau Jawa, saya mengirimkan sebuah pesan kepada sahabat kecil saya. Sebuah paragraf di halaman terakhir buku Maya karya Ayu Utami yang pernah disuruhnya saya membaca.

“Ada cinta di mana kita tak menyentuh. Aku bersyukur karena mengenalmu. Sebentar lagi kubiarkan suratku ini diluruh api. Seperti segala percakapan di sini. Ada kesedihan sekaligus ketakjuban melihat kata-kata begitu lekas menjelma abu. Tapi kita sama-sama tahu, yang tertulis tetap tertulis”.

Slamet menempuh hidup baru.

Doaku untukmu!

Puncak yang Sekali Saja

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian ketiga (tamat)

Malam ini, untuk mengumpulkan potongan-potongan cerita perjalanan Semeru, perjalanan yang kata Fariz memulai segalanya, saya harus meruntun arsip media sosial media saya hingga 12 bulan lalu. Ingatan saya memang kurang bisa diandalkan.

Baru saja saya mendapatkan koreksi dari Delta, yang dari dulu memang selalu awas terhadap hal-hal yang rinci. Katanya, “Ada catatan yang perlu diluruskan. Untuk bagian pertama, nama Talenta waktu itu belum ada. Talenta baru terbentuk setelah pulang, setelah Fariz menunjukkan sebuah band dangdut yang bernama Talenta 2000. Untuk bagian kedua, si Delta tidak meninggalkan sedikitpun barang di Ranu Kumbolo, karena barang bawaannya sudah sangat efektif dan efisien”. Terima kasih atas koreksinya.

Meskipun seringkali luput akan rincian kejadian, tapi pengalaman menuju Puncak Mahameru, tidak akan dapat saya lupakan. Ini adalah salah satu cobaan terberat dalam hidup saya.

Mendaki gunung berapi aktif yang masih sering memuntahkan gas beracun yang dapat membunuh manusia dengan mudah, kami harus sangat berhati-hati dalam memperkirakan waktu pendakian ke puncak. Puncak Semeru begitu ‘berbahaya’, sehingga kencang terdengar himbauan untuk tidak menjajal puncaknya.

Kami sebenarnya enggan nekat, tapi sebelum bergerak ke Kalimati, kami mendapatkan wejangan dari penjaga di Ranu Kumbolo. Katanya, “Jika sampai tengah malam tidak ada aktivitas alam yang mencurigakan, Puncak Mahameru aman untuk didaki”. Berbekal anjuran itu, kami pun semakin yakin untuk terus mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa ini.

Pukul 11 malam kami sudah mulai dibangunkan. Dinginnya Kalimati yang benar-benar menusuk tulang membuat saya yang semalaman tidur dengan gelisah bersemangat untuk bangun. Lebih baik bergerak dan beraktivitas daripada terkelungkup kedinginan di dalam tenda.

Kami berkumpul dalam rombongan besar kami, meskipun tidak semua orang memutuskan untuk berangkat. Setelah diberi penjelasan singkat dari ketua rombongan dan berdoa bersama, kami siap untuk merayap melawan gelap, memberontak terhadap dinginnya udara malam.

Ini adalah summit attack kedua saya. Yang pertama di Gunung Rinjani. Meskipun berhasil sampai ke Puncak Anjani, saat itu saya benar-benar babak belur. Baru sepertiga perjalanan saya sudah memuntahkan seluruh isi perut saya. Asam lambung saya naik karena kelelahan yang luar biasa.

Berkaca dari pengalaman tersebut, sejujurnya saya sangat takut hari itu. Saya tahu perjalanan akan berat dan Puncak Mahameru terkenal sangat garang, namun entah bagaimana, tidak sedikitpun saya merasa ragu. Saya benar-benar takut, namun sama sekali tidak ragu, seolah tidak ada pilihan lain selain maju dan menjajal Puncak Mahameru.

Menemukan ritme yang pas dan memanaskan tubuh yang sempat kaku karena kedinginan membuat langkah awal pendakian kami terasa berat. Jika terlalu lelah, gigi graham saya selalu sakit dan ngilu, nafas saya memburu, dan keringat dingin saya membanjir. Namun karena jalur sangat ramai dan padat, mental saya terkuatkan. Semua mengalami hal yang sama.

Selain menyiksa fisik, summit attack Semeru juga merupakan pertempuran mental. Pendakian terjal sejauh 976 meter seringkali membuat para pendaki menyerah di tengah jalan. Di perjalanan kami ini pun kami menjumpai banyak pendaki yang mundur, bahkan yang menyebalkannya berusaha menjatuhkan mental pendaki lain untuk ikut menyerah bersama mereka. Malam itu saya memang sangat lelah, namun entah bagaiman tidak ada sedikitpun niatan untuk mundur dan kembali ke tenda.

Setelah lewat batas vegetasi, mental saya menciut. Terlihat kelap-kelip lampu para pendaki yang sudah mengular hingga nyaris ke puncak. Semakin terlihat tingginya puncak gundul Semeru dari bawah. Sempat terbersit di kepala, “Bagaimana cara bisa sampai ke puncak sana? Tinggi sekali!”

Awal pendakian Puncak Gundul Semeru teramat sangat berat. Para pendaki diharuskan untuk merayap menggapai kerikil-kerikil dengan konsekuensi tenarnya, ‘dua-satu’, dua langkah naik, satu langkah turun. Terus seperti itu. Kepanikan mulai menjalari tubuh saya. “Begini terus sampai atas? Mau sampai puncak jam berapa? Apakah saya mampu?”

Meskipun takut dan sempat meragukan kemampuan diri, namun saya terus merayap, masih seolah-olah tidak ada pilihan lain untuk mundur dan kembali.

Tidak berapa lama, siksaan kerikil ini tiba-tiba berakhir. Tiba-tiba ada jalur mengular yang membuat para pendaki bisa berdiri tegak kembali. Sepertinya jalur ini memang sengaja dibuat untuk memudahkan para pendaki. Terpujilah bagi manusia-manusia mulia yang membuat jalur ini. Tidak hanya memudahkan, tapi jalur ini benar-benar memberikan kekuatan mental kepada para pendaki yang mungkin nyaris menyerah dan putus asa.

Tahun lalu, kami memilih mendaki Semeru di waktu yang benar-benar favorit. Seperti musim haji, sepertinya semua pendaki berbondong-bondong menjajal gunung tertinggi di Pulau Jawa ini secara bersamaan. Alhasil, terjadi kemacetan yang sangat panjang menuju puncak. Antrian manusia, di tanjakan terjal penuh kerikil, pasir, dan batu-batu.

Berdiri menunggu, di tengah malam yang dingin, beberapa kali saya sempat tertidur tanpa sengaja. Lelah dan ngantuk, kombinasi yang sangat pas. Kesal karena harus menunggu lama, lucunya, para pendaki yang di bawah bukannya marah-marah, malah memberi semangat pada pendaki yang melambat karena kelelahan di atas. “Ayo semangat, lebih cepat lagi! Pasti bisa!”

3d0bc1bb-b104-408c-ab18-16fd94fec300.jpg

Begitu kerucut puncak semakin ramping, dan jalur buatan berliku harus habis, para pendaki harus kembali merayap. Berbeda dengan summit attack Rinjani di mana langkah saya terasa begitu berat, dan saya harus bertumpu di tangan porter, pendakian menuju Puncak Semeru ini terasa jauh lebih menguatkan. Badan saya tetap lelah, sedikit-sedikit saya berhenti untuk beristirahat, namun langkah saya mantap. Tetap merayap maju, meskipun stamina sudah kedodoran dan nafas sudah putus-putus.

29c706a8-d074-48b9-99a6-0d57e5666d3b

1f115310-04bb-46f3-b3b4-bd941f38fbe7

Kesimpulan saya, summit attack itu lebih banyak faktor mental dibanding fisik. Saya rasa semua orang di titik ini sudah kehabisan tenaga, sudah kepayahan secara fisik, yang membedakan adalah apa yang ada di kepala. Jika perang antara keyakinan melawan keraguan berhasil dimenangkan oleh keyakinan, maka langkah-langkah yang berat ini akan tetap mantap. Tidak menjadi lebih ringan, tapi bisa terdorong untuk terus bergerak.

Fitri dan Kaca bergerak dengan pasti di depan saya, memberikan suntikan semangat dan motivasi. Saya tinggal memijak bekas pijakan mereka, dan saya akan baik-baik saja. Mas Basuki, Jangier, dan Delta terkadang berpapasan di sekitar saya, namun datang dan hilang. Adit dan Dhini mendapat kendala berat, membuat langkah mereka harus terhenti dan kembali ke tenda. Kris, entahlah, saya tidak berhasil melihatnya, sepertinya sudah jauh di depan sana. Terakhir, Fariz, sepertinya tempo kita tidak jauh berbeda, sepertiga rayapan terakhir saya berjalan bersamanya.

21cbd99b-d3b7-4098-88fe-aff480447079

Sepanjang jalan saya mendengar Fariz komat-kamit, seperti berdzikir. Saya mencoba mendengarkan dengan lebih seksama. Ternyata Fariz mengucapkan mantra, “This too shall pass!” sebuah kalimat sederhana, yang kemudian sering kami pergunakan untuk saling menguatkan di pendakian-pendakian kami selanjutnya.

Delapan jam mendaki, merayap, merangkak, dan akrobat gaya bebas, akhirnya kami sampai di Puncak Mahameru. LELAH LUAR BIASA. Senang dan antusias masih belum muncul, masih kalah telak dengan kelelahan yang luar biasa. Saya hanya bisa tergeletak di Puncak, mengumpulkan energi yang menguap nyaris tanpa sisa.

9c64c269-0b0e-471e-9941-8ca44e3912cd.jpg

Baru setelah dua puluh menit, saya bisa bangkit, dan mulai tersadarkan akan keindahan luar biasa yang membayar lunas semua perjalanan penuh peluh dan rasa sakit. Berdiri di kelilingi awan, seperti menyentuh langit biru. Ini sensasi yang dicari. Perasaan takjub dan terpukau seperti inilah yang membuat gunung selalu membuat rindu.

Kami menghabiskan waktu dengan berkeliling, mengagumi atap pulau Jawa ini, dan mengabadikannya dengan foto-foto yang akan menjadi kenangan berharga.

f5c6ec5b-b8fb-4df9-a12c-dc2aece99811

Meskipun rasanya luar biasa ketika kaki dan tubuh ini menyentuh puncak, tapi rasanya kami tidak sanggup untuk mengulanginya. Kami sepakat bahwa, Mahameru adalah puncak yang sekali saja seumur hidup. Tidak perlu diulang. Ini puncak yang keterlaluan.

*

Semeru adalah pengalaman yang luar biasa. Pendakian ini adalah momentum berharga yang menjadi awal dari segalanya.

Satu hal yang begitu saya suka dari mendaki adalah proses keterhubungan antara para pendakinya. Orang-orang yang tadinya belum saling mengenal bisa mendadak jadi akrab, seperti kakak adik yang bertemu kembali setelah lama terpisahkan. Seperti sahabat yang sudah lama saling merindukan.

Sepanjang perjalanan naik dan turun, saya belajar dan menyerap banyak hal. Saya mendapatkan teman dan sahabat baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Saya mengenal lebih dalam karakter teman dan sahabat saya yang mungkin saya pikir sudah saya pahami sebelumnya. Saya mendapat segudang cerita yang begitu berharga, yang pastinya akan terus saya ulang hingga ke anak cucu saya. Dan yang terpenting, saya belajar untuk semakin mengenal dan yakin pada diri saya.

Sampai detik ini, Talenta yang lahir dari perjalanan Semeru di tahun lalu masih tetap ada. Meskipun tidak lengkap selalu bersama, tetapi dalam setahun ini kami sudah melakukan ekspedisi-ekspedisi lanjutan yang tidak kalah seru dan penuh cerita. Tidak hanya gunung, kami juga mencoba mengeksplorasi pantai, taman, air terjun, bahkan konser musik di berbagai kota.

84d3483a-f46f-41d1-a600-876004dc60f8

Genap setahun Semeru kita, jangan biarkan rindu ini menggantung terlalu lama. Ayo, Kerinci kita!

[Tamat]

Halo, Semeru!

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian kedua

Tepat pukul 15.15 kereta kami berangkat. Bergerak menjauhi Stasiun Pasar Senen. Meninggalkan Mas Basuki yang pastinya kesal dan kecewa. Meskipun sering mengomel karena metode transportasi di negeri ini sering terlambat dan tidak tepat waktu, namun kali ini ada rasa sesal, mengapa ketika butuh waktu, kereta ini berangkat dengan sangat tepat waktu.

“Mas Basuki nggak bisa naik!” seru saya.

Teman-teman yang sudah berada lebih dahulu di dalam kereta menatap dengan iba, tapi tidak berdaya, tidak tahu apa yang bisa diperbuat.

Saya kembali gelisah, tapi kali ini bukan panik, tapi lebih banyak dipenuhi oleh rasa bersalah.

Saya dan Kaca mulai saling melontar ide, bagaimana cara menebus kesalahan kami. Meminta Haru mengantar Mas Basuki ke Stasiun Gambir, mungkin ada tiket yang batal. Atau Stasiun Bekasi, atau mungkin Stasiun Cirebon. Tapi sebenarnya kita tahu kalau ide itu tidak mungkin, karena kami berangkat di waktu yang cukup ramai. Tiket kereta sudah lama habis. Terakhir, kami mencoba mengecek tiket pesawat terbang, dan ADA! Masih ada tiket perjalanan dari Halim Perdana Kusuma ke Malang. Mas Basuki bisa berangkat!

Saya pun menelpon Mas Basuki, “Mas Bas, naik pesawat saja ya! Ini masih ada tiket ke Malang, berangkat besok subuh. Sampainya tidak terlalu jauh jaraknya sama kereta kita”.

“Nggak usah, Na! Saya pulang saja,” tolak Mas Basuki. Mungkin masih kesal dan kecewa.

“Jangan dong, Mas. Aku sama Kaca nggak enak banget. Kita pesenin sekarang ya tiketnya!” saya merayu, tidak ingin mendaki Semeru dengan perasaan bersalah.

“Nggak usah, Na!” Mas Basuki kembali menolak.

Upaya rayu merayu seperti ini terus berlangsung kurang lebih satu jam, di mana saya sempat merayu lewat Haru, Kaca ikut merayu Mas Basuki, sampai mungkin karena muak dengan kami yang terus memaksa, Mas Basuki sempat memutus sambungan telepon tanpa permisi saat kami masih sibuk merayu dan memaksa.

Setelah kurang lebih satu jam, mungkin karena tahu kami tidak akan menyerah sebelum keinginan kami terwujud, akhirnya Mas Basuki pasrah, dan bersedia pergi ke Malang dengan menggunakan pesawat terbang besok subuh. Kami lega. Kami bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah.

Di perjalanan berangkat, setelah lepas dari drama ketinggalan kereta, rombongan kami cenderung diam. Saya teringat wajah-wajah canggung Fariz, Delta, dan Jangier di kursi belakang yang masih belum saling mengenal. Sementara saya, Fitri, dan Kaca sibuk membagi-bagi logistik ke dalam kresek-kresek putih, seperti jatah sembako.

5e773c92-a17d-4cd4-9784-6bae6ef4b795

Tidak banyak yang saya ingat dari perjalanan kereta keberangkatan kami. Hanya potongan-potongan tak beraturan. Saya ingat berdiskusi panjang dengan Kaca tentang proposal “Kartini Modern” yang akan kami kirimkan dengan harapan dapat mendapat bantuan dana untuk membiayai organisasi non-for-profit yang sedang kami rintis. Saya juga teringat Fariz yang sibuk membuat flowchart di atas entah secarik kertas atau selembar tisu. Saya teringat tas Delta yang fenomenal karena begitu kecil, kami menyebutnya Black Hole. Kurang lebih itu. Ingatan saya memang kurang bagus, apalagi terhadap hal-hal yang rinci.

Setibanya di Stasiun Malang, saya teringat mendapatkan pesan singkat dari Mas Basuki, “Saya sudah sampai. Sedang bergerak menuju meeting point, di seberang stasiun”.

Saya lega bukan main.

Kami, dengan tas-tas besar kami siap bertemu rombongan besar kami, dan memulai perjalanan pendakian kami.

b1752a95-2c0a-4643-85ab-63079ee3e4e5

Rombongan besar kami dipimpin oleh pemuda-pemuda dari komunitas Si Hijau dari Bogor. Ketuanya bernama Mas Teguh, berbadan ramping, seperti layaknya pendaki-pendaki pada umumnya. Ia dibantu beberapa rekannya. Selain rombongan kami, ada beberapa rombongan lain, ada sekelompok ibu-ibu dari Surabaya, sepasang ayah dan anak, dan rombongan muda-mudi lainnya. Total ada 30 orang dalam rombongan besar kami.

Setelah berkumpul dan diberi pengarahan di seberang stasiun, kami mulai perjalanan dengan angkot yang telah disewa. Tas-tas besar kami diikat di atas angkot, dan kami duduk berdesakan dengan riang di dalamnya. Kami semua tersenyum senang, begitu antusias ingin segera memulai pendakian kami.

1a8629c3-feee-4b02-b154-b0ab05b03ce6

Kami tiba di Pasar Tumpang. Kami harus berganti mobil, karena jalanan akan mulai terjal dan berliku. Angkot tidak akan sanggup menjalani rute tersebut. Kami memanfaatkan pemberhentian ini untuk belanja air minum dan keperluan logistik yang belum lengkap. Kami juga memanfaatkan peristirahatan pertama ini untuk buang air ‘secara layak’ untuk terakhir kalinya sebelum pendakian dimulai.

Persinggahan yang harusnya singkat, ternyata harus kami jalani lebih lama. Siang itu hujan deras mengguyur. Kami tidak bisa segera bergerak. Kami harus menunggu di bawah terpal selama kurang lebih 4 jam, sampai hujan benar-benar reda. Ketua rombongan kami akhirnya harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan, “Sepertinya kita harus melakukan pendakian malam”.

Pendakian malam, saya belum pernah melakukannya. Sebagai pendaki pemula, sebelumnya saya selalu mendaki di siang hari, dengan hanya membawa daypack, dan selalu dituntun oleh porter. Kabar ini sedikit membuat saya berdebar. Saya harus melakukan pendakian tanpa porter, dengan membawa carrier saya sendiri, dan di malam hari. Apakah saya bisa? Saya melihat Kaca, Fitri, Dhini, dan teman-teman saya yang lain. Saya juga melihat anggota rombongan yang lain. Kalau mereka bisa, saya juga pasti bisa. Saya pun menanamkan sugesti di kepala saya, bahwa saya akan baik-baik saja.

Sembari menunggu hujan reda, kami mengisi waktu dengan berbincang-bincang. Saya ingat saya dan Fitri mengungkit-ungkit kemampuan Fariz untuk melihat setan dan makhluk halus yang kami ketahui ketika kuliah dulu. Fariz kemudian mengatakan bahwa Delta juga memiliki potensi yang sama, namun belum terasah. Kami juga saling berbagi cerita tentang suka-duka pengalaman mendaki kami yang sebelumnya. Bagaimana Dhini pernah terjebak badai pasir di Gunung Dempo, bagaimana Mas Basuki pernah kehabisan air di Gunung Rinjani, dan lain sebagainya. Meskipun tidak berjalan sesuai jadwal dan kemudian mengharuskan kami mulai mendaki di malam hari, namun menunggu hujan reda ini berbuah cukup manis. Rombongan kecil kami menjadi lebih akrab, bahkan sebelum pendakian dimulai.

Setelah hujan reda, kami harus mulai bergerak menaiki mobil jeep, bersiap memulai perjalanan berliku kami menuju Ranu Pane, titik awal pendakian kami. Kami naik mobil jeep berwarna kuning. Delta dan Mas Basuki duduk di depan, di samping supir yang sangar tapi baik hati. Saya, Fitri, Kaca, Dhini, Kris dan Fariz, berimpitan di kursi belakang, berpegangan sedemikian rupa, berusaha menahan mual karena jalan yang berkelok-kelok. Jangier dan Adit harus duduk di atap, menantang angin dan menerobos ranting-ranting yang melintang.

4134b0e2-9a5d-4dca-bbdd-27ae213f0fb4

ab93dcc7-b36d-4aac-8836-687174857783

Dari perjalanan di mobil jeep kuning ini kami akhirnya tahu kalau Adit adalah seorang psikolog dan mungkin pengalaman menghabiskan waktu berdua di atap mobil dengan Jangier akan sangat bermanfaat mengingat yang kami tahu, teman kami yang bernama Jangier ini sangat identik dengan kondisi emosional bernama ‘galau’.

Hari sudah mulai gelap ketika kami tiba di Ranu Pane. Jalan tanah setapak yang akan kami lalui juga becek, sisa hujan deras yang baru saja mengguyur. Agaknya pendakian kami akan dimulai dengan kondisi yang cukup menantang.

edad7ab4-5f57-40a0-9b49-cf900bf9a68c

Kami mulai bersiap-siap. Merapikan isi tas kami, mengeluarkan headlamp dan peralatan pendakian penting lainnya, bersiap memulai perjalanan. Setelah berdoa bersama, kami pun mulai berjalan menyusuri jalan setapak, dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo.

Antusiasme dan kesukacitaan saya berkahir ketika carrier biru saya mulai saya cangklongkan di bahu dan punggung. BERAT. Begitu bahu dan punggung saya bersentuhan dengan tas, terasa sesuatu yang tidak wajar menjalar di urat saraf saya, seperti kesemutan. Bahu saya meronta gemetaran. Keringat dingin saya mulai keluar, asam lambung saya naik, saya pun menjadi pucat pasi.

Sempat terpikir untuk berperilaku manja, meminta beban dibagi atau bahkan dibawakan. Tapi ke siapa? Saya tahu semua teman saya membawa beban yang sama kalau tidak lebih berat dari saya. Tidak ada porter yang bisa dimintai pertolongan. Saya harus kuat. Tidak ada pilihan lain. Dengan modal tekad dan nekat, saya pun merayu diri saya sendiri, meyakinkan kalau saya pasti bisa.

Hal semacam inilah yang paling saya sukai dari mendaki gunung. Pendakian dengan segala keajaibannya seringkali harus memaksa diri saya untuk melebarkan batas kemampuan diri. Dari yang tadinya tidak bisa, menjadi harus bisa. Dan ketika batas itu sudah melar dan melebar, tidak ada opsi untuk kembali menyusut. Tidak ada kata pernah bisa. Jadinya saya akan menjadi sangat berbahagia, karena akhirnya bisa mengalahkan diri saya dan batasan-batasan yang saya buat sendiri.

*

Ada untungnya perjalanan kami dilakukan di malam hari. Gelap membuat kami tidak sempat mengeluh, takut membuat kami gigih, ingin cepat sampai. Pendakian jalur menanjak, meskipun menguras stamina, tidak terlalu membebani saya. Begitu Ranu Kumbolo tampak, dan kami harus berjalan di turunan, tas besar dan berat saya kembali menyiksa. Menekan-nekan tulang, membakar bahu saya. Perih dan sangat menyakitkan.

Begitu sampai di area perkemahan, saya membuang jatuh tas besar saya di tanah. Menggeletakan diri saya di rerumputan, dan menangis karena kesakitan. Ini kali pertama saya menangis dalam pendakian.

Kaca, Dhini, dan Fitri tampak begitu khawatir, menawarkan berbagai solusi supaya besok saya tidak perlu membawa beban yang terlalu berat. Teman-teman yang lain sepertinya enggan mengusik saya yang sedang kesal dan kesakitan.

Tergeletak di atas rumput, menangis sambil memandang langit, rasa kesal dan sakit saya dengan begitu mudah menguap. Langit malam penuh bintang, dengan semburat kabut putih milky way, menjadi obat yang sangat mujarab. Keindahan seperti inilah yang membuat saya bersedia berlelah-lelah, bersakit-sakit, membuang kenyamanan kota, dan menyeret diri saya ke sini. Tidak ada yang memaksa. Ini panggilan dan saya harus bertanggung jawab penuh terhadapnya.

e19ef18f-7df6-47cf-beaa-f83423a0af76

Keesokan paginya, kami baru dapat menyaksikan kecantikan legendaris danau kesayangan para pendaki di Indonesia ini. Ranu Kumbolo, danau luas diapit bukit-bukit, dengan hamparan padang rumput yang luas, sangat nyaman dan hangat untuk mendirikan perkemahan. Pantulan bayangan di danau dan warna-warni tenda para pendaki membuat kami tersenyum dan mengangguk, paham mengapa danau ini begitu harum ternama.

40a1e252-5bba-4a79-9def-508fb2ef2448

Pagi ini jadwalnya kami harus mengemas tenda dan tas-tas besar kami. Meskipun sudah berdamai dengan kekesalan dan rasa sakit, tidak berarti saya menyerah kalah. Saya tetap mencari cara agar saya tidak perlu merasakan sakit-sakit ini lagi. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang dengan ketua rombongan, akhirnya kami sepakat untuk menitipkan sebagian makanan dan barang-barang yang tidak terpakai di perjalanan ke Kalimati dan Puncak Mahameru ke penjaga Ranu Kumbolo. Toh, nanti kita akan kembali lagi ke sini. Dan ternyata setelah dikumpulkan perbekalan logistik kami itu begitu mewah. Kami bisa membuka toko kelontong di sini. Tuna kaleng, sarden, beras 5 kilo lebih, pantas saja tas kami begitu berat seolah membawa bata atau baja.

Meninggalkan barang-barang yang tidak perlu, akhirnya saya bisa melenggang hanya dengan membawa daypack saja. Alhamdulillah. Mood saya kembali membaik. Strategi serupa juga dilakukan oleh teman-teman saya. Fariz dan Delta meninggalkan sebagian besar barang bawaan mereka, Mas Basuki dan Jangier meninggalkan satu carrier mereka dan bergantian membawa carrier yang tersisa. Hanya Kris sepertinya yang tetap tangguh membawa beban berat di dua tasnya.

c3db2db2-16fa-4371-aa98-bbdd28d8aa67

Melakukan pendakian di siang hari, meskipun terik matahari membakar kulit dan menguapkan air, sehingga membuat kami cepat haus, tetap jauh lebih menarik ketimbang pendakian malam yang gelap. Dari Ranu Kumbolo, kami harus mendaki Tanjakan Cinta, yang konon jika seseorang berhasil mendakinya tanpa menengok ke belakang, maka orang tersebut akan mendapatkan cinta yang diidam-idamkannya.

Setelah Tanjakan Cinta, kami disambut oleh padang lavender di Oro-Oro Ombo. Sayangnya bunga-bunga ungu cantik ini belum mekar dengan sempurna saat kami ke sana, tapi tetap saja menarik bagi kami, anak-anak kota yang jarang melihat padang rumput kekuningan ini.

dcce3683-fce7-4e12-98f3-177d01cd45be

53bdd83f-c28f-4884-b742-e22f18b31ddd

Kami beristirahat sebentar di Oro-Oro Ombo. Rombongan kecil kami sudah terpisah dari rombongan besar. Memang sulit menjaga agar rombongan 30 orang bisa terus berjalan beriringan. Tempo berjalan orang-orang tidak bisa disergamkan. Itulah sebabnya, saya selalu lebih nyaman mendaki dalam kelompok kecil. Empat orang adalah angka yang bagi saya paling ideal.

Di rombongan kecil kami, Kris selalu berjalan paling depan. Dengan ucapan khasnya, “Saya duluan ya. Mau masak air!” Kris yang memang lebih nyaman sendirian, selalu memilih untuk bergerak lebih dahulu. Nanti ketika sudah sampai tempat peristirahatan atau perkemahan, dia akan dengan sigap menyiapkan minuman hangat buat kami yang datang belakangan. Kris yang tidak makan nasi bahkan rela membawa beras yang berat di tasnya, dan memasakannya untuk kami. Sikap Kris yang acuh dan dingin, tapi sebenarnya selfless dan manis inilah yang membuat saya selalu ingin mendaki bersamanya. Tapi sepertinya visi mendaki kami cukup berbeda. Kris hanya tertarik pada gunung-gunung tinggi saja.

Berbeda dengan Ranu Kumbolo yang hangat dikelilingi bukit dan danau, Kalimati sangat dingin. Jam empat sore angin dingin sudah rebut menerpa tenda-tenda kami, membuat kami enggan bercengkrama dan mengobrol di luar tenda. Lagi pula sangat penting bagi kami untuk menyiapkan diri menyambut summit attack. Konon katanya puncak Mahameru adalah salah satu puncak yang terdahsyat di Indonesia.

Kami tidur cepat, mempersiapkan diri untuk pengalaman yang bisa dibilang, ‘CUKUP SEKALI SAJA SEUMUR HIDUP!’

[Bersambung]

Sebuah Sore di Stasiun Pasar Senen

Pendakian Semeru, Mei 2015 bagian pertama

Pagi ini, seorang teman, Fariz namanya, mengirimkan sebuah pesan, “Sudah setahun, Si Semeru. Trip yang memulai segalanya”.

Saya yang baru bangun tidur, belum sadar benar, hanya menjawab seadanya. Namun, tidak bisa tidak, pikiran saya kemudian berjalan-jalan mengunjungi rincian kejadian yang terjadi di bulan Mei setahun yang lalu. Saya teringat wajah-wajah yang dulu masih asing, kini menjadi akrab, dan sahabat-sahabat yang dulu dekat, kini semakin berjarak.

Perjalanan ke Puncak sakral tertinggi di Tanah Jawa, mulai kami rencanakan Maret tahun lalu. Saat itu, saya, Fitri, dan Kris, yang setelah menjajal Puncak Anjani, menjadi terobsesi untuk mencicipi gunung-gunung api tinggi lain di Indonesia, memutuskan untuk mendaki Semeru. Kami mulai mengumpulkan massa. Saya mengajak, Kaca, sahabat saya yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan daki mendaki. Kaca kemudian mengajak Haru dan menyarankan kita untuk mengikuti open trip, biar tidak usah repot. Kris kemudian mengajak Dhini, teman kantornya, dan Dhini kemudian mengajak Adit, juga teman kantornya. Masih ada kuota yang dimiliki oleh penyelenggara open trip, saya pun mengajak Delta, sahabat kecil saya. Dan terakhir, saya mengajak Jangier, teman kuliah saya yang kemudian mengajak Fariz, juga teman kuliah kami.

Lengkap. Saya, Fitri, Kris, Kaca, Haru, Dhini, Adit, Delta, Jangier, dan Fariz, sepuluh orang yang akan berangkat bersama, dengan status yang beragam, sahabat, teman, dan temannya teman. Bagi saya, membentuk tim pendakian dalam jumlah besar itu butuh seni, strategi dan intuisi. Mungkin sama rumitnya seperti membentuk pasukan dalam perang. Meskipun terbuka dan selalu berusaha menerima siapa saja yang ingin bergabung dalam setiap perjalanan saya, namun untuk urusan mendaki, diam-diam saya selalu waspada dan hati-hati dalam menyusun tim pendakian saya. Saya tidak ingin terjadi masalah-masalah yang tidak perlu, hanya karena ada karakter yang tidak cocok. Saya ingin semuanya bisa menikmati perjalanan dengan hati senang dan saling membantu serta melindungi hingga kembali ke rumah masing-masing.

Susunan tim ini, yang kemudian kita beri nama Talenta 2000, menurut saya sudah cukup pas. Tidak benar-benar seragam, sedikit memiliki potensi terjadi konflik, tapi secara intuisi, saya rasa akan membuat perjalanan lebih berwarna.

Kami semua benar-benar antusias dengan perjalanan ini. Dari jauh-jauh hari kami mulai membeli tiket kereta, membeli dan menyewa peralatan pendakian, membagi tugas belanja keperluan logistik, bahkan sebagian dari kami mulai melakukan pendakian ‘pemanasan’ di Gunung Manglayang. Kami benar-benar berusaha untuk siap, walaupun kami tahu, di depan akan ada kejutan dan hal-hal yang tidak terduga.

6e5d2497-2e77-4fd1-aee7-c40d3ef58ae4

66d09376-a601-43f2-a9c0-5d4d0d25a15d

Kejutan pertama dimulai ketika Haru tiba-tiba tidak bisa berangkat. Mendadak ia diminta bosnya untuk pergi ke suatu tempat di hari perjalanan kami. Tiket kereta sudah terlanjur dibeli, pembayaran open trip sudah terlanjur dilunasi. Karena sayang, akhirnya kami berusaha mencari pengganti Haru.

Saya teringat Mas Basuki, teman sekantor saya dulu, seorang fotografer yang dulu pernah saya dengar mengeluh, “Saya bosan memotret makanan dan pesta-pesta melulu. Saya lebih suka memotret yang hijau-hijau”. Saya juga teringat ceritanya kehabisan air di Gunung Rinjani. Sepertinya Mas Basuki akan genap melengkapi pasukan Talenta 2000. Langsung saja saya tanya. Dan tanpa ba bi bu, dia menyatakan bersedia.

Tim kami kembali lengkap. Sepuluh orang. Saya, Fitri, Kris, Kaca, Dhini, Adit, Delta, Jangier, Fariz, dan Mas Basuki.

Di Hari-H keberangkatan, 12 Mei 2015, kehebohan terjadi. Saya dan Kaca hampir tidak berangkat karena terlambat. Ceritanya begini, Kaca yang tinggal di Tebet, diantar Haru akan menjemput saya di Setiabudi dan bersama-sama akan pergi ke Stasiun Pasar Senen. Kereta kami berangkat pukul 15.15.

Saya sudah bersiap dari pukul 12 siang, duduk menunggu di pelataran Setiabudi One, jejeran pertokoan yang selalu saya sebut sebagai ruang tamu saya. Kaca bilang akan segera berangkat. Namun karena dia harus meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, banyak yang harus ia cek. Jadinya ia sedikit terlambat keluar dari rumah. Rupanya macet. Di mana-mana macet. Kaca dan Haru terjebak tidak bergerak di ruas-ruas jalan ibu kota. Saya mulai gelisah.

Pukul 2 siang, Kaca mengirim pesan, “Kamu berangkat duluan saja, masih macet. Daripada kita berdua tidak berangkat, lebih baik kamu berangkat duluan”.

Dengan berat hati, saya pun memanggil taksi. Berangkat lebih dulu, berdoa semoga semua lancar dan semua bisa berangkat sesuai rencana. Teman-teman yang lain sudah siap sedia di Stasiun Pasar Senen, membombardir kami dengan telepon dan pesan, “Kalian di mana?”

Di Taksi, Jalan Kuningan yang tadinya sepi, tiba-tiba padat ketika bergerak ke arah Menteng. Pukul 14.30 saya mengirim teks kepada Kaca, “Menteng macet. Saya terjebak di sini”. Kaca membalas dengan, “Saya lewat Diponegoro dan lancar. Coba ubah arah”.

9fa24b23-fe99-4346-81c4-eaa9cbfe522e

Saya melihat kiri kanan. Berhenti, satu arah, tidak ada ruang untuk bergerak, apalagi memutar arah. Saya panik. Tanpa banyak berpikir, saya memutuskan untuk keluar dari taksi dan berusaha mencari ojek. Dengan menggendong carrier 50 liter saya, saya berjalan menyusuri perumahan elit Menteng, mencari ojek yang ternyata langka di sana. Tidak ada satu pun. Saya panik, tidak tahu harus berjalan sampai mana, tidak tahu kapan harus memutuskan untuk menyerah.

Tiba-tiba di depan saya ada seorang pemuda bermotor, berhenti seperti menunggu saya.

Begitu saya berjalan mendekat, dia menegur saya, “Mbak, ini tadi jamnya jatuh,” serunya sambil menyodorkan jam tangan saya, yang bahkan tidak saya sadari tadi sempat terjatuh.

“Terima kasih!” seru saya, sebenarnya sudah tidak terlalu peduli dengan keberadaan jam tangan saya. Namun tiba-tiba, entah dari mana, tanpa saya sadari, tanpa berpikir panjang, saya dengan tidak tahu malu, tanpa gengsi, tanpa rasa takut ataupun waspada, meminta pertolongan pemuda tidak dikenal tersebut, “Mas, boleh minta tolong antarkan saya ke Stasiun Pasar Senen?”

Mungkin ketika itu, saya yang sudah sangat putus asa, menganggap bahwa pemuda itu adalah bantuan yang dikirimkan oleh Tuhan, sehingga alam bawah sadar saya menyuruh saya untuk berjudi, melihat peruntungan saya, apakah saya tetap akan bisa berangkat jika mencoba memanfaatkan pertolongan Tuhan ini.

Pemuda tersebut terlihat terkejut dengan permintaan saya. Namun mungkin karena wajah saya yang terlihat sangat panik dan melas, akhirnya ia meluluskan permintaan saya. Saat itu, kalau tidak salah sudah menunjukkan pukul 14.45.

“Mbak suka naik gunung juga?” tanya pemuda itu basa-basi.

“Iya Mas, ini saya mau ke Semeru. Kereta jam tiga seperempat, Mas”.

Pemuda itu melihat jam tangannya. “Wah!” katanya terkejut, karena keberangkatan saya sudah sangat mepet. Ia pun memacu motornya.

Saya yang biasanya selalu senang diajak berbicara, mungkin karena terlalu panik, menjadi sangat pendiam. Saya sibuk membalas pesan teman-teman saya yang sudah panik menunggu di stasiun.

Lima menit sebelum keberangkatan kereta kami, saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Saya hendak berterima kasih kepada pemuda yang mengantar saya dengan memberikan uang dan mencatat nomor teleponnya, namun ia berseru ikut panik, “Sudah Mbak, tidak usah! Cepat lari saja, nanti keburu berangkat keretanya!”

Saya pun berlari, dengan perasaan bersalah karena tidak sempat memberikan ucapan terima kasih yang pantas dan perasaan menyesal karena sampai detik ini saya tidak tahu siapa pemuda pertolongan Tuhan tersebut. Saya hanya berharap kebaikan pemuda ini akan diberi balasan yang berlipat-lipat ganda.

Stasiun Pasar Senen hari itu sudah sangat ramai. Saya yang tidak atletis ini benar-benar harus berlari sekuat tenaga, dengan memikul tas yang beratnya lumayan, menembus kerumunan orang yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing.

Mas Basuki menunggui saya di depan kerumunan orang, mengarahkan saya ke pintu masuk. Saya ingat petugas sempat berteriak, “Ini, ini temannya! Kasih jalan, kasih jalan!”

Saya merasa seperti Nabi Musa tanpa tongkat. Kerumunan orang yang berdesakan di depan pintu masuk, karena mandat dari petugas tiba-tiba terbelah dan saya bisa berlari masuk tanpa halangan. Kaca sudah berada di dalam, teman-teman yang lain celingak-celinguk dari gerbong kereta.

Saya merasa kerusuhan hari ini sudah selesai sampai tiba-tiba Mas Basuki berseru, “KTP saya mana?”

KTP! KTP di sini maksudnya KTP Haru, orang yang digantikan Mas Basuki. Saya mencari Kaca, “Ca, KTP Haru!”

Kaca panik, dengan lemas dia berseru, “Lupa!”

Saya ikut lemas. Saya kehilangan kata. Saya melihat wajah Mas Basuki yang tidak bisa masuk, begitu kecewa dan kesal. Saya mengutuki diri saya sendiri.

“Ayo-ayo masuk!” petugas menggiring saya dan Kaca masuk ke gerbong, meninggalkan Mas Basuki dengan kekecewaannya di stasiun.

[Bersambung]